Minggu, 22 September 2019


Gara-gara Knalpot Racing, Oknum Anggota Polres Mempawah Dilaporkan

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1129
Gara-gara Knalpot Racing, Oknum Anggota Polres Mempawah Dilaporkan

Murni, orangtua Rendra memperlihatkan catatan medis di rumahnya. Jumat (27/5). (Suara pemred/ruben permana)

MEMPAWAH, SP – Muhammad Rendra (17) harus dilarikan ke rumah sakit,  setelah syaraf pendengarannya terganggu,  akibat dipaksa mendengarkan suara knalpot racing oleh oknum anggota Polres Mempawah. Rendra merasakan sakit di bagian telinganya dan suara dengungan tak mau lenyap.

Orangtua korban, Murni (43) menceritakan, pada Selasa (24/5) lalu Rendra dirazia polisi di Jalan GM Taufik ketika hendak bersekolah di SMKN 1 Mempawah. Polisi diketahui, tak hanya memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan sepeda motor, tetapi juga merazia sepeda motor yang menggunakan knalpot racing.

Sepeda motor yang dikendarai Rendra menggunakan knalpot racing. Akhirnya Rendra diberhentikan polisi.
“Anak saya langsung disuruh jongkok oleh polisi berinisial AM. Helmnya dilepas dan telinganya didekatkan ke ujung knalpot racing itu. Polisi lantas menggeber, mengegas motor. Mulai dari situ telingan anak saya merasakan sakit,” ungkap Murni.

Mengetahui itu, Murni langsung mendatangi Polres Mempawah untuk melaporkan tindakan sewenang-wenang oknum polisi itu. “Kedatangan pertama ke kantor polisi, keluhan saya tidak ditanggapi. Kemudian saya datangi lagi dan akhirnya ditanggapi. Polisi minta maaf dan bertanggung jawab. Anak saya langsung dibawa RSUD dr Rubini Mempawah, divisum dan langsung dirujuk ke dokter spesialis di nobel audiologi center di Pontianak," jelas Murni.

Murni berharap, polisi tidak bertindak sewenang-wenang kepada pelanggar lalu lintas. Sementara Kasat Lantas Polres mempawah, AKP Tri Budiyanto mengakui bahwa anggotanya yang melakukan itu. Pihaknnya pun sudah berkomunikasi dengan orang tua korban dan bertanggung jawab atas insiden itu.

"Kami juga mengharapkan kepada masyarakat luas untuk tetap mematuhi peraturan, terutama dalam hal knalpot racing. Knalpot racing tak diperkenankan karena menggangu ketertiban masyarakat," jelas Tri.

Tri mengakui bahwa tindakan terhadap Rendra adalah keliru. Seharusnya cukup menyita knalpot racing dan menyuruh pelanggar menggantinya dengan knalpot standar. "Sebagai barang bukti, knalpot racing itu diambil (polisi). Soal Rendra kita akan tanggung jawab sampai sembuh,” kata Tri.

Disinggung soal sanksi yang akan diberikan kepada oknum polisi yang bertindak arogan itu, Tri mengaku akan berkoordinasi dengan pihak provos atau propam.
"Kami akan berkoodinasi mengenai masalah ini sesuai prosedur karena kami tak bisa mengambil langkah sendiri," pungkas Tri. (ben/bah)