Marketing Lembaga Banteng Khatulistiwa Avsec Trust Invation Training Center, Mempawah Bantah Dituding Lakukan Penipuan

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 1239

Marketing Lembaga Banteng Khatulistiwa Avsec Trust Invation Training Center, Mempawah Bantah Dituding Lakukan Penipuan
Samsul warga Kuala Secapa, Kecamatan Mempawah Hilir menunjukkan sejumlah bukti. (FOTO SUARA PEMRED/ RUBEN PERMANA)
MEMPAWAH, SP – Tergiur dengan iming-iming bekerja di PT Angkasa Pura II, beberapa warga Mempawah harus rela uang sebesar Rp 45 juta melayang ke Erlina, pelaku yang diduga melakukan penipuan.

Erlina diketahui bekerja di Banteng Khatulistiwa Avsec Trust Invation Training Center yang beroperasi di Mempawah dan menjanjikan pekerjaan itu.
Ayah korban penipuan, Samsul (42) menceritakan, pada 2015 silam dirinya dijanjikan Erlina bisa memasukkan anaknya berinisial NV bekerja di PT Angkasa Pura II, sebuah badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pengelolaan bandara, cukup dengan membayar Rp 45 juta.

"Saya sanggupi dengan mengeluarkan uang Rp 45 juta. Gaji yang akan diperoleh anak saya nantinya Rp 5 juta per bulan. Namun, sebelumnya harus mengikuti serangkaian pelatihan," kata Samsul, Rabu (9/3).

Samsul mengatakan bahwa tempat Erlina bekerja hanya sebagai pencari tenaga kerja yang ada di Mempawah. "Dia (Erlina) bilang, anak saya harus melewati masa training di Jakarta selama empat bulan, baru setelah itu bisa langsung bekerja di PT Angkasa Pura II. Kenyataaannya, sampai saat ini anak saya ada mendapat pekerjaan," jelas Samsul.

Awalnya, kata Samsul, dirinya memercayai Erlina. Karena anaknya memang benar-benar berangkat ke Jakarta untuk mengikuti training. Sesampainya di Jakarta. Samsul diminta uang sebesar Rp 10 juta lagi.

Uang itu, kata Erlina untuk penempatan anaknya. “Lalu saya harus menandatangani surat yang berbunyi bahwa pihak lembaga Banteng Khatulistiwa tak memungut biaya sepeserpun. Tapi saya tolak karena surat tersebut sangat janggal," terang Samsul.

Samsul bertambah curiga ketika usai masa training, anaknya belum juga dapat bekerja di PT Angkasa Pura Ii seperti yang dijanjikan sebelumnya.

“Saya coba untuk menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan dengan meminta uang yang sudah saya berikan ke dia. Namun, Erlina sudah tak bisa ditemui. Ditelepon pun tak bisa,” kata Samsul.

Sejauh yang Samsul tahu, sedikitnya enam orang mengikuti training lewat jalur Lembaga Banteng Khatulisitiwa Trust Aviantion Traning Center.

Di Mempawah, kantornya terletak di Jalan Putri Dara Hitam, Gang Amboktin No 16. Saat ini sudah pindah kantor di Jalan Sulawesi, Kota Pontianak. "Jadi, anak-anak Kalbar yang seangkatan masa training dengan anak saya sampai saat ini belum juga bekerja,” ungkap Samsul.

Samsul berharap, uang sebsar Rp 45 juta yang sudah dikeluarkannya dapat dikembalikan. "Sebab, untuk mengumpulkan uang sebanyak itu saya dapat bertahap dengan meminjam ke bank. Jika dikembalikan, saya dapat menutupi utang saya," kata Samsul.

Hari ini, Samsul akan melaporkan kasus penipuan yang dialami anaknya ke Polres Mempawah agar tak ada korban yang ditipu oleh Erlina.

Korban penipuan lain, Lutfi (19) yang warga Kuale Secapa, Kecamatan Mempawah Hilir ini juga diiming-imingi serupa. Lutfi dijanjikan 95 persen pasti lolos bekerja di PT Angkasa Pura II oleh Erlina dengan mengeluarkan uang Rp 45 juta. Tergiur dengan iming-iming itu, orangtua Lutfi yang kini sudah meninggal menyanggupi permintaan Erlina.

Dijelaskan, empat bulan harus melewati masa training, sementara dua bulannya tahap penyaluran. "Saya training di Tangerang, tepatnya di Hotel Great Western Hotel. Setelah selesai (training) dan dua bulan menunggu masa penyaluran, sampai saat ini saya belum mendapat pekerjaan yang dijanjikan,” kata Lutfi.

Lutfi mengungkapkan bahwa dirinya pernah diminta untuk menanda tangani sebuah surat yang Lutfi tak tahu isinya. "Karena kami tak tahu, maka kami tanda tangan saja," ucap Lutfi.

Membantah

Sementara Marketing Lembaga Banteng Khatulistiwa Avsec Trust Invation Training Center di Mempawah, Erlina membantah tudingan tersebut. "Itu tidak benar. Saya tak mencari tenaga kerja. Namun mereka (korban) yang datang ke saya," kilah Erlina.

Erlina mengatakan bahwa terdapat 17 pencari kerja yang memanfaatkan jasanya untuk mencarikan pekerjaan. Pengakuannya, delapan orang dari 17 orang itu sudah bekerja. Sementara sisanya masih menunggu pekerjaan.

"Saya di sini hanya sebagai penyalur ke  Lembaga Banteng Khatulistiwa. Setiap orang, saya memperoleh insentif sekitar Rp 2 juta," jelas Erlina.

Disinggung soal surat pernyataan yang harus ditanda tangani korban, Erlina mengatakan bahwa surat itu adalah surat perjanjian dan pelatihan. Isi suratnya, kata Erlina, yaitu mereka (pencari kerja/korban) tak dapat menarik kembali pembayaran yang telah dibayarkan kepada Lembaga Banteng Khatulistiwa.

Meski pencari kerja berubah pikiran atau mengundurkan diri, uang yang telah dibayarkan tak bisa ditarik jika pencari kerja sudah menanda tangani surat perjanjian. (ben/bah)