Selasa, 12 November 2019


Dinas Kesehatan Tak Keluarkan Surat Udara Berbahaya

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 153
Dinas Kesehatan Tak Keluarkan Surat Udara Berbahaya

PEKAT – Tiga murid Sekolah Dasar (SD) terlihat menerabas kabut asap pekat di sebuah daerah. Kabut asap juga terjadi di Kabupaten Mempawah. Dinas pendidikan setempat tidak mengeluarkan libu sekolah karena kualitas udara dinilai belum berbahaya.

Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah masih menunggu rekomendasi ambang batas bahaya kabut asap akibat karhutla dari Dinas Kesehatan Mempawah untuk meliburkan sekolah. 

Hal ini disampaikan Plt Kepala Dinas Pendidikan  Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah, Sawardi, Kamis (8/8). 

Dia mengakui bahwa kabut asap akibat karhutla sudah terlihat di Mempawah. Namun kabut asap tersebut belum masuk ambang batas membahayakan.

"Biasanya, jika kabut asap tersebut sudah masuk ambang batas membahayakan, pihak Dinas Kesehatan Mempawah memberikan surat edaran," katanya.

Jika sudah menerima surat edaran terkait kabut asap akibat karhutla dalam ambang batas membahayakan, pihaknya akan meliburkan sekolah. 

"Selama ini belum ada surat edaran. Para siswa akan tetap sekolah," katanya.

Jika meliburkan siswa sekolah, pihaknya akan melihat kawasan mana kabut asap yang terbilang membahayakan.

"Artinya, tidak semua sekolah diliburkan. Kita lihat dulu sekolah mana yang dianggap kabut asapnya tebal dan membahayakan. Sekolah itu yang diliburkan," katanya. 

Diberitakan sebelumnya, dampak karhutla membuat 38 warga Dusun Telayar, Desa Sejegi, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah terserang Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 70 persen di antaranya menyerang anak-anak. 

"Sudah 38 orang warga yang terkena ISPA dan sebanyak dua buah rumah dengan tujuh jiwa sudah mengungsi ke tempat kerabatnya," ungkap Kepala BPBD Kabupaten Mempawah, Hermansyah, Selasa (6/8). 

Dikatakan bahwa karhutla mencapai 250 hektare di dua kecamatan yakni Mempawah Hilri dan Segedong. Akibatnya, terdapat beberapa warga yang menderita sakit.

"Berdasarkan data yang dihimpun, sudah sekitar 107 jiwa yang terkena dampaknya, di antaranya ada yang terkena ISPA," katanya. 

Hermansyah merincikan, 107 jiwa yang terkena dampak karhutla itu berjumlah 32 kepala keluarga. Warga yang berobat 46 orang, terkena ISPA 38 orang, diberikan vitamin A enam orang dan dua ibu hamil.

Ia mengatakan, tim medis sudah membantu memberikan bantuan terhadap warga terkena karhutla. Pihaknya juga terus berusaha melakukan pemadaman karhutla. 

"Bahkan pemadaman dilakukan dengan mengerahkan satgas udara dengan satu unit helikopter," katanya. 

Petugas gabungan terus berusaha menanggulangi karhutla, dari BPBD, pihak desa dan masyarakat, TNI, Polri serta manggala agni. 

"Kendala yang kita alami karhutla cepat meluas sehingga kita sulit menanggulanginya," tegasnya.

Sementara Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah, Jamiril menegaskan, pihaknya sudah menginstruksikan ke petugas agar turun langsung ke lokasi warga yang terkena dampak karhutla di Dusun Telayar, Desa Sejegi. 

"Pihak Puskesmas Antibar langsung memberikan pelayanan kesehatan terhadap warga yang terkena dampak karhutla di antaranya penyakit mata, ISPA dan lainnya," katanya.

Ia menghimbau terhadap masyarakat untuk mengurangi aktifitas keluar rumah pada malam hari. Jika pun hendak keluar rumah, alangkah baiknya menggunakan masker penutup hidung dan mulut. (ben/bah)