Senin, 16 Desember 2019


Kasad Pertanyakan Bangunan Yonif 645 Desa Peniti, Mempawah, Kalbar

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 3316
Kasad Pertanyakan Bangunan Yonif 645 Desa Peniti, Mempawah, Kalbar

KASAD DI KALBAR- Kasad Jenderal TNI Ibrahim Mulyono didampingi Pangdam XII/Tanjungpura, Mayjen Agung Risnanto meninjau bangunan Yonif 654 di Desa Peniti, Mempawah, Senin (1/2). (SUARA PEMRED/ Delviana Purba)


MEMPAWAH, SP -
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Ibrahim Mulyono ke Kodam XII/Tanjungpura, mempertanyakan bangunan yang dianggap tak sama antara satu bangunan Batalyon Infanteri (Yonif) 645 Desa Peniti Mempawah dengan bangunan Batalyon lainnya di Kabupaten Sambas.
 

Hal itu dikatakan Jenderal Mulyono, Senin (1/2), ketika meninjau bangunan Yonif 645 yang menjelang tahap penyelesaian. Kunjungan Kasad didampingi Pangdam XII/Tanjungpura, Mayjen Agung R. beserta jajaran Asops dan Kodam XII/Tanjungpura.  

“Sepertinya bangunan di Desa Peniti ini lebih baik dari pada di Sambas tadi, ada apa?” tanya Kasad, pada segenap anggota yang mendampinginya. 

Pernyataan Kasad disampaikan ketika melihat garasi angkutan alat berat di area Yonif 645. Sambil berkata, Kasad menjejak-jejakkan kakinya pada beton yang sudah mendasari lapangan itu.  

Setelah itu, Kasad berjalan lagi dan menyusuri hampir seluruh bagian sudut bangunan Yonif. Sambil berjalan, ia amati setiap detil bangunan dan jalan. Bahkan, ketika melihat jalan simpang yang menjadi garasi penyimpanan tank.  

Kasad memberikan instruksi, supaya jalan menuju garasi tank diperlebar. Tujuannya, supaya lebih mempermudah tank yang keluar atau masuk. Ketika tank tidak alami masalah saat penyimpanan di garasi.   “Sehingga saat akan menyimpan tank, bisa tepat dan tidak terjadi insiden pada tank dan anggota,” ujarnya.  

Sebelum kembali ke Pontianak, Jenderal Mulyono mengingatkan, agar para pekerja bangunan atau siapa pun yang mengerjakan bangunan harus diawasi.   Ia memberikan contoh, saat kontraktor membuat bangunan penyangga, semestinya ada empat tiang yang dibangun.

Namun, karena tidak ada pengawasan, kontraktor hanya membangun tiga tiang penyangga saja.   “Coba saya suruh bongkar beton ini? Mungkin saja tiang penyangga bisa saja tiga, yang seharusnya dipasang empat. Bukan tidak percaya, tapi alangkah baiknya jika kita mengawasi, agar tidak mudah retak seperti ini,” kata Kasad menegaskan. (del/lis)