Rabu, 16 Oktober 2019


Ritual Pembersihan Pusaka Kerajaan Amantubillah Mempawah

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1420
Ritual Pembersihan Pusaka Kerajaan Amantubillah Mempawah

PUSAKA – Sejumlah laskar Keraton Amantubillah Mempawah mendorong salah satu meriam pusaka untuk dibersihkan. (SP/Ruben)

Kenalkan Kota Benteng Batu sebagai Situs Sejarah 

Satu di antara agenda budaya dalam perhelatan Robo-robo digelar. Raja Kerajaan Amantubillah Mempawah melakukan ritual pembersihan pusaka kerajaan di Kota Benteng Batu, Kawasan Istana Kerajaan Amantubillah, di Kelurahan Pedalaman, Mempawah Timur, Senin (28/11) lalu.  

Ritual itu diawali dengan iringan-iringan laskar keraton, membawa berbagai bentuk senjata pusata kerajaan. Dengan menggunakan pakaian khas kerajaan  bercorak warna kuning, mereka menggiring satu per satu pusaka, berupa meriam (gondah), tombak, pedang maupun lainnya. Benda-benda pusaka itu akan dibersihkan menggunakan air yang sudah dicampur jeruk nipis. 

Raja Amantubillah, Pangeran Ratu Mardan Adijaya mengatakan sedikitnya akan ada tiga ritual yang dilakukan menjelang pelaksanaan ritual utama, Robo-robo. Yakni pelepasan puake, memandikan pusaka, dan haul untuk mengenang para pendahulu.

Setibanya di Kawasan Benteng, Kota Batu, semua benda bersejarah itu diletakkan di lokasi yang telah ditentukan untuk dimandikan. Namun sebelum itu, didahului dengan pembacaan doa. Kemudian baru satu per satu benda pusaka yang berupa meriam (gondah), tombak, pedang dibersihkan. 

Sejak dua tahun terakhir, prosesi pemandian pusaka dilakukan di kawasan tersebut. Sebelum digelar di istana kerajaan. Mardan mengatakan, hal itu dilakukan untuk mengenalkan kepada masyarakat luas situs bersejarah Kerajaan Mempawah.
“Agar masyarakat lebih mengetahui, Kelurahan Pulau Pedalaman ada situs bersejarah bagi Kerajaan Amantubillah Mempawah,” terangnya.

Pemandian pusaka merupakan ritual kedua sebelum Robo-robo, karena pada pagi harinya telah terlebih dahulu dilakukan pelepasan puake. Tradisi dan nilai-nilai budaya Keraton Amantubillah Mempawah hingga kini masih terjaga dengan baik, salah satunya melalui prosesi pelepasan puaka atau puake dalam pengucapan bahasa Melayu. 

Tradisi dan pelestarian nilai-nilai budaya tersebut menjadi simbol penyeimbang kehidupan, sekaligus menekankan kepada bangsa Indonesia pentingnya melestarikan budaya sebagai identitas atau jati diri bangsa berbudaya.

Keluarga besar Keraton Amantubillah Mempawah melepas puaka atau puake di perairan umum di kawasan hulu Lubuk Sauk, Sungai Mempawah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.  "Untuk pelepasan puake, yaitu pelepasan Ular Piton dan Burung Hantu. Dan pada sore harinya, digelar Haul dan pemandian pusaka. Malamnya lanjut  akan dengan haulan," katanya. 

Ia mengatakan, persiapan pergelaran Robo-robo  sudah dilakukan sejak tiga bulan silam.  "Hargailah orang dengan budaya, karena budaya merupakan pondasi, terlepas dari budaya maka akan terjadi benturan. Makannya kita berusaha untuk merangkul semua etnis," tutupnya. 

Sebagaimana diketahui, sejumlah perlombaan akan memeriahkan perhelatan budaya legendaris Robo-Robo tahun ini. Selain lomba sampan yang telah menjadi ikon, panitia juga akan menggelar empat jenis perlombaan lainnya, yakni motor air hias, panjat pinang, layangan, dan pangkak-uri gasing.  (ben/hms/ang)