Daniel Johan: Imlek dan Cap Go Meh Berkat Gus Dur

Nasional

Editor sutan Dibaca : 1255

Daniel Johan: Imlek dan Cap Go Meh Berkat Gus Dur
Daniel Johan, Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Kalbar
Memiliki nama kecil Tjong Nyuk Hao, Daniel Johan tumbuh-besar di kawasan Pekajon, Kali Angke, Jakarta Barat, meski sebenarnya daerah asalnya adalah Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi  Kalimantan Barat.

Pekajon adalah sebuah daerah yang pada 9 Oktober 1740, merupakan tempat pembantaian  etnis Thionghoa selama tiga hari yang dilakukan oleh  VOC Belanda. Masa lalu yang buruk tak menghentikan semangat dan kecintaan Daniel terhadap Bangsa Indonesia.

Dilahirkan pada 10 April 1972, bungsu dari enam bersaudara ini dikenal sebagai sosok yang pintar dan periang bahkan cenderung kritis terhadap berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Di temui Hendra Cipta dari Suara Pemred di ruang Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (11/2),

Daniel bercerita banyak. Mulai  soal masa muda yang mengantarkannya  duduk di Senayan, pandangannya tentang LGBT (Lesbian, Gay, Bisex dan Transgender), pemilihan gubernur di DPRD,  dan rencana pembubaran Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia.  


SP: Bagaimana ceritanya Anda bisa masuk PKB?

Daniel: Saya sejak mahasiswa memang sudah mengenal Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB). Jadi pada tahun 2007, ketika ditawarkan masuk partai, saya akhirnya bersedia. Tapi, saya sebelumnya mendiskusikan hal ini dengan banyak pihak, termasuk keluarga, guru, dan sahabat.

SP: Motivasi Anda waktu itu? Daniel: Saya memang pengagum berat Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Tahun dua ribu, waktu saya bertemu Beliau di  Istana Negara, Beliau mendorong saya untuk masuk partai politik. Dan ketika saya bilang mau masuk PKB kepada keluarga, semuanya mendukung. Karena memang faktor Gus Dur bagi kalangan Tionghoa sangat berpengaruh dan berjasa. Jika tidak ada Gus Dur,  mungkin tidak ada Imlek dan Cap Go Meh. Gusdur dianggap sangat membela kepentingan etnis kami di Indonesia.  

SP: Seperti apa Gus Dur di mata Anda?

Daniel: Gus Dur-lah salah satu guru yang mengajarkan arti kebangsaan bagi saya. Saya mengenal Gus Dur dari media massa. Bahkan sejak saya kecil, saat itu ayah  merasa memiliki kedekatan visi dan emosional dengan Gus Dur. Saya banyak tahu tentang politik yang humanis, pluralitas,  dan kebhinekaan bangsa ini. Bahkan bagaimana memandang rakyat kecil itu saya pelajari dari sikap Gus Dur.
 

SP: Anda sekarang duduk sebagai anggota DPR. Apa benar PKB mau mengusulkan kembali wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD?

Daniel: Iya benar, tapi hanya untuk gubernur, sedangkan untuk bupati dan wali kota tetap dipilih langsung.

SP: Memilih lewat DPR sekalipun hanya gubernur dianggap banyak kalangan sebagai tindakan yang tidak populer. Apa alasan PKB?  

Daniel: Karena gubernur itu wakil pemerintah pusat, kemudian kita harus kembali ke akar Pancasila, sila keempat. Kecuali memang bupati atau wali kota, sebab kedua kepala daerah ini lebih dekat dengan masyarakat. Untuk gubernur, kita berusaha mengembalikan tatanan negara kita,  agar lebih dekat dengan Pancasila. Selain itu, pertimbangannya adalah akan mengirit biaya tentunya

SP: Sejauh ini, apa yang sudah Anda maupun PKB lakukan?

Daniel:  Sekarang kita lagi komunikasi antarfraksi untuk mencari dukungan dan menyamakan persepsi, seperti dengan PDIP dan Nasdem. Dengan tata negara yang lebih sesuai dengan karakter negara kita, kita berharap negara akan lebih baik.

SP: Apa tanggapan dua partai tersebut?

Daniel: Oke sih mereka. Cuma yang harus kita pikirkan, adalah bagaimana jalannya dan mekanisme apa yang akan ditempuh.

SP: Apa benar memang PKB ingin membubarkan DPD RI? Daniel: Ya, intinya memperkuat DPD atau bubarkan, karena memang karena tidak ada fungsinya. Mana ada fungsinya, beda dengan senat di Amerika Serikat.  

SP: Mengenai LGBT, apa pandangan Anda?

Daniel: Tentu PKB menolak perkawinan sejenis, tapi jangan ragukan bahwa PKB akan tetap konsisten untuk menjaga dan membela hak-hak warga negara. PKB akan konsisten untuk selalu membela hak-hak kaum minoritas, termasuk LGBT.

SP: Menolak perkawinan sejenis tapi mendukung tindakan mereka. Apa ini tidak bertolak belakang?

Daniel: Kita menolak perkawinan sejenis, tetapi hak dia sebagai warga negara seperti pendidikan, hak mencari pendapatan, hak untuk hidup, harus dilindungi. Itu perintah konstitusi, kan gak ada konstitusi yang mengatakan untuk melindungi rakyat segenap tumpah darah kecuali LGBT. Mana ada kalimat seperti itu? Jadi, semua, gak hanya LGBT. Semua kita lindungi, selama mereka warga negara, kecuali kriminal. Patokannya, konstitusi.  

SP: Bagaimana Anda menilai pluralisme di Kalbar?  
Daniel: Pluralisme di Kalbar selama ini berjalan baik. Cuma, kan yang paling penting adalah masyarakat bawah atau grass root itu makin dewasa, harus makin matang. Jangan mau diadu domba karena kepentingan elit. Nah,  kerusuhan dan pertikaian di masyaralat itu terjadi karena dimainkan oleh elit, dengan memakai etnisitas,  memakai agama. Kalau elitnya damai-damai, gak ada macam-macam. Masyarakat damai, kok. Karena jika mau diadu domba oleh elit maka yang rugi masyarakat pastinya, yang korban pasti masyarakat. Tinggal bagaimana masyarakat harus bersatu, seluruh lintas etnis, seluruh lintas agama, ada keadilan, ada persamaan, ada kesetaraan.   
 

SP: Bagaimana perjuangan Anda sebagai anggota DPR untuk membangun Kalbar? 

Daniel:  Saya komit membangun Kalbar. Saya komit memikirkan air bersih di Kalbar harus ada, meski sekarang UP2DP masih belum lolos. Padahal dengan itu,  saya ingin menuntaskan masalah air bersih.  Programnya sudah diajukan. (pat)