Senin, 23 September 2019


Siswa Ujian hingga Pukul 07.00 Malam, Sinyal Hilang hingga Server Meledak Warnai Pelaksanaan UNBK Di Melawi

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 399
Siswa Ujian hingga Pukul 07.00 Malam, Sinyal Hilang hingga Server Meledak Warnai Pelaksanaan UNBK Di Melawi

PELAKSANAAN - Pelaksanaan UNBK di SMK Negeri 1 Nanga Pinoh. Sejumlah SMA menumpang di sekolah ini karena terbatasnya sarana komputer. Pelaksanaan UNBK di Melawi mendapat berbagai masalah, dari sinyal hilang hingga server meledak. (SP/Eko)

Kepala Sekolah SMAN 1 Belimbing Hulu, Rafael Rafin
"Hari pertama kami mulai dari jam 11.45, molor beberapa jam dari jadwal awal. Akibatnya sesi ketiga UNBK baru berakhir sekitar jam 07.00 malam"

NANGA PINOH, SP - Sejumlah masalah menghantui pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMA di Melawi. Mulai dari hilangnya sinyal internet hingga komputer server yang meledak sehingga membuat gangguan pelaksanaan ujian.

Salah satu sekolah yang mengalami hilangnya sinyal internet yakni SMA Negeri 1 Belimbing Hulu. UNBK pada hari pertama dan kedua terpaksa berjalan tidak sesuai jadwal, karena kegagalan komputer siswa tak terhubung dengan jaringan internet.

"Hari pertama kami mulai dari jam 11.45, molor beberapa jam dari jadwal awal. Akibatnya sesi ketiga UNBK baru berakhir sekitar jam 07.00 malam," keluh Kepala Sekolah SMAN 1 Belimbing Hulu, Rafael Rafin, Rabu (11/4).

Ia menerangkan, keterlambatan pelaksanaan UNBK disebabkannya gangguan pada jaringan internet. Sinyal yang tak terkoneksi ke server pusat membuat sekolah harus menunggu hingga kondisi jaringan stabil.

"Bahkan hari kedua, kondisinya juga serupa. Kami belum juga bisa memulai sesuai jadwal," katanya.

Rafin mengungkapkan, teknisi sekolah dan operator bahkan harus bolak-balik ke daerah lain untuk memperbaiki sistem internet yang berbasis vsat tersebut. Dampak jaringan ini membuat 32 siswanya yang mengikuti ujian juga terpengaruh.

"Kasihan juga siswa kami karena konsentrasinya buyar, ini dampak gangguan dari jaringan tersebut," keluhnya.

Wilayah SMAN 1 Belimbing Hulu sendiri berada jauh dari jangkauan jaringan seluler, sehingga terpaksa harus menggunakan internet satelit. Gangguan jaringan ini, lanjut Rafin, baru muncul justru saat pelaksanana UNBK.

"Saat simulasi lancar, tidak ada masalah. Tapi justru pas hari H malah bermasalah," katanya.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kabupaten Melawi, Sumardiyana mengungkapkan, persoalan hilangnya jaringan menjadi masalah utama pelaksanaan UNBK. Setidaknya pada hari pertama.

"Kendala memang banyak dialami sekolah lain. Di antaranya baru mulai di atas jam 11.00 WIB. Seperti SMAN 1 Belimbing Hulu, SMA Negeri 1 Nanga Pinoh dan SMA Muhammadiyah," katanya.

Bila di Belimbing Hulu penyebabnya karena gangguan jaringan, sedangkan di SMA Muhammadiyah sempat terjadi masalah karena meledaknya server di dalam sekolah. 
Kemudian juga gangguan server terjadi di SMAN 1 Nanga Pinoh.

"Kalau sekolah lain di kecamatan, kebanyakan terkena pemadaman PLN, seperti di Pinoh Selatan, hanya hari kedua sudah lancar. Kalau kecamatan lain seperti Ella dan Menukung, Tanah Pinoh dan Sokan berjalan lancar," jelas Sumar.

Dikatakannya, yang menjadi kekhawatiran sekolah memang ada tiga hal, yakni persoalan listrik, jaringan internet dan sarana dan prasarana UNBK. Untuk listrik memang sulit diantisipasi karena tergantung pada PLN. 

Secara total, ada 1.774 pelajar di Melawi yang tercatat sebagai peserta ujian nasional tahun ini. Semua sekolah sudah diwajibkan untuk menggelar UNBK, walau untuk tingkat SMA ada beberapa sekolah yang masih menumpang di sekolah lain, seperti SMAN 1 Sayan serta SMAN 1 Nanga Pinoh yang menumpang di SMKN 1 Nanga Pinoh.

Pelaksanaan Perlu Dievaluasi

KETUA DPRD Melawi, Abang Tajudin menilai, berbagai persoalan dalam pelaksanaan UNBK yang digelar di seluruh tingkat SMA dan SMK di Melawi harus menjadi bahan evaluasi ke depan. Menurutnya berbagai permasalahan yang terjadi menunjukkan belum siapnya sarana pendukung UNBK tersebut.

"Banyak sekolah kita yang berada jauh di pedalaman yang tak terjangkau jaringan seluler, apalagi Internet. Sementara internet adalah sarana utama penyelenggaraan UNBK. mungkin Pemprov juga harusnya tidak memaksa seluruh SMA melaksanakan UNBK jika sarananya juga belum mendukung," katanya.

Ia banyak mendengarkan keluhan sekolah, bahwa mereka kalang kabut menyediakan komputer plus jaringan internet dengan biaya yang tidak sedikit.

"Belum lagi soal pemadaman listrik yang terjadi di tengah tengah pelaksanaan ujian. Padahal kita sudah minta PLN memastikan listrik aman dalam artian tak byarpet selama ujian berlangsung," kritiknya.

Tajudin pun berharap pelaksanaan UNBK di tahun pertama ini benar benar menjadi pelajaran bagi sekolah maupun Dinas Pendidikan agar tahun depan kejadian serupa tak lagi terulang. Karena tiap masalah yang muncul dikhawatirkan akan mempengaruhi psikologis siswa yang menghadapi ujian nasional.

"Kalau belum siap, baiknya tak usah dipaksakan UNBK. Kita perbaiki sarana dan prasarana saja dulu hingga sekolah siap," sarannya. (eko/pul)