Selasa, 19 November 2019


Pasien Terpaksa Dibawa Melalui Sungai Berbatu Melawi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 96
Pasien Terpaksa Dibawa Melalui Sungai Berbatu Melawi

TANDU - Pasien asal Desa Kempangai terpaksa harus ditandu saat perahu yang ditumpanginya melalui sebuah riam deras di Sungai Ella beberapa waktu lalu. Tidak adanya jembatan penghubung ke desa-desa pedalaman Ella membuat masyarakat terpaksa menggunakan per

Sebuah video evakuasi pasien sempat viral pertengahan September lalu di Melawi. Dalam video itu, beberapa orang mengangkat seorang ibu yang tengah sakit dengan tandu, untuk melewati riam di Sungai Ella. Tujuan akhir pasien tersebut adalah Puskesmas Ella Hilir.

Video tersebut direkam dan diunggah Kepala Desa Nanga Kempangai, Jahari melalui akun facebooknya. Ibu dalam video itu, adalah warganya. Jahari baru dapat dikonfirmasi, saat berada di Nanga Pinoh. Di Nanga Kempangai, kampungnya berasal, sinyal seluler tak ada.

"Kalau aktif di Facebook, berarti saya ada di Pinoh atau Nanga Ella," ujarnya kemarin.

Desa Nanga Kempangai tak bisa diakses kendaraan roda empat. Satu-satunya akses yang tersedia adalah jalur air. Jalan penghubung desa pun, terbelah sungai.

"Kebetulan ibu yang bernama Nanat ini habis melahirkan di kampung, tapi tembuninya sangkut sehingga harus dirujuk ke Puskesmas Ella Hilir," katanya.

Di Nanga Kempangai sebenarnya ada Puskesmas Pembantu (Pustu) serta perawat yang digaji dari desa. Hanya saat persalinan Nanat, sang perawat sedang berkegiatan di Nanga Pinoh. Dalam kondisi darurat, Nanat pun dibawa mengunakan perahu motor. Saat melintasi riam Sengkang di Sungai Ella, seluruh penumpang dan barang harus diturunkan karena perahu mesti didorong. Arus di sana terlalu deras.

"Ndak melihat sungai pasang atau surut. Setiap melintasi riam itu ya harus turun. Karena itu ibu tersebut ditandu. Kami membawanya sampai Simpang Jalan Trans Kalimantan. Dari sana disambung dengan ambulan untuk dibawa langsung ke Puskesmas Ella," katanya.

Sungai Ella menjadi akses transportasi mengingat jalan darat hanya bisa dilalui roda dua. Ibu usai persalinan tak mungkin dibonceng dengan sepeda motor. Jalan itu sendiri baru dibuka tahun 2002 lalu.

"Sudah tiga kali dikerjakan jalan ke Kempangai. Kendala utamanya memang tidak adanya jembatan di Sungai Ella, membuat mobil tak bisa ke Nanga Kempangai, juga desa-desa lain di pedalaman Ella," ujarnya.

Persoalan lain, ruas jalan Trans Kalimantan poros tengah yang menghubungkan Kalbar-Kalteng di Melawi, juga tak melintasi kampungnya. Alasannya karena masuk kawasan hutan. Desa pun terpaksa membangun akses sendiri untuk menembus jalan ke ruas jalan Trans Kalimantan.

"Jembatan ini sendiri sampai sekarang hanya ada abutmen. Itupun sudah tumbang karena terkena banjir. Padahal desa-desa seperti Penyuguk, Kempangai, Jabai, Kerangan Kora, Sungai Labu, Nanga Nyuruh, dan Nanga Kalan bisa ditembus dengan roda empat langsung bila jembatan itu jadi," ujarnya.

Abutmen Jembatan Sungai Ella sendiri sudah lama terbengkalai. Abutmen atau pondasi jembatan ini sudah terbangun belasan tahun silam di Desa Nanga Kalan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Melawi, Horong mengungkapkan jembatan ini kemungkinan tak lagi dilanjutkan pembangunannya oleh Pemkab Melawi.

"Tapi kemungkinan nanti dibangun langsung oleh pusat. Karena ruas jalan tersebut sudah menjadi ruas jalan nasional. Rencana ke depannya kemungkinan pusat yang akan membangun untuk menghubungkan ruas Trans Kalimantan Poros Tengah," katanya. (eko susilo/balasa)