Anak Anggota Dewan Digampar Oknum Pegawai RSUD dr Rubini, Mempawah

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 1246

Anak Anggota Dewan Digampar Oknum Pegawai RSUD dr Rubini, Mempawah
ILUSTRASI- Stop Kekerasan kepada Anak (news.metrotvnews.com)
MEMPAWAH, SP –Anak kandung anggota DPRD Kabupaten Mempawah, Ry (6) diduga digampar oleh oknu pegawai RSUD dr Rubini Mempawah.

Ry diduga digampar setelah sepeda yang digowesnya menabrak pegawai rumah sakit itu di Jalan dr Rubini Mempawah, Kamis (3/3) sekitar pukul 13.00 WIB.

Anggota DPRD Kabupaten Mempawah, Erde Diawan selaku orang tua korban menceritakan, anaknya saat itu diketahui sedang bermain sepeda dengan sepupunya, OJ dan melintasi Jalan dr Rubini Mempawah.

Kemudian secara tak sengaja menabrak pegawai rumah sakit itu. "Setelah ditabrak, tiba-tiba oknum pegawai rumah sakit itu langsung menampar anak saya hingga menangis," ungkap Erde, Jumat (4/3).

Sepupu korban, OJ menyaksikan insiden itu, lantas melaporkannya ke bibi korban. "Saya tahu peristiwa (penamparan) itu dari bibinya,” kata Erde.

Mengetahui itu, Erde mendatangi rumah oknum pegawai rumah sakit itu yang tinggal di BTN Korpri. "Saya datang ke rumah pelaku Cuma mau menyakan kenapa anak saya sampai ditampar,” jelas Erde.

Sesampainya di rumah pelaku, bukannya minta maaf, kata Erde, pelaku justru menantabg Erde dan tak takut jika dilaporkan ke polisi. "Dia (pelaku) berkata ‘lapor jak ke polisi, saya gak takut’. Makanya saya langsung membuat laporan di Polres Mempawah dan anak saya divisum,” terang Erde.

Erde mengaku sedih atas perlakuan kasar oknum pegawai rumah sakit itu kepada anaknya. Erde cemas peristiwa itu akan mengguncang psikologi anaknya. "Karena pada saat saya membawa anak saya mendatangi rumah oknum pegawai rumah sakit itu, anak saya sangat ketakutan," kata Erde.

Sementara Kanit PPA Polres Mempawah, Ipda Djoko mengatakan, laporan kasus pemukulan yang menimpa Ry belum masuk ke pihaknya. "Laporan masuk belum ada, tetapi biasanya langsung masuk melalui SPK (Sentra Pelayanan Kepolisian) dulu," jelas Djoko.

Dampak Psikologi

Sementara Ketua Komisi Perlindugan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Mempawah, Kusmayadi mengaku kecewa atas tindakan kekerasan oknum pegawai rumah sakit itu. "Karena mencubit saja dilarang, apalagi menggampar anak kecil," jelas Kusmayadi. Kusmayadi mengatakan, perbuatan kekerasan terhadap anak kecil bisa dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014. "Ancamannya sekitar 5 (lima) tahun," kata Kusmayadi.

Perbuatan kekerasan terhadap anak, kata Kusmayadi, dikhawatirkan berdampak pada psikologi anak. Berdasarkan pengakuan orangtua korban, anaknya sedikit mengalami trauma ketika berhadapan atau bertemu dengan orang dewasa.

Agar tak menyerang psikologi anak pasca kejadian, sebaiknya orangtua terus membimbing dan mendekatkan diri ke anak dengan kasih sayang. "Jika trauma anak itu kuat, sebaiknya segera dibawa ke psikolog agar anak tersebut dapat ceria kembali," kata Kusmayadi. (ben/bah)