Empat Warga Diadat Karena Menuba di Sungai Kenyikap

Melawi

Editor elgiants Dibaca : 86

Empat Warga Diadat Karena Menuba di Sungai Kenyikap
BERGAYA – Warga berfoto di plang peringatan larangan menuba, menyentrum, hingga membuang sampah ke sungai di wilayah Desa Tanjung Tengang, Nanga Pinoh, Melawi kemarin. Pelanggar larangan tersebut akan dikenai sanksi adat. Ist
Empat orang warga disanksi adat Rp4 juta usai kedapatan menuba di Sungai Kenyikap, Desa Tanjung Tengang, Kecamatan Nanga Pinoh, Melawi. Desa itu memang punya larangan menuba, menyetrum dan membuang sampah ke sungai. Bentuk kearifan lokal demi kelestarian alam. 

Warga yang disanksi adat itu merupakan warga luar desa. Mereka tertangkap basah, tengah asyik menuba atau menebar racun ikan, dan menangkap hasilnya di bawah jembatan Sungai Kenyikap. Cara menangkap ikan yang jamak dilakukan, selain menyetrum ketika kemarau. 

Masyarakat yang melihat, segera meringkus dan membawanya ke kantor desa.

“Empat orang ini diketahui warga sekitar pukul 20.00 malam sedang menangkap ikan dengan tuba (racun). Bahkan racunnya sudah disebar dan mereka sedang menangkapi ikan di bawah jembatan Sungai Kenyikap,” ungkap Kepala Dusun Tanjung Tengang, Desa Tanjung Tengang, Dedi Sulaiman, Kamis (18/7).

Sampai di kantor desa, mereka langsung disidang adat oleh aparatur setempat. Dalam sidang tersebut, mereka mengaku salah dan mengakui perbuatannya.

“Akhirnya diputuskan sanksi adat pada empat orang ini untuk membayar adat dengan nominal tertentu,” jelasnya.

Larangan tersebut sudah diterapkan kurang lebih empat tahun. Hanya memang plang larangan ini baru dipasang belum lama ini.

“Kita melarang menuba termasuk menyentrum karena merusak lingkungan. Apalagi hidup masyarakat kami juga tergantung dari sungai (Kenyikap) itu. Mancing dan mencari ikan dilakukan masyarakat sehari-harinya. Kalau dituba kan ikan akan cepat habis,” katanya.

Alasan itu yang membuat Pemerintah Desa Tanjung Tengang membuat peraturan desa khusus yang melarang aktivitas menuba atau menyentrum ikan. Sanksi yang diberikan juga diperberat sehingga bisa membuat orang takut, atau tak lagi melakukan aktivitas yang bisa merusak ekosistem sungai.

“Tak cuma menuba, tapi juga menyentrum ikan, bahkan membuang sampah disungai sudah dilarang sebagai upaya kita menjaga kelestarian sungai. Kalau dilanggar, maka kita akan menerapkan sanksi sesuai dengan adat istiadat di Desa Tanjung Tengang,” paparnya.

Dampak dari menuba atau menangkap ikan dengan racun memang sangat berbahaya. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Pengelolaan B3 dan Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Melawi, Laila Fitri Andayani mengungkapkan aktivitas menuba yang kerap dilakukan oleh masyarakat jelas membuat ekosistem di sekitar sungai akan terganggu.

“Bukan hanya ikan yang mati, tapi juga biota atau makhluk lain yang ada di sekitarnya juga akan teracuni atau mati,” katanya.

Tuba atau racun tersebut tak hanya membuat ikan-ikan besar mati, tapi juga ikan-ikan kecil yang belum waktunya dikonsumsi. Jika demikian, dalam waktu tertentu populasi ikan akan berkurang drastis.

“Racun yang masuk atau terpapar dalam tubuh ikan, jika dimakan manusia juga dapat berdampak pada kesehatan manusia,” jelasnya.

Upaya desa untuk melarang aktivitas menuba ataupun kegiatan lain yang dapat mencemari atau merusak lingkungan patut diapresiasi. Apalagi bila diiringi sanksi khusus, hingga buat jera orang. 

“Selain tak lestari, ikan juga akan semakin langka ke depannya. Air juga akan tercemar,” pungkasnya. (eko susilo/balasa)