Senin, 23 September 2019


KPID Antisipasi Dampak Negatif Televisi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 102
KPID Antisipasi Dampak Negatif Televisi

MEMBUKA - Asisten II Setda Melawi, Priscilla, membuka kegiatan literasi media. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka membuka wawasan mengenai literasi media di Melawi menuju Kabupaten Sadar Informasi.

NANGA PINOH, SP – Pengaruh media utamanya televisi sangat luar biasa, terutama dalam memunculkan tren baru bagi para generasi muda. Mengakses televisi tanpa kontrol yang kuat dari orang tua, tak jarang menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak.

“Televisi punya dampak negatif karena semua informasi yang ada disedot dan disemburkan pada penonton. Penetrasi televisi bahkan mencapai 90 persen ketimbang media informasi lainnya,” kata Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalbar, Widodo Prihadi dalam kegiatan Literasi Media yang digelar Diskominfo Provinsi Kalbar di Nanga Pinoh, Senin (29/4).

Widodo mengatakan, literasi media masa kini perlu digalakkan sehingga sebagai penonton dapat memilah dan memilih, mana siaran yang sehat bagi diri sendiri maupun anak. Dalam hal ini, orang tua juga dapat membuat keputusan untuk mengendalikan siaran yang bisa dilihat oleh anak-anak di rumah.

“Buat batasan waktu pada anak untuk menonton televisi. Bantu anak untuk menentukan tayangan yang tepat untuk ditonton. Dan usahakan, TV hanya menjadi bagian kecil dari kegiatan anak,” paparnya.

Dalam paparannya, Widodo juga mengungkapkan, menonton televisi maupun menonton siaran melalui jaringan internet saat ini bisa melampaui jam anak bersekolah. Bila sehari saja anak menonton siaran hingga 4,5 jam per hari, maka dalam sepekan saja ia menghabiskan waktu 30-35 jam per pekan untuk menonton saja.

“Waktu ideal untuk menonton sebaiknya dibatasi dua jam perhari dan ditentukan pada hari-hari apa saja. Karena bila lebih dari itu, akan berpengaruh buruk pada anak. Sedangkan, anak kurang dari dua tahun dianjurkan tidak menonton televisi,” katanya.

Untuk membangun kedewasaan dalam memilih dan memilah siaran sehat, Widodo juga mendorong perlu adanya komunitas peduli siaran yang dibangun di berbagai lingkungan, seperti sekolah.

“Bagaimana mendewasakan adik-adik pelajar kita sehingga memahami memilih siaran yang sehat. Informasi sejatinya tidak melulu memberikan dampak negatif. Seperti keberadaan internet, membuka akses keluar termasuk bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, serta tersedianya aplikasi kreatif yang dibangun oleh anak-anak muda saat ini,” terangnya.

Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalbar, Alfian menerangkan, literasi media digelar untuk memberikan pemahaman pada masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat ikut berpartisipasi dan bisa memilah siaran yang bisa ditonton atau tidak.
“Dan khusus orang tua, bisa memberikan pemahaman pada anaknya serta memberikan waktu. Ini waktu belajar, ini waktu menonton. Wawasan ini diharapkan bisa terbangun,” ujarnya.

Alfian mengatakan, literasi media ini semestinya menjadi tugas bersama, tak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat. Karena, berat dan sulit untuk melawan industri pertelevisian, keterbatasan jangkauan regulator hingga ketimbangan pengetahuan masyarakat.

“Siaran ibarat dua mata pedang, ada sisi baik dan ada sisi buruk. Dengan adanya media penyiaran, informasi dapat menyebar luas, namun sebaiknya kita perlu memperkuat ideologi dan dasar dari pribadi untuk bisa menyaring siaran baik dan tidak baik,” katanya.

Literasi media ini sendiri dihadiri sejumlah pimpinan lembaga penyiaran lokal yang ada di Melawi, OPD, tokoh masyarakat, guru hingga jurnalis. (eko/lha)
 
Perlu Daya Tangkal Atas Dampak Negatif Media

Asisten II Setda Melawi, Priscilla, yang membuka kegiatan literasi media mengatakan, pengaruh media saat ini semakin terasa ketika lembaga penyiaran berlomba-lomba dalam memberikan layanan informasi pada masyarakat.

“Tanpa terasa, media ini menanamkan ideologi baru dalam diri penontonnya. Hal ini perlu diimbangi dengan literasi media sebagai budaya tangkal atas dampak negatif media,” katanya.

Priscilla melanjutkan, literasi media ini tentu tak akan berjalan baik tanpa peran serta masyarakat. Peran ini bisa diambil organisasi komunitas, kelompok budaya lokal dan individu.

“Karenanya, kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaring peran serta masyarakat baik yang tergabung dalam organisasi maupun individu. Dalam rangka membuka wawasan mengenai literasi media di Melawi menuju Kabupaten Sadar Informasi,” pungkasnya. (eko/lha)