Sabtu, 18 Januari 2020


Panji Minta Masyarakat Jangan Mau Diprovokasi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 63
Panji Minta Masyarakat Jangan Mau Diprovokasi

RAPAT - Bupati Panji memberikan materi dalam Rapat Kerja Tahunan Perangkat Desa di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Melawi. SUARA PEMRED/EKO SUSILO

2020 bakal menjadi tahun politik bagi Kabupaten Melawi. Tak hanya menggelar Pilkada, ada 111 desa yang juga terlebih dahulu menggelar Pilkades.

Bupati Melawi, Panji pun meminta masyarakat mewaspadai munculnya provokasi maupun politik pencitraan yang justru dilakukan dengan menjelekkan pihak tertentu.

"Saya minta jangan mau diprovokasi, jangan mau dihasut para politisi," katanya, dalam Rapat Kerja Tahunan Gelombang 3 yang digelar di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Melawi, Rabu(11/12).

Dikatakan Panji, semua pihak harus memperjuangkan suasana yang kondusif dan menjaga komunikasi dan hubungan serta tata krama dalam bermedia sosial.

"Jangan gunakan medsos untuk menjelekkan orang lain. Memuji diri sendiri membuat pencitraan dengan menjatuhkan orang lain," ujarnya.

Karena, kata Panji, hal seperti ini justru menyesatkan rakyat. Tak cuma oleh kandidat yang mungkin bakal maju dalam Pilkada ke depan, tapi juga dalam pelaksanaan Pilkades. 

"Kades juga saya minta jangan mau dibodoh-bodohi. Jangan menghasut hanya karena kita mau didukung," pesannya.

Panji mengingatkan, pemilu menjadi ajang untuk memilih pemimpin, baik di tingkat kabupaten atau desa. Bukan pemimpin suku atau agama. Ia mencontohkan, bila membangun gedung atau jembatan, tentunya infrastruktur itu tak hanya dipakai untuk kepentingan umat tertentu saja.

"Kalau  saya bangun gedung atau jembatan, tak mungkin hanya dipakai oleh saudara kita yang Katolik atau untuk yang muslim saja. Tapi dibangun untuk kepentingan seluruh masyarakat," katanya. 

Ia pun menegaskan, siapa pun yang ingin maju menjadi pemimpin jangan hanya menjual isu suku semata. Menurut Panji, berikan pendidikan politik yang baik pada masyarakat karena masyarakat setempat saat ini juga sudah pintar. 

"Bagaimana kita memperjuangkan aspirasi dan menata konsep pembangunan . Itu yang disampaikan dalam pendidikan politik. Bukan soal berani berapa," tegasnya. (eko susilo/shella)