Kamis, 14 November 2019


Inilah Penyebab Punahnya Agama Kaharingan di Kalbar

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1533
Inilah Penyebab Punahnya Agama Kaharingan di Kalbar

Ritual Tiwah (NET)

BANDUNG, SP – Penulis buku 'Punahnya Agama Kaharingan di Kalimantan Barat' Aju, menilai praktik Katolikisasi di kalangan Suku Dayak Uud Danum di Kalimantan Barat difasilitasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Kodam XII/Tanjungpura, sehingga Agama Kaharingan punah.

“Katolikisasi melalui kedatangan tiga ribu guru Sekolah Dasar (SD) Negeri dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Kalimantan Barat periode 1978 – 1982,” kata Aju, pada Extention Course of Cultural and Religion di Fakultas Filsafat,  Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Senin (14/11) petang.

Dalam makalah berjudul 'Agama Kaharingan di Persimpangan Jalan di Kalimantan' Aju mengatakan sebagai agama asli Suku Dayak di Kalimantan, Kaharingan tinggal kenangan di Provinsi Kalimantan Barat.  Pasalnya,  pasca operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) 1966 – 1974, Kaharingan di kalangan Suku Dayak Uud Danum yang berada di Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau di Kabupaten Sintang, serta Kecamatan Menukung dan Kecamatan Ella Hilir di Kabupaten Melawi, tidak dianggap sebagai agama bagi pemerintah. 

Saat bersamaan, Kodam XII/Tanjungpura dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, mengeluhkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mampu mengagamakan Suku Dayak. “Karena persamaan budaya, dan sebagian besar guru SD Pegawai Negeri Sipil dari Provinsi NTT beragama Katolik, maka Suku Dayak Uud Danum di Kalimantan yang sebelumnya menganut Agama Kaharingan, diinstruksikan memeluk Agama Katolik. Ini penyebab Agama Kaharingan punah di Kalimantan Barat,” ungkap Aju.

Aju mengatakan, di Provinsi Kalimantan Tengah yang dikenal sebagai pusat Agama Kaharingan di kalangan Suku Dayak Uud Danum dan Suku Dayak Ngaju, kelangsungan hidup Agama Kaharingan, sudah berada di persimpangan jalan. Penyebabnya, kata Aju, karena regulasi pemerintah. 

Semenjak Sekolah Tinggi Agama Hindu Kaharingan (STAHK) berubah menjadi perguruan tinggi negeri bernama Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) tahun 2010, hampir seratus persen mata kuliah Agama Kaharingan, sudah tidak terakomodir lagi. Seluruh jurusan dan program studi di STAHN Palangkaraya, berorientasi Agama Hindu, kendatipun tahun 2016/2017 dibuka Program Studi Hukum Adat Dayak dan Kepanditaan (mendidik calon pemimpin ritual Kaharingan).

Aju menuturkan, Kaharingan adalah agama yang akrab dengan alam bagi kalangan Suku Dayak Uud Danum dan Dayak Ngaju di Kalimantan. Bagi pemeluk Agama Kaharingan atau pemegang Tradisi Kaharingan, gunung, bukit dan hutan belantara, diyakini sebagai tempat tinggal arwah kaum leluhur.  

"Merawat dan melestarikan alam sekitar, wajib hukumnya bagi pemeluk Agama Kaharingan. Demikian pula, merusak alam, diyakini para pemeluk Agama Kaharingan akan mendapat kutukan dari roh leluhur," ungkap Aju, yang juga jurnalis Suara Pemred.

Kendati sudah memeluk agama lain, kalangan Suku Dayak Uud Danum dan Dayak Ngaju, masih menganggap Kaharingan sebagai bagian tidak terpisahkan dari kebudayaannya. Di kalangan Suku Dayak Uud Danum di Provinsi Kalimantan Barat, kendati sudah memeluk Agama Katolik, tapi mereka tetap menggelar Ritual Tiwah atau Darok bagi anggota keluarga yang meninggal dunia. Tiwah adalah upacara menghantar roh leluhur ke surga.

Ada program pemerintah di Kalimantan yang bisa sinergikan dengan tradisi Agama Kaharingan, yaitu Heart of Borneo (HoB) atau Kawasan Jantung Borneo. HoB dibentuk Kerajaan Brunei Darussalam, Federasi Malaysia dan Republik Indonesia, berdasarkan pertemuan trilateral di Denpasar, Provinsi Bali, 12 Februari 2007.  Hob adalah ekosistem dataran tinggi yang unik bernilai strategis di Pulau Kalimantan. 

Luas HoB pada tiga negara 23,3 juta hektare, dimana seluas 12,6 juta hektare (56%) di Indonesia; 9,3 juta hektar (41,8%) di Malaysia dan 355 ribu hektare (1,6%) di Brunei Darussalam. HoB dibentuk tiga negara untuk menjamin kelangsungan dan keseimbangan ekosistem di Kalimantan sebagai paru-paru dunia. 

 Dalam rangka membangkitkan partisipasi masyarakat, tradisi Agama Kaharingan yang berkaitan dengan pelestarian alam, perlu disinergikan dengan program pelestarian HoB, agar masyarakat tidak merasa asing di tanah sendiri.  Kawasan HoB memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dimana sekitar 40-50% jenis flora dan fauna di dunia dapat dijumpai di kawasan ini. Sebagian masyarakat yang bermukim di Kawasan HoB, masih menganut tradisi Agama Kaharingan.

Nafas pelestarian HoB bukan konservasi semata, namun lebih penting lagi bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan. Lingkungan, kearifan lokal dan keanekaragaman hayati merupakan pilar-pilar Program HoB, selain sosial, ekonomi berorientasi konservasi dan pengembangan institusi. 

Oleh karena itu, lanjut Aju, khusus di wilayah Indonesia, kerjasama lintas sektoral dan peran serta aktif pemerintah propinsi dan kabupaten di kawasan HoB menjadi sangat penting. Konkretisasinya melalui pemberdayaan, pendokumentasian adat-istiadat, dan revitalisasi hukum adat, termasuk Tradisi Agama Kaharingan dari masyarakat lokal Suku Dayak Uud Danum dan Dayak Ngaju yang berinteraksi langsung dengan sumberdaya alam di Kawasan HoB, harus menjadi bagian pokok dalam implementasi pembangunan.
 
Melalui tradisi Agama Kaharingan, ujar Aju, pemerintah diharapkan menerapkan kurikulum budaya menanam bagi peserta didik di Kawasan HoB, agar suatu saat nanti, masyarakat tidak lagi semata-mata tergantung dari tegakan pohon di hutan atau tergantung dengan kemurahan alam. “Semboyan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yakni muda menanam, tua memanen, perlu disinergikan di dalam Tradisi Agama Kaharingan, agar pelestarian Kawasan HoB, bisa berjalan sesuai harapan,” ujar Aju. (sut)