Jumat, 06 Desember 2019


Pilkades Diduga Curang, Warga Datangi Kantor Bupati Mempawah

Editor:

Syafria Arrahman ST Raja Alam

    |     Pembaca: 966
Pilkades Diduga Curang, Warga Datangi Kantor Bupati Mempawah

ilustrasi

MEMPAWAH, SP - Puluhan warga dari Desa Kuala Secapah, Kecamatan Mempawah Hilir mendatangi Kantor Bupati Mempawah karena menduga terjadi kecurangan dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) secara elektronik (e-voting) di daerah tersebut, Sabtu (6/5) malam.

M Tahir (37) saksi pendamping calon kepala desa nomor urut 4 di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 2, Desa Kuala Secapa mengatakan, setidaknya terdapat lima dugaan kecurangan yang terjadi saat Pilkades di wilayahnya.

Kejanggalan yang terjadi seperti surat undangan pemilihan warga yang tidak sesuai dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan absensi pemilihan dilakukan tidak bersamaan.

“Saat mulai dilakukan pemilihan pukul 10.50 WIB, panitia tidak mengabsen. Absensi baru dilakukan pukul 11.00 WIB. Dari jedah waktu tersebut, sekitar dua hingga empat orang pemilih yang masuk ke bilik suara untuk mencoblos,” katanya.

Kejanggalan lain yang terjadi dilanjutkannya adanya penambahan waktu pemilihan kepada warga yang menggunakan KTP meskipun sistem pada mesin pemilihan menolak.

"Sistem sudah menolak tiga kali, tapi tetap dilakukan pemilihan, dan ini dibiarkan oleh pihak panitia. Seharusnya yang bisa memilih itu kan mereka yang memiliki undangan dan KTP dan sudah terdata dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT),”sesalnya.

Dilanjutkannya, dugaan kecurangan lain yang dilakukan dalam pemilihan tersebut juga terjadi ketika pihak panitia menolak permintaan saksi yang ada di TPS untuk dilakukan menghitung suara ulang. 

"Saat kita meminta suara dihitung ulang untuk memastikan penghitungan suara, ternyata surat suara telah di bawa ke Kantor Bupati Mempawah tanpa sepengetahuan saksi dan dalam kondisi tidak digembok dan disegel,” tegasnya.

Salah seorang warga Desa Kuala Secapa, Dedet (29) juga membenarkan adanya kejanggalan saat Pilkades di wilayahnya, seperti batas akhir dilakukan yang berbeda di masing-masing TPS.

"Di TPS 1 pengantaran surat suara di tutup pukul 14.00 WIB sementara di TPS pukul 14.30 WIB, padahal masih di desa yang sama, kenapa jadwal penutupannya berbeda,” tanyanya.

Kejanggalan lain dikatakan Dedet adanya perbedaan peraturan persyaratan pemilihan di TPS 2. Karena menurut dia, di TPS 2, warga dibolehkan memilih dengan menggunakan KTP atau Kartu Keluarga (KK). Sedangkan di TPS 1, aturan tersebut tidak diperbolehkan.

“Aturannya berbeda-beda, kenapa bisa begitu,” ungkapnya. (ben/jee)