Ade Komarudin dan Morkes Effendi Tertangkap Basah di Hotel

Nasional

Editor sutan Dibaca : 2411

Ade Komarudin dan Morkes Effendi Tertangkap Basah di Hotel
Sejumlah kendaraan melintas di sekitar bendera Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, Rabu (11/5). Munaslub Partai Golkar akan digelar 15-17 Mei 2016, terlihat semarak dengan dipasangnya berbagai atribut partai di sepanjang jalur utama Denpasar-Nusa Dua. ANTAR
JAKARTA, SP – Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar, Ade Komarudin (Akom) dikabarkan kedapatan melakukan pertemuan dengan Pimpinan DPD tingkat I Partai Golkar dari Kalimantan Barat, di Hotel Grand Melia Jakarta, Selasa (10/5), pukul 12.00-13.00 WIB.

Menurut Ketua Komite Etik Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), Fadel Muhammad, pertemuan tersebut dapat dikategorikan melanggar ketentuan yang berlaku, dalam rencana penyelenggaran Munaslub Partai Golkar, pekan depan di Bali.  

Operasi tangkap tangan itu berawal dari adanya sebuah laporan, mengenai dugaan pertemuan terlarang itu. Dari laporan tersebut, kemudian dia mengirim sejumlah anggota Komite Etik untuk menyergap.

Sebelumnya, mantan Gubernur Gorontalo ini menyebutkan, komite etik telah menugaskan sebanyak 40 orang, mengikuti dan memantau pergerakan seluruh calon kemanapun. “Termasuk pemilik suara, juga kita pantau. Kemudian ada laporan pertemuan itu, saya kirim orang ke sana. Si Butar Butar dan Lawrence Siburian yang nangkap,” kata Fadel, Rabu (11/5) di Jakarta.      

Fadel menuturkan, anggota Komite Etik Munaslub Golkar yang datang bersama dua staf tersebut, mendatangi lokasi pertemuan dan menyampaikan bahwa sudah ada peraturan etik yang melarang adanya pertemuan caketum dengan DPP, DPD I dan II selaku pemegang hak suara pemilihan di luar agenda Steering Committee (SC) yang ditentukan.

Dipastikannya, tidak ada yang keliru dalam penyergapan itu. Mantan Gubernur Gorontalo ini menambahkan, pihaknya belum menemukan indikasi adanya politik uang dalam pertemuan siluman itu.

Menurutnya, Caketum Ade Komarudin turut hadir dalam pertemuan. Hal itu dapat dibuktikan dengan bukti-bukti foto yang dimiliki komite etik. “Kini sedang kita siapkan laporannya untuk diproses dalam sidang etik. Kamis (red-12/5) ini akan kami mintai keterangannya dalam sidang etik di Bali. Soal sanksi belum ada, karena kami belum menyidangkan dan perlu bukti-bukti tambahan,” katanya.

Lawrence Siburian, panitia Munaslub mengatakan, panitia telah mengatur agenda bagi seluruh Caketum Golkar untuk bertemu dan berkampanye dengan pemilik suara di Golkar. “Sudah dijadwalkan, contohnya 12-13 Mei nanti di Bali akan ada kampanye.

 Lalu di Surabaya dan di Sumatera Utara, barulah di situ ?semua calon boleh kampanye, bertemu melobi pemilik suara. Ini kan sudah disepakati, kenapa dilanggar?” tandasnya. Perwakilan tim sukses Ade Komarudin di Munaslub, Bambang Soesatyo ketika dikonfirmasi Suara Pemred, membantah perihal tangkap tangan pertemuan Akom dengan Pimpinan DPD Golkar Kalbar tersebut.

Menurutnya, hal itu merupakan tuduhan yang dapat menyudutkan Akom sebagai Caketum Golkar. Dia menegaskan, jika pihak-pihak yang melakukan tuduhan itu tidak menyertakan alat bukti, pihaknya akan melaporkan perihal tersebut ke penegak hukum. “Tidak ada suap-menyuap dan tidak ada pertemuan. Tidak benar. Saya jamin itu. Tim hukum Akom (Ade Komarudin) akan mengambil langkah hukum, atas fitnah suap tanpa bukti tersebut,” kata Bambang.

Adang Bantah
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Kalbar, Adang Gunawan membatah telah terjadi pertemuan yang direncanakan antara Ketua Partai Golkar Kalbar, Morkes Effendi dengan salah satu Caketum Partai Gollkar.

"Kejadiannya sebenarnya tidak seperti itu. Kebetulan ketua kami, Pak Morkes Effendy baru saja datang ke hotel itu, dan tidak sengaja ketemu Pak Komarudin yang mungkin ada kegiatan di hotel itu,” jelas Adang Gunawan kepada Suara Pemred, saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Sebagai sesama orang Golkar dan sudah saling kenal, wajar saling tegur dan saling bersalaman. “Berpapasan buang muka dan tidak menyapa, malah itu yang aneh," jelas

Adang Gunawan. Adang juga menjelaskan bahwa, Dewan Kehormatan Partai Golkar sudah melakukan tugasnya dengan kejadian tersebut. Hasilnya tidak ada sanksi apa-apa, karena memang  pertemuan itu tidak sengaja dan di tempat terbuka.

“Apalagi sampai ada tuduhan tertangkap tangan atau transaksi uang, itu isu yang menyesatkan.  Jadi, semua sudah clear. Saya pun ketika itu berada di luar hotel," kata Adang.


Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya (DPD Golkar) Provinsi Kalbar, Ibrahim Dahlan mendesak Komite Etik Munaslub menindak tegas, terhadap pelanggar aturan.   “Kalau ada pertemuan dengan calon ketua umum, mesti ditindak. Kalau tidak ditindak maka kewibawaan Panitia Munaslub akan turun. Ini saatnya menegakkan aturan demi kewibawaan dan harga diri Partai Golkar,” kata Ibrahim Dahlan.  

Ibrahim berkata, kelompok Adang Gunawan harus mampu menjaga nama baik Partai Golkar dari Kalbar. Tidak boleh terjebak kepentingan pragmatis yang bisa merugikan nama baik Golkar di masa mendatang. “Mestinya dalam suasana rekonsiliasi, semua pihak harus mampu menahan diri dalam banyak hal. Terutama masalah etika, demi kewibawaan Partai Golkar di masa mendatang,” ujarnya.

Komite Etik


Komite Etik dibentuk menjelang Munaslub Golkar dengan tujuan mengawal rekonsiliasi Golkar yang fair, bersih, dan bebas permainan money politics. Lalu, apakah sejauh ini komite etik netral berdiri di tengah?

Pertanyaan besar ini muncul seiring semakin panasnya suhu politik menjelang Munaslub Golkar. Sejumlah timses Caketum mulai mempersoalkan netralitas Komite Etik Golkar, terutama menyangkut penghakiman terhadap ada atau tidaknya pelanggaran terhadap manuver para Caketum menjelang Munaslub.


Bambang menuding bahwa Komite Etik Munaslub tidak mengerti aturan yang telah ditetapkan panitia pengarah, dalam mengawasi upaya pelanggaran yang mungkin dilakukan. Menurutnya, dalam buku kode etik, tepatnya pada Bab X Pasal 10 tentang larangan Caketum Partai Golkar, menegaskan bahwa tim sukses dilarang bertemu dengan pemilik suara.

Jika demikian, Bambang mempertanyakan, bagaimana pertemuan yang dilakukan tim sukses salah satu calon dengan pemilik suara di Hotel Ritz Charlton, dan dalam turnamen golf itu tidak dianggap melanggar oleh Komite Etik.

“Pertemuan di Ritz Charlton dan turnamen golf yang dihadiri oleh tim sukses Caketum, jelas-jelas telah melanggar aturan etik. Bagaimana seorang Fadel Muhammad dan Lawrence Siburian, tidak tahu aturan terkait larangan itu,” terangnya.

Wajar kubu Akom kecewa, pasalnya perlakuan berbeda dilakukan Komite Etik kepada kubu Setya Novanto. Pertemuan pengurus daerah di Hotel Ritz-Carlton yang dihadiri juga oleh sejumlah tim sukses Setya Novanto tidak dianggap sebagai pelanggaran.

"Yang di Ritz-Carlton tim suksesnya. Yang dilarang itu Caketumnya, panitia penyelenggara dan peserta," kata Wakil Ketua Komite Etik Munaslub Golkar, Lawrence Siburian.

Pertemuan di Ritz-Carlton itu berlangsung pada Senin (9/5) lalu. Menurut Lawrence, tim sukses dibebaskan berinteraksi dengan pengurus daerah yang merupakan pemilik suara.  "Kalau timsesnya tidak diatur, dia boleh melobi siapa ajak siapa dia boleh," ungkapnya.

Lalu apa gerangan yang bakal diputuskan sidang Komite Etik Munaslub Golkar pada Kamis (hari ini)? Apakah sikap tak seimbang Komite Etik akan berujung ke gugatan ke penegak hukum? (ang/aju/hd/ant/det/cnn/lis/sut)