Sabtu, 07 Desember 2019


Menghidupkan Kembali Japin Melayu (Selesai)

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 426
Menghidupkan Kembali Japin Melayu (Selesai)

JAPIN – Antong dan Rahman tengah menari japin saat penutupan Festival Japin di Desa Ella Hulu, Menukung, Minggu (4/3). Japin tradisional yang kini mulai hilang coba dihidupkan kembali oleh Sanggar Tudong Sanji dengan menggelar festival. (SP/Eko)

Kesenian Tari Diturunkan Langsung Para Orangtua


Sanggar Tudong Saji, Kecamatan Menukung, berkeinginan menghidupkan kembali budaya seni tari melayu, japin. Maka dari itu, Slamet, selaku ketua sanggar tak ragu menggelar Festival Japin Melayu di Desa Ella Hulu selama sepekan, dan baru ditutup Minggu (4/3) kemarin.

SP - Apong, salah seorang peserta japin asa Desa Ella Hulu bercerita, gerakan tari japin ini dipelajari dan diturunkan langsung oleh orangtuanya. Di masa itu, memang tarian japin masih kerap ditampilkan dalam acara-acara pernikahan di kampung-kampung.

“Aku mulai dari bujang sudah menari japin. Kalau dulu tampil biasa sebelum acara nikahan. Dulu tradisi, biasa sebelum orang mulai masak, sebelum berhadrah biasa tampil menari japin,” katanya.

Apong yang berhasil menjadi juara pertama dalam festival mengaku bangga bisa kembali menampilkan tarian jepin tersebut. Ia sendiri tak pernah berlatih khusus untuk mengikuti festival ini. Setiap gerak langkah masih ia ingat.

“Sudah lama sudah tak tampil. Mungkin sudah puluhan tahun. Nanti ingin juga kita melatih anak-anak muda. Sekarang pun anak dan cucu belum ada yang saya latih,” katanya sembari tersenyum.

Ketua DPRD Melawi, Abang Tajudin yang menutup kegiatan mengaku terpesona dengan penampilan para orang tua yang masih mampu menampilkan tari jepin tradisional secara baik. Bahkan ia menilai hampir 10 atau 20 tahun ini dirinya baru lagi melihat tari japin ini ditampilkan di panggung.

“Padahal japin menjadi budaya Melayu yang dari dulu sangat diagungkan oleh nenek moyang kita. Japin merupakan perpaduan budaya melayu yang bernafaskan Islam,” katanya.

Tajudin pun berharap aar ke depan Sanggar Tudong Saji bisa menggelar kegiatan yang lebih besar dan luas. Festival nya juga tak terbatas pada japin, tapi juga berbagai jenis seni budaya Melayu dengan mengundang seluruh kecamatan.

“Nanti pakai kelompok umur, artinya tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak dan remaja. Kita harus terus melestarikan budaya melayu dan memperkenalkannya pada anak sejak dini sehingga tak hilang di telan zaman,” pesannya. 

Ketua Sanggar Tudong Saji, Slamet mengatakan, tujuan sanggarnya menggelar Festival Japin Melayu ini memang untuk melestarikan budaya Melayu, khususnya tari japin tradisional yang nyaris punah karena tak lagi dipelajari dan ditampilkan dalam acara-acara pernikahan atau acara lainnya.

“Dalam festival ini, selain memperlombakan japin tradisional, kita juga melakukan dokumentasi. Harapannya hasil dokumentasi ini bisa diteruskan pada generasi penerus,” katanya.

Slamet yang sehari-hari juga menjadi Kepala SMP Negeri 2 Menukung ini mengatakan, tari japin sebenarnya kerap ditampilkan dalam berbagai festival. Namun kebanyakan anak muda lebih menampilkan seni tari japin modern atau kontemporer.

“Kenapa kita arahkan pada mereka yang sudah tua, karena japin yang asli ini lebih banyak dikuasai para orang tua, belum terserap pada yang muda. Jadi kita ingin menggali yang aslinya, kemudian kita dokumentasikan,” ucapnya. (eko susilo/ang)