Antisipasi Hoaks di Melawi, Kapolres Gandeng Pondok Pesantren dan Ormas

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 467

Antisipasi Hoaks di Melawi, Kapolres Gandeng Pondok Pesantren dan Ormas
DEKLARASI – Kapolres Melawi dan pengurus Ponpes Bustanul Quran bersama santri menyatakan deklarasi anti hoaks, Selasa (13/3). (SP/Eko)
Semakin banyak beredarnya informasi hoaks meningkatkan kerentanan terjadinya konflik. Polres Melawi pun terus berupaya memberikan penyadaran pada masyarakat untuk bersama mengantisipasi dan tidak terprovokasi dengan informasi-informasi yang belum jelas asal usulnya.

SP - Kapolres Melawi AKBP Ahmad Fadlin pada Selasa (13/3) pun menyambangi Pondok Pesantren ( Ponpes) Bustanul Quran serta Persatuan Orang Melayu (POM) Melawi.  

Ahmad Fadlin yang langsung turun bersilaturahmi dalam kegiatan tersebut bersama jajaran pejabat Polres Melawi mengatakan pihaknya mengajak tokoh agama, khususnya MUI Melawi serta pimpinan pondok pesantren dan santri untuk mewujudkan situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif serta menghindari berita hoaks.

"Bahayanya berita hoaks terlihat dari konflik di sejumlah negara seperti Mesir, Suriah, Srilangka, Libya dan lain-lain. Dengan adanya hoaks, negara bisa hancur," katanya.

Polres Melawi menyatakan tetap komitmen untuk menjaga Indonesia agar terhindar dari berita hoaks khususnya Melawi. Menurut dia, berita hoaks dan fitnah sangat membahayakan. Maka untuk itu dukungan dari eleman masyarakat termasuk pimpinan agama ikut mendukung langkah Polri dalam memberantas hoaks.

"Harapan kami masyarakat tolong bijaklah dalam bermedia sosial. Tidak gampang menyebarkan berita yang tidak jelas sumber dan asal usulnya. Terlebih lagi dalam waktu dekat kita dihadapkan dengan pesta demokrasi," pesannya.

Sesuai undang-undang yang berlaku, jajarannya akan menindak tegas apabila ditemukan pihak-pihak dengan sengaja menyebarkan berita bohong tersebut.

"Sudah banyak pelaku pembuat atau penyebar berita hoaks yang sudah polisi tangkap dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Melawi dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh Bustanul Quran Joko Supeno Mukti memaparkan berita hoaks tak hanya ada pada era ini saja, namun sudah ada sejak zaman Nabi, padahal dalam ajaran Islam melarang adanya berita bohong.

"Makanya di dalam Al Quran sudah dijelaskan untuk tabayun. Dicek dulu beritanya jangan asal menyebarkan isu yang menghancurkan serta mengadu domba," pesannya.

Joko juga menolak tegas adanya berita hoaks serta isu sara yang tidak jelas yang dapat menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.

"Sebagai Ketua MUI Melawi, saya tegaskan menolak berita hokas terlebih lagi digunakan dalam berpolitik. Utamakanlah politik santun dengan isu-isu yang mendidik. Bukan politik isu SARA dengan menyampaikan berita bohong," tegasnya.

Ustaz Joko juga berpesan agar masyarakat harus cerdas dalam melihat berita yang disampaikan dan dibagikan terutama di media sosial. 

"Saya rasa masyarakat Melawi sudah paham dan bijak serta mengerti, mana berita hoaks yang tidak perlu ditanggapi serta dibagikan," pungkasnya. (eko susilo/ang)