Rabies Ancam Kabupaten Mempawah

Mempawah

Editor sutan Dibaca : 1120

Rabies Ancam Kabupaten Mempawah
Seorang petugas sedang memvaksin hewan anjing. (ist)
MEMPAWAH, SP - Pemkab  Mempawah melakukan vaksinasi 400 ekor anjing di sejumlah wilayah perbatasan. Namun, jumlah itu sangat minim dibandingkan potensi rabies di daerah tersebut yang diperkirakan mencapai 3.500 ekor anjing.
Meski demikian, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi masuknya penyakit rabies.

Wakil Bupati Mempawah, Gusti Ramlana mengungkapkan, sejak dua bulan lalu pemerintah daerah telah melakukan langkah penanggulangan rabies.

Satu di antaranya dengan melakukan vaksinasi terhadap 400 ekor anjing. Vaksinasi dilakukan di Kecamatan Toho, Sadaniang, dan Sungai Kunyit. “Ketiga kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkayang yang sudah merebak kasus ini,” tuturnya saat memimpin rapat penanggulangan rabies dan kebakaran hutan dan lahan di Aula Kantor Bupati Mempawah, belum lama ini.

Ramlana menjelaskan, awal mula penyebaran rabies di Kalimantan Barat terjadi di Kabupaten Ketapang. Kemudian menyebar ke daerah lain seperti Sanggau, Sekadau, Melawi, dan terakhir terjadi kasus rabies di  Bengkayang dan Landak yang berbatasan dengan  Mempawah.

Melihat penyebarannya yang semakin luas, ia menyebut perlunya langkah antisipasi dan penanggulangan. “Karena itu kami mengharapkan peran aktif seluruh elemen baik itu sipil, militer, hingga seluruh masyarakat,” ujarnya.

Ramlana mengatakan tingginya mobilitas masuk-keluar manusia dan hewan ternak di wilayah bersangkutan memunculkan potensi ancaman rabies, terutama di wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan kabupaten endemis rabies.

Di antaranya Sungai Kunyit, Toho, dan Sadaniang. Menurutnya, ketiga kecamatan itu sangat rawan. “Namun, di sekitar wilayah kota pun tak boleh lengah. Tingginya mobilitas manusia yang selalu bepergian antarwilayah membuka celah penyebaran penyakit. Makanya, penanggulangan terhadap penyakit ini tidak hanya dilakukan dengan cara vaksinasi terhadap hewan, melainkan manusia itu sendiri,” terangnya.

Ramlana mengungkapkan, penularan penyakit rabies di Kalimantan Barat berada di level membahayakan. Dari catatannya, hingga minggu kedua bulan Agustus lalu jumlah penderita rabies mencapai 877 orang dan beberapa penderita di antaranya meninggal dunia.

“Ini data yang berhasil dihimpun petugas di lapangan. Saya yakin masih ada kasus-kasus lain yang tidak terdata oleh petugas. Sebab itu penanganan terhadap rabies harus dilakukan dengan serius dan sistematis. Saya minta semua pihak membantu pemerintah daerah untuk melakukan penanggulangan di lapangan,” pintanya menegaskan.

Kepada Bidang Peternakan, Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan (DP3K) Kabupaten, Ramlana menginstruksikan agar seluruh penyuluh dan petugas mengintensifkan pengawasan dan pelayanan di lapangan. Sebab, penanganan rabies berkaitan dengan persoalan teknis yang harus ditangani dengan cepat dan tepat oleh petugas di bidang kehewanan.

“Jika memungkinkan, keberadaan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di Toho agar dijadikan center (pusat). Peralatan dan vaksin dapat disimpan di Puskeswan tersebut. Jika sewaktu-waktu diperlukan, maka petugas bisa melakukan penanganan dengan cepat dan tepat,” pungkasnya. (ben/bah/sut)