Dua Caketum Partai Golkar Akan di Sidang Etik

Nasional

Editor sutan Dibaca : 839

Dua Caketum Partai Golkar Akan di Sidang Etik
Caketum Partai Golkar periode 2016-2019 Priyo Budi Santoso (kanan) mengambil nomor urut disaksikan caketum Setya Novanto, Ade Komarudin dan Airlangga Hartarto di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Sabtu (7/5). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
JAKARTA, SP – Komite Etik Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar diminta menjalankan proses sidang dugaan pelanggaran yang dilakukan dua calon ketua umum (Caketum), Ade Komarudin (Akom) dan Setya Novanto secara benar dan beretika.

Anggota Fraksi Golkar di DPR RI, Bowo Sidiq Pangarso menyatakan, “Proses sidang yang tak objektif dan tak mengungkapkan fakta, dapat merugikan Caketum yang diduga melakukan pelanggaran.”

Namun sebaliknya, jika kemudian ditemukan atau dapat dibuktikan adanya pertemuan-pertemuan yang menjanjikan uang atau memberikan uang, maka harus diberikan sanksi yang tegas. Seperti misalnya mendiskualifikasi. “Saya pikir dalam bersidang komite etik harus menggunakan kode etik pula. Jangan sampai keputusannya merugikan calon ketua umum yang bersangkutan,” kata Bowo yang merupakan tim sukses pemenangan Azis Syamsudin, Kamis (12/5) di Jakarta.

 Ia menegaskan, jika ada pertemuan-pertemuan yang menjanjikan money politic, memberikan uang, maka harus tegas. “Tegasnya itu mendiskualifikasi,” ujarnya.

Pada dasarnya, para Caketum bebas saja untuk bertemu dengan para pemilik suara, yang terdiri dari pengurus DPD dan DPC Golkar se-Indonesia. Hanya saja, hal itu akan bisa menimbulkan masalah, jika dalam pertemuan tersebut disisipi dengan agenda-agenda yang tidak wajar, terlebih mengarah kepada politik uang. “Jika cuma bertemu kan saya kira tidak masalah. Tapi kalau ada upaya menyusupkan agenda-agenda lain yang tidak wajar apalagi Money Politic. Itu yang salah,” ucapnya.

Diakuinya, kepanitian dalam Munaslub kali ini, memang mengantisipasi terjadinya politik uang. Maka dari itu, segala macam aturan dibuat untuk mencegahnya. “Adanya indikasi Caketum yang bermain money politic. Itu yang buat panitia pengerah lebih ketat aturannya. Sedangkan kami semua (Golkar) berharap money politic itu bisa dihindari,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, terkait akan dugaan pelanggaran etik itu, Komite Etik Munaslub Golkar memastikan akan memanggil Ade Komarudin dan Setya Novanto, dalam sidang kode etik yang digelar kemarin, Kamis (12/5) malam di Nusa Dua, Bali. “Kita akan panggil semuanya, kita tidak main-main. Tapi setelah kita rapat ya, mungkin setelah rapat satu atau dua jam kita akan lakukan sidang,” kata Wakil Ketua Komite Etik Munaslub, Lawrence Siburan.

Diungkapkannya, memang belum dilakukan pemanggilan terhadap kedua Caketum tersebut, lantaran saat ini seluruh panita Munaslub masih berada di beberapa daerah berbeda. Namun hari ini, direncakan untuk sudah berkumpul di Bali. “Belum ada surat pemanggilan untuk keduanya. Kenapa, karena kita ada acara di Medan dan lain-lain, jadi kita terpencar-pencar, baru hari ini kumpul di Bali maka kita akan rapat hari ini,” ucapnya.

Dipanggil Paksa Lawrence memastikan bahwa, Komite Etik akan bekerja secara fair dan objektif. Jika setelah dilakukan pemanggilan, kedua Caketum tersebut tidak hadir, maka Komite Etik dapat melakukan pemanggilan secara paksa. Dia membantah adanya anggapan perbedaan penanganan dalam perkara dugaan pelanggaran etik yang dilakukan dua Caketum Partai Golkar, Ade Komarudin dan Setya Novanto.

Mantan ketua DPP Golkar versi Agung Laksono ini mengatakan, perkara dugaan pelanggaran etik oleh Ade Komarudin, diketahui melalui operasi tangkap tangan. Sementara dugaan pelanggaran etik oleh Setya Novanto, berdasarkan laporan dan temuan di media. “Jelas dong bisa (panggil paksa) dan kita itu fair dan kita objektif, tetapi kalau misalnya Grand Melia itu (Ade Komarudin) karena temuan langsung dan diangkat oleh media, tapi yang satu orang itu (Setya Novanto) karena tidak ada temuan langsung dan tidak diangkat media,” ujarnya.

Sebelumnya diketahui, Ade Komarudin dikabarkan tertangkap tangan oleh Komite Etik, karena melakukan pertemuan dengan pimpinan DPD I Golkar dari Kalimantan Barat. Sementara Setya Novanto, dilaporkan ke komite etik terkait dengan kasus lamanya: ’Papa Minta Saham’.

Pengamat politik dari Sahabat Institute, Fitra mengatakan pertemuan antara Morkes Effendi dengan salah satu calon ketua umum (Caketum) DPP Partai Golkar Ade Komarudin (Akom) di hotel Gran Melia Jakarta, memang wajar jika hal tersebut disinyalir sebagai pertemuan yang penuh dengan muatan politis. “Sulit untuk dibantah, pertemuan tersebut tidak ada kaitannya dengan suksesi,” ujarnya.

Meski begitu, sebagaimana diketahui Partai Golkar punya aturan sendiri untuk memastikan hal itu. Yakni melalui jalur hukum lewat Komite Etik. “Mekanismenya di Partai Golkar itu ada Komite Etik,” kata Fitra.

 Terkait dengan Munaslub Partai Golkar, Fitra menilai aroma money politic sulit untuk dikesampingkan. Terlebih lagi, sebelumnya sempat terjadi perselihan terutama dalam hal biaya pendaftaran masing-masing Caketum. “Seperti Sahrul Yasin Limpo daftar gratis, tapi ada Caketum lain yang dikenai biaya sebesar Rp 1 miliar. Dari awal saja, sudah ada biaya. Bisa jadi, tahapan berikutnya akan ada money politic demi menjadi Ketum,” ungkapnya.

Munaslub Dimajukan Di tengah dinamika Munaslub yang semakin panas, panitia penyelenggara nyatanya memajukan agenda jadwal pembukaan. Sedianya, Munaslub akan dibuka pada Minggu (15/5) pagi, tapi dimajukan pada Sabtu (14/5) malam.

Kepastian dimajukannya jadwal pembukaan yang akan digelar di Nusa Dua Bali itu, dipastikan Koordinator Bidang Humas, Meutya Hafid. “Dimajukannya agenda Munaslub adalah tidak lain dan tidak bukan, karena faktor teknis saja. Tetap akan dibuka oleh Presiden,” kata Meutya, Kamis (12/5) di Jakarta.

 Meutya menjelaskan, faktor teknis yang dimaksud adalah, perkiraan kesulitan untuk mengkoordinir ribuan peserta Munaslub. Disebutkannya, peserta dan peninjau sekitar 3600 orang. “Agak sulit jika jam sembilan pagi pelaksanaannya. Sehingga dibuat malam, karena lebih mudah untuk pergerakan hampir 4000 orang tersebut,” jelasnya.

Meutya menyatakan bahwa, agenda lain tidak ada perubahaan. Kecuali pada agenda pra munas yang akan juga dimajukan, mengingat pada malam harinya sudah dilakukan pembukaan. “Sabtu 14 Mei, yang sedianya pramunas memang direncanakam selesai sore, tapi mungkin akan dimajukan, agar selesai lebih cepat untuk memberi waktu cukup persiapan pembukaan Munaslub,” tuturnya.(ang/umr/ant/det/cnn/lis)

Yasir Protes Judul

Ketua DPD Partai Golkar Ketapang, Yasir Anshari menegaskan dirinya memprotes pemberitaan Suara Pemred, edisi Kamis (12/5) dengan judul “Akom dan Morkes Ketangkap Basah” yang dinilai terlalu berlebihan.

Ia menilai kalau ungkapan kata tertangkap basah memiliki konotasi seperti melakukan kejahatan. Sedangkan, ia menilai pertemuan Ketua Partai Golkar Provnsi Kalbar sekaligus ayahnya tersebut, Morkes Efendi dengan Calon Ketua Umum (Caketum) DPP Golkar Pusat, Ade Komarudin hanya sebuah kebetulan.

"Saya protes sama judul di koran ente, seharusnya tidak usah judulnya seperti itu kesannya berkonotasi jahat. Kalau mau cari sensasi tidak usah begitu, kalau ketangkap basah itu seperti mencuri, korupsi. Jadi, saya protes sama judul seperti itu," ungkapnya, Kamis (12/5).

Ia menegaskan, Morkes Efendi tidak melakukan sebuah kejahatan, sehingga harus diberitakan dengan judul ketangkap basah. Apalagi pertemuan tersebut bukan suatu kesengajaan.

"Jadi, setelah saya konfirmasi ke bapak, ternyata bapak saat itu baru sampai di lokasi untuk bersantai. Ternyata Bang Akom juga ada di situ. Katanya mau ketemu Tomi atau siapa. Jadi berpapasan, kan tidak mungkin tidak saling tegur atau pura-pura tidak kenal. Saling tegur sapalah, kan aneh kalau dibilang tertangkap basah,” ujarnya dengan ketus.

Ia menilai, pemberitaan tersebut dikait-kaitkan dengan pemilihan Caketum DPP Golkar. Padahal, ia menilai saat ini Munaslub belum digelar sehingga tata tertib tatib Munaslub, kode etik dan segala macamnya, ditetapkan dalam Munaslub.

“Jadi, apanya yang ditangkap basah,” tanyanya.

Saat ditanya mengenai Ade Komarudin yang pernah datang ke Ketapang sekitar 3 dan 4 Mei waktu lalu, Yasir mengaku jika sebelumnya Ade Komarudin pernah datang ke Ketapang. Namun, kedatangannya dalam rangka melakukan safari biasa.

"Dia kasih tahu mau datang, ya kita sambutlah. Jadi, kedatangan dia ke Ketapang cuma safari biasa jak,” ujarnya.
Ade Komarudin juga singgah di tempat lain. Karenanya, Ade Komarudin dibawa ke Pemkab Ketapang. Juga bawa perwakilan Politeknik Ketapang yang saat itu, meminta bantuan dengan DPR RI.(teo/lis/sut)