Tak Ada Anggaran, Pembangunan Jembatan Sungai Bakah Melawi Ditunda

Melawi

Editor Admin Dibaca : 167

Tak Ada Anggaran, Pembangunan Jembatan Sungai Bakah Melawi Ditunda
Kondisi Jembatan Sungai Bakah yang putus beberapa bulan lalu.
NANGA PINOH, SP - Jembatan Sungai Bakah di Desa Sungai Bakah, Kecamatan Pinoh Selatan yang terputus beberapa waktu lalu, disebut belum akan dibangun kembali tahun depan. Padahal jembatan ini menjadi penghubung antar desa di Pinoh Selatan, khususnya jalur Desa Sungai Bakah hingga Desa Bina Jaya.  

Hal ini pun sempat memunculkan kekecewaan bagi masyarakat Sungai Bakah. Warga sudah meminta pada pemerintah, agar jembatan penghubung di atas Sungai Mangat ini, paling tidak bisa dikerjakan kembali pada 2019.  

“Dari awal putus, kami sudah menghadap bupati hingga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dan DPRD agar jembatan Sungai Bakah ini bisa menjadi perhatian serius. Karena ada tiga desa yang melintasi jembatan ini setiap harinya,” kata Kades Sungai Bakah, Lutih, dijumpai Jumat (14/12) di Nanga Pinoh.  

Jembatan yang putus pada awal Oktober lalu membuat akses transportasi masyarakat setempat terganggu. Lutih menyebut, warganya serta warga desa tetangga mesti menyeberangi Sungai Mangat dengan menggunakan rakit.  

“Warga terpaksa bayar lebih mahal karena untuk menyeberang harus membayar Rp 10 ribu pulang pergi. Sementara bila air sungai pasang, rakit tidak bisa menyeberang karena arus sungai sangat kuat,” katanya.  

Lutih pun sudah berharap, agar jembatan tersebut bisa dibangun sesegera mungkin. Namun, setelah menghadap Dinas PUPR, ia mendapati jawaban bahwa pada 2019, jembatan Sungai Bakah tidak mendapatkan alokasi anggaran.  

“Kami sebenarnya meminta, kalau tidak pakai rangka baja, ya bisa dibuat jembatan gantung saja dulu. Yang penting masyarakat dan roda dua bisa menyeberang,” harapnya.  

Walau APBD Melawi untuk tahun anggaran 2019 pun sudah diketuk palu, Lutih tetap berharap Pemkab Melawi bisa mengalokasikan anggaran untuk pembangunan jembatan menuju desa Sungai Bakah. Karena bila harus menunggu lebih lama, tentunya masyarakat juga yang akan dirugikan.  

“Kami hanya berharap janji pemerintah bahwa Jembatan Sungai Bakah menjadi prioritas di 2019 bisa diwujudkan,” ujarnya.  

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Makarius Horong ditemui di kantornya, Jumat (14/12) mengakui bahwa Jembatan Sungai Bakah belum akan dibangun pada 2019 mendatang. Alasannya untuk membangun jembatan disana diperlukan anggaran yang cukup besar yakni kurang lebih Rp 6 miliar.  

“Kenapa tidak dibangun tahun depan, karena anggarannya cukup besar. Jadi tahun depan belum bisa masuk kesana, karena keterbatasan anggaran kita,” ujarnya.  

Horong mengungkapkan, Dinas PUPR sudah menghitung kebutuhan untuk pembangunan jembatan di Desa Sungai Bakah. Rencananya jembatan yang melintas di atas Sungai Mangat akan menggunakan rangka baja.  

“Karena jembatan tersebut berada di jalan poros kabupaten dan juga merupakan akses lima desa,” katanya.  

PUPR, kata Horong tak mau lagi tanggung-tanggung membangun jembatan di Sungai Bakah. Karenanya perencanaan jembatan menggunakan rangka baja. Ia mengungkapkan jembatan Sungai Bakah sebenarnya sudah beberapa kali di rehab, namun roboh diterjang air pasang.  

“Disana arusnya deras. Kami takut kalau dibangun jembatan kayu nanti roboh lagi. Maka konsepnya jembatan baja. Kemudian, jembatan ini lebih mahal biayanya dari jembatan baja di Desa Landau Garong, karena sungainya juga lebih lebar,” jelasnya.  

Ia pun meminta masyarakat setempat lebih bersabar. Karena usulan pembangunan begitu banyak, namun dana tersedia di APBD Melawi sangat terbatas. Namun Horong menjanjikan bahwa pada 2020 jembatan Sungai Bakah sudah bisa berdiri.  

“Baik nanti didanai lewat DAU atau DAK. Kita upayakan dibangun. Walau mungkin nanti minimal abutmen (pondasi) dulu. Paling tidak sudah ada komitmen pemerintah,” pungkasnya. (eko/lis)