Kamis, 19 September 2019


Titik Api Nihil di Mempawah

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 519
Titik Api Nihil di Mempawah

PATROLI UDARA – BPBD Kalbar melakukan patroli udara memantau ada atau tidaknya titik api di Mempawah, Kamis (19/10). Giat tersebut digelar dalam rangka pencegahan Karhutla dan status siaga Karhutla di Kalbar. Ist

BPBD Kalbar Patroli Udara


Suwarno, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalbar
Patroli dilakukan untuk mengetahui kondisi di beberapa kawasan terkait kebakaran hutan dan lahan,” 

MEMPAWAH, SP – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar menggelar patroli udara untuk melihat kondisi hutan dan lahan di Mempawah pasca penetapan status siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalbar sejak beberapa bulan lalu.  

Patroli udara semacam ini telah digelar rutin di seluruh Kalbar sejak 21 Juli 2017 dengan menggunakan helikopter Bolko 105 buatan Jerman, Kamis (19/10) sekira pukul 11.00 WIB. 

“Patroli dilakukan untuk mengetahui kondisi di beberapa kawasan terkait kebakaran hutan dan lahan,” kata Suwarno, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalbar.

Menurut dia, hasil patroli udara itu menyimpulkan di Mempawah tidak ditemukan titik api. Artinya walau sepekan terakhir ini tidak terjadi hujan namun Mempawah masih bebas dari Karhutla. “Kita hanya memantau dari udara, apakah ada titi api atau tidak. Dan ternyata masih nihil,” ucapnya.

Sebelumnya digelar pula patroli udara di Pontianak dan Kubu Raya. Dan hasilnya sama, tidak ada ditemukan titik api. "Belum ada terpantau titik api dari patroli yang kita lakukan hari ini, dari ketinggian sekitar 500 fit tidak terlihan api," terangnya.

Dia menerangkan, status siaga darurat Karhutla akan berakhir pada 31 Oktober 2017. Namun status itu dapat diperpanjang jika benar-benar dibutuhkan.

"Pengeluaran status siaga darurat Karhutla langsung dari Gubernur, karena melihat adannya laporan dari kabupaten," ungkapnnya.

BPBD Kalbar memiliki enam unit helikopter untuk melakukan patroli atau pun water boombing. Keenam helikopter itu akan rutin melakukan patrolis sesuai zonanya masing-masing.  

“Sebagian sudah digeser ke kabupaten lain untuk memantau adanya titik api,” ucapnya. 

Asfahani, Kepala BPBD Mempawah menyebut, ada tujuh kecamatan yang sering terjadi kebakaran hutan lahan. Namun saat ini ketujuh daerah itu belum menunjukkan adanya titik api.

“Kita pantau terus kecamatan yang rawan itu. Dan jika ada api langsung segera dipadamkan agar tidak menyebar,” kata 

Namun di antara tujub kecamatan itu, kecamatan Segedong, Mempawah Timur dan Anjongan yang menjadi perhatian serus. Pasalnya ketiganya dianggap yang paling rawan terjadi Karhutla.

“Kami selalu siap siaga. Jika ada Karhutla, segera koordinasi dengan kecamatan dan pemerintah desa dan segera ditangani,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar TTA Nyarong mengatakan, Penanggulangan Bencana Darurat (PDB) diselenggarakan berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Peluang Bencana dan Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2016 tentang Peningkatan Pengendalian Karhutla.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk implementasi terhadap peraturan kepala BNPB tahun 2016 tentang sistem komando penanggulangan bencana agar manajemen bencana asap akibat Karhutla di Kalbar dapat diselesaikan dengan cara terkoordinir dengan baik.

"Dan memacu pada Pergub nomor 11 tahun 2016 tentang penetapan status bencana tanggap darurat di Kalbar," kata Nyarong belum lama ini.
Nyarong juga menggambarkan, aktifasi posko penanggulangan bencana di Kalbar yaitu breafing Satgas yang di dalamnya memuat ada atau tidak adanya titik api.

Dilanjutkan dengan menyatukan pendapat dengan teknisi terkait yakni BMKG dan termasuk juga Satgas udara Lanud Supadio Pontianak.

"Juga membuat rekomendasi operasi udara water boombing yakni 80 persen helikpter beroperasi pada dataran tinggi atau tempat masyarakat berladang kalau belum mencapai 80 persen artinya tidak direkomendasikan untuk water boombing di lahan tersebut," tutur Nyarong.

Daerah Rawan Bencana

Sekretaris Daerah Kabupaten Mempawah Mochrizal menerangkan, di Mempawah paling tidak rawan terjadi empat bencana, yakni Karhutla, banjir, putting beliung dan tanah longsor. Terkait Karhutlah, dia menyebut penyebab utamanya adalah kondisi tanah gambut.

“Terkait itu kami terus melakukan pantauan dan terus memberikan peringatan. Kita selalu siap menangani bencana sembari terus berkoordinasi dengan pihak TNI Dan Polres mempawah," kata Mochrizal.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei berujar, belum bisa menyebutkan secara pasti luas lahan dan hutan yang terbakar di wilayah Indonesia.

"Sekarang ini lahan yang terbakar sedang dihitung berapa luasannya," katanya, baru-baru ini saat mengunjungi Kalbar.

Hal terpenting, setiap Karhutla sudah bisa dikendalikan sehingga tidak menimbulkan bencana asap yang berdampak pada sektor lain.

"Kalau sudah terjadi bencana asap, maka kehidupan sosial terganggu. Nah itu yang tidak kita kehendaki," ungkapnya. (ben/ang)


  •