Kamis, 19 September 2019


Menghidupkan Kembali Japin Melayu (Bagian Satu)

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 489
Menghidupkan Kembali Japin Melayu (Bagian Satu)

JAPIN – Antong dan Rahman tampak menari japin saat penutupan Festival Jepin di Desa Ella Hulu, Menukung, Minggu (4/3). Japin tradisional yang kini mulai hilang coba dihidupkan kembali oleh Sanggar Tudong Sanji dengan menggelar festival. (SP/Eko)

Antong dan Rahman, Kakak-adik yang Jago Berjapin


Gerakan tubuh dua kakak-beradik, Antong dan Rahman  masih begitu luwes. Hentakan kaki mereka saling bertalu dengan musik gambus dan gendang yang menggunakan pelantang suara, malam itu. Keduanya sedang membawakan japin tradisional, sebuah seni tari yang nyaris hilang di masa kini.

SP - Penampilan mereka disaksikan ratusan penonton yang hadir dalam Festival Japin yang digelar Sanggar Tudong Saji, di Desa Ella Hulu, Kecamatan Menukung sejak dua pekan lalu dan baru ditutup Minggu (4/3) kemarin. Kegiatan budaya ini membuka kembali memori budaya tradisional khas melayu yang kini hampir hilang ditelan zaman.

Antong dan Rahman memang sudah tak lagi muda. Usia keduanya sudah di atas 50 tahun. Walau demikian, semangat dan ingatan mereka masih setia, langkah-langkah kaki keduanya tetap sama kompak mengikuti hentakan gendang dan petikan gambus pengiring. 

Dalam festival itu, tak ada satu pun pesertaa dari kalangan anak muda. Semuanya para orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. Semuanya berpakaian khas melayu, mereka dengan sabar menunggu pengumuman siapa saja pemenang tari japin dari panitia.

Ketua Sanggar Tudong Saji, Slamet mengatakan, tujuan sanggarnya menggelar Festival Japin Melayu ini memang untuk melestarikan budaya Melayu, khususnya tari japin tradisional yang nyaris punah karena tak lagi dipelajari dan ditampilkan dalam acara-acara pernikahan atau acara lainnya.

“Dalam festival ini, selain memperlombakan japin tradisional, kita juga melakukan dokumentasi. Harapannya hasil dokumentasi ini bisa diteruskan pada generasi penerus,” katanya.

Slamet yang sehari-hari juga menjadi Kepala SMP Negeri 2 Menukung ini mengatakan, tari japin sebenarnya kerap ditampilkan dalam berbagai festival. Namun kebanyakan anak muda lebih menampilkan seni tari japin modern atau kontemporer.

“Kenapa kita arahkan pada mereka yang sudah tua, karena japin yang asli ini lebih banyak dikuasai para orang tua, belum terserap pada yang muda. Jadi kita ingin menggali yang aslinya, kemudian kita dokumentasikan,” ucapnya.

“Nanti juga akan kita musyawarahkan untuk menentukan tiap langkah yang mereka lakukan. Kemudian nanti kita sampaikan ke MABM Kecamatan, untuk bisa dipatenkan. Karena tiap langkah ada nama,” katanya.

Dilanjutkan Slamet, ke depan, tari japin tradisional ini bisa dipelajari oleh generasi muda. Kemudian bisa dipadukan dengan tarian modern tanpa harus menghilangkan gerakan aslinya.

“Memang harus didorong pada yang muda. Harapannya budaya ini bisa terus dilestarikan,” katanya. (eko susilo/ang)