Sabtu, 21 September 2019


BI: Pendekatan Klaster Kendalikan Inflasi

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 738
BI: Pendekatan Klaster Kendalikan Inflasi

Para Pembicara pada Temu Wartawan Daerah di Hotel Grand Mercure, Jakarta SUARA PEMRED/NOVA SARI

JAKARTA,SP – Pendekatan Klaster dapat mengendalikan inflasi. Pendekatan ini, menjadi satu di antara program Bank Indonesia (BI) dalam pengendalian. Pengendalian Klaster merupakan kerja sekelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang beroperasi pada sektor atau sub sektor yang sama.  

Melalui Pengendalian Klaster, yang dikonsentrasikan para pengusaha dengan saling berhubungan dari hulu ke hilir. Hal ini sesuai dengan misi Departemen Pengembangan UMKM 2016, yaitu meningkatkan akses dan jangkauan UMKM terhadap jasa keuangan melalui pengembangan UMKM.
 

“Kita mendukung stabilitas sistem keuangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Caranya, dengan mendorong penyaluran kredit UMKM dari sisi perbankan kemudian peningkatan kapasitas ekonomi UMKM, yang diharapkan dapat meminimalisir kesenjangan informasi,” kata Deputi Direktur Departemen Pengembangan UMKM BI, Ika Tejaningrum.  

Adapun tujuan akhir dari jenis pengendalian ini berdampak pada peningkatan koordinasi dan kerjasama dengan stakeholder. Dalam pengembangan UMKM oleh Bank Indonesia, dilakukan  untuk mendukung tugas pencapaian BI.
 

Adapun tugas yang dimaksud dengan menjaga stabilitas moneter melalui terlaksananya fungsi dari sisi sup
ply. Kemudian stabilitas sistem keuangan melalui terlaksananya fungsi intermediasi perbankan yang lebih seimbang.
  "Yang kemudian kehandalan sistem pembayaran melalui dukungan terhadap penggunaan rupiah dan pemanfaatan elektronifikasi pembayaran," paparnya.  

Terkait strategi dan program utama dalam pengembangan UMKM, Yaitu dengan mendorong penyaluran kredit UMKM dari sisi perbankan, kapasitas ekonomi UMKM, Informasi serta kerjasama dan koordinasi.  

"Satu di antaranya mengenai kapasitas ekonomi UMKM. Selain itu, meningkatkan daya beli masyarakat dan pasokan komoditas volatile food. Dengan melakukan pengembangan klaster (komoditas pendukung ketahanan pangan dan menjaga inflasi,lalu pengembangan UMKM unggulan," ujar Ika.
 

Ika juga menyebutkan, beberapa Best Practice pengembangan Klaster di BI, seperti Padi Hazton, Padi Organik, Bawang putih dengan pembibitan benih, Cabai Merah dengan teknologi rain shelter. Ada juga Cabai Merah dengan pengaturan pola tanam, pakan ternak dengan alfafa, kandang sapi komunal dan Udang Vaname.
 

Penyampaian Ika termasuk satu di antara sesi materiu isu ekonomi, yang dibahas pada pertemuan BI dengan jurnalis dari media daerah. Pertemuan ini digagas oleh BI, dalam rangka menambah pengetahuan dan pemahaman jurnalis.  

"Bagi jurnalis, isu Pilkada atau politik lebih seksi dan lebih mudah dicerna ketimbang isu ekonomi, karena isu ekonomi memang sulit dipahami dan masyarakat juga sedikit yang berminat, padahal dalam kehidupan kita tidak bisa lepas dari ekonomi," kata Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara.  

Mirza yang menjadi pembicara utama dalam Temu Wartawan Daerah yang digelar BI di Hotel Grand Mercure, mencontohkan, istilah ekonomi yang sulit dicerna masyarakat umum itu di antaranya, secara garis besar tugas BI dibagi tiga, yakni mengenai moneter, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan.

"Dari tiga hal ini, saya akan mulai dari istilah ekonomi yang lebih mudah dipahami, yakni mengenai sistem pembayaran. Bicara soal pembayaran tunai, tentu harus ada uang kertas atau uang logam. Uang inilah yang dicetak oleh Perusahaan Umum Percetakan Rupiah Republik Indonesia (Peruri)," ujarnya.

Asisten Direktur Departemen Ekonomi Moneter BI, Handri Adiwilaga mengatakan saat ini soal pengendalian inflasi pangan masih menjadi tantangan di Indonesia. Inflasi pangan tersebut meliputi tata niaga pangan, pengelolaan distribusi, cadangan dan pasokan pangan.
 

“Tantangan yang ada meliputi risiko inflasi dari gejolak harga pangan perlu diwaspadai. BI memprediksikan inflasi tahun 2016 akan berada pada batas bawah dari rentang 4 plus minus 1 persen,” tuturnya. (tim sp/sut)