Nursidah Butuh ‘Uluran Tangan’, Terbaring Sakit di Rumah Tanpa Biaya

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 478

Nursidah Butuh ‘Uluran Tangan’, Terbaring Sakit di Rumah Tanpa Biaya
TERBARING SAKIT – Nursidah, wanita 70 tahun, yang hanya bisa terbaring di rumahnya saat dijenguk anak dan tetangga. Nursidah menjadi potret warga miskin di Melawi yang belum mendapat layanan BPJS gratis dari pemerintah. (SP/Eko)
Agus, Putra Nursidah
“Sampai sekarang belum diketahui penyakit apa yang diderita Ibu. Karena semenjak sakit, sampai sekarang belum pernah dibawa ke dokter atau ke rumah sakit untuk diperiksa,”

NANGA PINOH, SP – Seorang wanita berusia 70 tahun, Nursidah, warga Dusun Nusa Indah, Desa Kenual, Nanga Pinoh, Melawi, terpaksa menahan sakit dengan hanya berbaring di rumah kayunya akibat kemiskinan mendera. 

Ketiadaan biaya menjadi alasan ia tak pergi ke dokter atau rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Apalagi ia juga tak memiliki kartu Indonesia Sehat maupun BPJS.

Agus, anak sulung Nursidah, mengungkapkan orangtuanya menderita sakit sudah kurang lebih satu bulan. Akibatnya, selama itu pula ibunya tidak makan.

“Sampai sekarang belum diketahui penyakit apa yang diderita Ibu. Karena semenjak sakit, sampai sekarang belum pernah dibawa ke dokter atau ke rumah sakit untuk diperiksa,” kata Agus saat Suara Pemred berkunjung ke rumah kecil mereka, Rabu (24/1).

Agus sehar-hari bekerja di pasar sebagai buruh. Maka untuk membawa ibunya ke rumah sakit, ketiadaan biaya menjadi kendala paling utama. Bahkan untuk makan sehari saja dia mengaku sulit.

“Sebagai anak, saya juga ingin membawa ibu kerumah sakit. Tapi apalah daya, kondisi ekonomi saya juga sama-sama sulit,” tuturnya.

Yang membuat Agus tambah prihatin, hingga saat ini ibunya tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah, baik bantuan beras miskin (Raskin), bantuan langsung tunai (BLT) maupun BPJS gratis yang diprogramkan oleh pemerintah.

“Hanya rumah ibu ini, dulunya dibantu oleh Dinas Sosial melalui program bedah rumah pada beberapa tahun yang lalu,” ucapnya.

Lantaran tidak mendapatkan BPJS gratis itulah ibunya yang sedang sakit parah tersebut tidak pernah dibawa berobat ke rumah sakit. Sebagai anak, Agus juga sudah menanyakan apakah ibunya termasuk masuk dalam daftar penerima BPJS gratis ke kepala dusun, tapi setelah dicek nama ibunya tidak masuk dalam daftar penerima BPJS tersebut.

“Ini yang aneh dan membuat kami bingung, ibu kami yang sudah tua ini bisa tidak masuk dalam daftar penerima BPJS,” ujarnya.

Dia berharap kepada pemerintah supaya peduli terhadap masyarakat miskin. Kalau memang ada program bantuan untuk warga miskin, diharapkan tepat sasaran, jangan sampai orang yang benar-benar hidup susah tidak mendapatkan program tersebut.

“Malah rasanya terkadang, orang yang tergolong mampu malah dapat,” keluhnya.

Samsudin, tetangga Nursidah mengatakan, dirinya hampir tiap malam berkunjung ke rumah tetangganya tersebut. Sebagai tetangga dia juga prihatin dan kasihan melihat Nursidah sedang terbaring sakit. Apalagi belum dibawa berobat atau periksa ke dokter.

Menurut Samsudin, di daerah tersebut memang banyak yang tidak mendapatkan BPJS gratis, termasuk dia dan orangtuanya.

“Kalaupun yang ada BPJS, itu mereka yang mampu membayarnya, karena tidak dapat BPJS gratis.  Bagi yang tidak mampu seperti kami ini tidak bisa memiliki BPJS,”  ujarnya.

Tokoh Masyarakat Kenual, Rusli mengkritisi pendataan BPJS karena ada orang yang mampu dapat, sedangkan orang yang tergolong tidak mampu atau miskin yang seharusnya layak mendapatkan BPJS gratis tersebut malah tidak dapat.

“Contohnya ibu Nursidah ini. Kita bisa ngomong apa, ibu yang miskin ini, yang layak dapat BPJS pembagian secara gratis malah tidak dapat, sehingga saat sakitpun tidak bisa berobat karena tidak ada biaya,” ungkapnya.

Menurut Rusli seandainya Nursidah mendapat BPJS gratis, tentu keluarganya sudah bisa membawa anggota keluarganya yang sakit tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.

“Saya berharap kepada pemerintah, kalau ada program untuk masyarakat miskin, didatalah benar-benar sesuai kondisi riil dilapangan, sehingga tidak salah sasaran,”  ujarnya.

Segera Bawa ke RSUD Melawi


Saat dikonfirmasi terkait penanganan pasien yang tidak mampu tersebut, Direktur RSUD Melawi, Sien Setiawan mengatakan pasien yang tidak mampu seperti Nenek Nursidah tersebut bisa ditangani di RSUD Melawi.

“Bisa, bawa saja ke RSUD,  setelah itu baru urus surat keterangan tidak mampu ke Dinas Sosial,” ucapnya.

Terkait penyakit pasien yang belum diketahui karena belum pernah dibawa berobat oleh keluarganya tersebut. Sien menyampaikan, yang penting pasiennya dibawa dulu ke RSUD Melawi. “Masukan saja ke RSUD, kita rawat dulu,” ujarnya. (eko/ang)

Komentar