Yusril: OSO Tak Perlu Mundur dari Hanura

Nasional

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1000

Yusril: OSO Tak Perlu Mundur dari Hanura
Oesman Sapta Odang
JAKARTA, SP - Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra berpendapat, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pengurus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang tidak boleh merangkap jabatan sebagai anggota partai politik tidak berlaku surut.

Karena itu, kata dia, Ketua DPD Oesman Sapta Odang alias OSO yang akan maju lagi sebagai calon anggota DPD inkumben, tidak perlu mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Partai Hanura. 

"Pak OSO tetap Ketua DPD RI," ujar Yusril setelah bertemu Oesman Sapta di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (26/7).

Putusan MK Nomor 30/PUUxV1/2018 yang mengabulkan permohonan terhadap pengujian Pasal 128 huruf l Undang-Undang Pemilu, berimplikasi pada larangan pengurus partai politik menjadi anggota DPD. Putusan itu berlaku sejak 23 Juli 2018 jam 12.12 WIB.

Padahal, kata Yusril, batas akhir pendaftaran bakal calon anggota DPD pada 11 Juli 2018, atau sebelum putusan MK keluar. "Putusan MK tersebut tidak menyebabkan proses pendaftaran yang telah telah dilakukan oleh fungsionaris partai politik gugur dengan sendirinya," ujar Yusril.

Oesman Sapta yang terancam mundur dari jabatan sebagai Ketua Umum Hanura mengatakan, akan mengikuti saran Yusril sebagai pakar hukum tata negara. "Saya akan berjalan sesuai status hukum yang berlaku. Nah, MK kan melanggar hukum," ujar Oesman.

Ketum Hanura Oesman Sapta mengungkapkan keinginannya, masih tetap bisa menjadi anggota DPD RI. Namun kader-kader Hanura mengancam mundur dari partai, bila OSO memutuskan melepas posisi Ketum Hanura.

"Kalau saya ingin meneruskan perjuangan kepentingan daerah, karena daerah ini membutuhkan satu konsentrasi bersama-sama orang daerah, seperti apa yang sudah kita jalankan sekarang. Banyak hal yang dicapai daerah, ini meningkat ya," kata OSO kepada wartawan di kediamannya, Jalan Karang Asem Utara, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Rabu (25/7).

Namun OSO masih mempertimbangkan keinginan tersebut, karena elite Hanura tak mau ditinggalkannya. Selain itu, dia masih menunggu rapat DPR-MPR yang masih membahas putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal senator yang tak boleh berasal dari pengurus parpol.

"Anda lihat sendiri, saya memang sederhana saja karena tugas saya belum selesai (di DPD RI). Perjuangan DPD sangat dibutuhkan oleh daerah-daerah. Kedua, partai bukan hanya saya sendiri, banyak teman saya yang punya kemampuan untuk memimpin. Cuma hampir seluruh daerah (DPD Hanura) tadi tidak memberikan (izin) saya mundur, itu masalahnya," ungkapnya.

Ancaman mundur dari elite Hanura itu pun membuatnya menskors rapat yang digelar di rumahnya malam ini. OSO mengaku siap melepaskan posisi Ketum Hanura. Dia memastikan Hanura akan tetap mendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019, meski dirinya tak lagi jadi ketum.

"Hanura solid mendukung Jokowi sebagai presiden. Solid. Saya ada, saya mati besok pun, Hanura tetap mendukung Jokowi," kata OSO. (tmp/dtk)