Warga Adat Dayak Kambing Hitam Kebakaran Hutan

Nasional

Editor Angga Haksoro Dibaca : 521

Warga Adat Dayak Kambing Hitam Kebakaran Hutan
Bandung, SP – Masyarakat adat menjadi kambing hitam penyebab kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan. Merunut sejarah, justru perusahaan pengelola hutan dan perkebunan sawit yang kali pertama menggunakan cara membakar hutan untuk membersihkan lahan.  

Aliansi Masyarakat Adat Kapuas Hulu membantah tuduhan bahwa masyarakat adat Dayak menjadi penyebab kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan. Mereka justru banyak dirugikan akibat pencaplokan lahan kebun oleh perusahaan pengelola hutan.  

“Praktik land clearing yang biasa digunakan hingga tahun 2000an, adalah meminta masyarakat membuka lahan untuk ladang dan membiarkan mereka membakar lahan. Selain mendapat lokasi ladang cuma-cuma, masyarakat juga (diming-imingi) dibayar Rp 1 juta per hektar,” kata Dominikus Uyub, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Kapuas Hulu, dalam sesi diskusi Global Land Forum di Bandung, Rabu (26/9).  

Setelah lahan terbuka, perusahaan hutan tanaman industri (HTI) dan pemerintah malah menuduh masyarakat membuka lahan dengan cara membakar hutan. Yang paling menyedihkan, saat penggusuran lahan perusahaan bukan hanya merusak kebun namun juga areal pemakaman leluhur.  

Masyarakat adat Dayak di Kalimantan juga kerap dituding sebagai peladang berpindah. Warga Dayak menolak tuduhan itu karena mereka berladang bukan berpindah-pindah, tetapi gilir-balik.  

Mereka merotasi pengolahan lahan perkebunan untuk memberikan kesempatan tanah memulihkan diri. Jadi sesungguhnya luas lahan mereka tetap dan tidak membuka lahan ladang baru.  

Dominikus Uyub mendesak pemerintah mengeluarkan UU yang mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat Dayak. Termasuk melindungi kearifan lokal mengelola tanah leluhur mereka menggunakan sistem berladang gilir-balik. (*)