Syarif Abdullah Alqadri: Kepramukaan Berikan Pelajaran Berharga

Nasional

Editor sutan Dibaca : 1044

Syarif Abdullah Alqadri: Kepramukaan Berikan Pelajaran Berharga
Syarif Abdullah Alqadri, Anggota DPR RI
Bagi masyarakat Kalbar, nama Syarif Abdullah Alqadri sudah dikenal luas. Putera asli Kota Pontianak yang akrab dipanggil Ami ini,  sudah melanglang berbagai organisasi. Modal itulah yang mengantarkan karier politikus Partai Nasdem ini  hingga ke jenjang kelas nasional.

Terbukti, kini Ami duduk sebagai legislator di DPR RI. Di Senayan, banyak aspirasi yang sudah, sedang, dan akan diperjuangkan, terutama untuk kemaslahatan masyarakat Kalbar.
"Saya barusan habis rapat Paripurna Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Isinya mengesahkan 40 rancangan Undang-undang di tahun 2016," kata ayah tiga anak kelahiran tahun 1966 ini ketika mengawali perbincangan dengan Hendra Cipta dari Suara Pemred di ruangan Fraksi Nasdem, Gedung Nusantara 1 lantai 22, kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (26/1).    

SP: Menjadi anggota DPR, dapat dikatakan sebagai puncak karier politik seseorang, terutama bagi putra daerah. Apa kiatnya?
   

AMI: Saya merasa ditempa oleh organisasi. Sejak sekolah dasar, saya sudah aktif di pramuka, bahkan sampai sekarang. Di samping itu, saya juga pernah menjadi ketua OSIS di SMP maupun di SMA. Kemudian di perguruan tinggi, saya menjadi aktivis di senat mahasiswa.

Memasuki usia remaja, dengan pengalaman organisasi di dunia pendidikan, saya mulai merambah organisasi kepemudaan di luar kampus, seperti AMPI, Kosgoro, Komdes dan Komcat. Setelah reformasi,  saya menjadi Ketua DPW Kalbar Partai Kebangkitan Bangsa. Tahun 1999, saya  ikut pemilu,  dan menjadi anggota DPRD Kalbar periode 1999-2004 dan periode 2004-2009. Selain itu di PKB juga pernah jadi Sekretaris Dewan Syuro periode 1999-2001, dan Ketua DPW PKB periode 2001-2009 

SP:  Bagaimana Anda akhirnya bisa merapat ke Nasdem sedangkan dulunya Ketua DPW PKB Kalbar?     

AMI: Menjelang pemilu 2009, terjadi polemik di PKB, antara Gusdur dan Muhaimin Iskandar. Saya yang saat itu berada di pihak Gusdur,  otomatis ikut tergusur dan akhirnya dibentuk Nasdem yang waktu itu masih ormas. Dari masih menjadi ormas hingga berubah menjadi parpol, saya dipercaya menjadi ketua pengurusnya di Kalbar. Kemudian ikut pemilu 2014, dan terpilih menjadi anggota DPR RI. Saya ucapkan Alhamdulillah.    

SP: Kembali ke soal pengalaman organisasi. Organisasi apa yang menurut Anda paling berkesan?

AMI: Saya pikir pramuka. Kenapa? Karena bermula dari situ, menurut saya, fondasi-fondasi dasar dalam pembentukan karakter mulai terbentuk. Di kepramukaan, kita diharuskan mengeksplorasi setiap bakat, selain juga dituntut untuk terus inovatif.

Di sisi lain, kita juga berlatih bagaimana cara beradaptasi yang baik dengan berbagai komponen dan golongan masyarakat. Kepramukaan juga merupakan organisasi yang memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda. Misalnya,  pembentukan watak, sikap, perilaku sehingga kemandirian bisa terbentuk secara alamiah.  

SP: Anda pernah meraih penghargaan kehormatan ketika aktif di kepramukaan. Bisa diceritakan pengalaman itu?
  

AMI:  Alhamdulillah, saya bersyukur atas penghargaan yang diberikan itu. Penghargaan itu sekaligus menjadi beban bagi saya, karena harus bisa mengimplementasikannya di lapangan. Ini sebagai bentuk komitmen saya pada dunia kepramukaan.  

SP: Sebelum di kepramukaan,  Anda adalah seorang akademisi. Kenapa akhirnya bisa terjun ke dunia politik?    

AMI: Seperti yang saya bilang tadi. Ini seperti panggilan jiwa. Politik praktis juga tidak merenggut dunia akademisi saya sepenuhnya. Hingga kini, saya masih tercatat sebagai dosen di UPB, dosen Kopertis, dan saya juga masih mengajar.     

SP: Apa yang Anda alami saat pertama kali terjun ke politik praktis?
  Pada masa-masa awal di politik, saya memang perlu penyesuaian. Sebab,  akademisi dan politik itu berbeda. Terutama pada pola pikir. Seorang akademisi lebih berbicara fakta dan realita yang ada, dan hanya sampai di situ.
Sedangkan di politik, selain juga fakta dan realita, tapi bedanya, adalah sangat dinamis,  dan berjalan terus. Sempat perlu penyesuaian, akan tetapi pengalaman saya sebagai dosen juga banyak memberikan bekal untuk menjadi politisi.     

SP: Apa yang membuat dapat Anda bertahan hingga sekarang?


AMI: Background
pendidikan saya lulusan fakultas hukum. Tentu tidak jauh, karena di sini (DPR),  banyak persoalan yang berkaitan dengan legal standinatau kedudukan hukum dan segala macam. Lagi pula, pengalaman saya berorganisasi itu sudah sejak masa sekolah.
 

SP: Apa suka duka selama Anda berkecimpung di dunia politik?  

AMI: Suka dukanya pasti ada. Banyak sekali, tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Salah satunya saja, misalnya? Pasti ada yang menarik.
Politik itu tidak ada kamusnya. Yang  ada insting. Sangat dinamis. Kita dituntut untuk selalu dinamis berpikir, tidak pernah berhenti. Tapi,  kadang juga dukanya, adalah ketika ada kepentingan politik yang harus kita perjuangkan, dan mengindahkan rasa yang harus tidak kita lakukan, tapi akhirnya kita lakukan untuk kepentingan yang lebih baik.


SP: Nama Anda kerap disebut sebagai tokoh Kalbar yang potensial dan masuk dalam setiap bursa pencalonan kepala daerah. Apakah Anda tertarik untuk maju dalam pertarungan Pilkada Wali Kota Pontianak atau Gubernur Kalbar mendatang?


AMI: Tidak ada langkah politik ke depan. Saya mengalir saja,  seperti air. Saya pikir,  wajar sebagai orang politik dikait-kaitkan dengan bursa pencalonan kepala daerah, apalagi saya ketua partai. Kembali lagi. Saya mengalir saja, dan melihat realita yang ada. (pat)