Pemerintah Butuh Peta Baru Ancaman Gempa

Nasional

Editor Angga Haksoro Dibaca : 321

Pemerintah Butuh Peta Baru Ancaman Gempa
Likuifaksi (fenomena tanah bergerak) di Petobo
Jakarta, SP – Pemerintah perlu membuat peta baru gempa, termasuk memetakan wilayah yang berpotensi terjadi likuifaksi. Likuifaksi adalah gejala geologis dimana lumpur di bawah tanah yang keras menyembur melalui rekahan akibat gempa.  

Gempa disusul likuifaksi sebenarnya juga terjadi pada gempa Bantul 2006, gempa Yogyakarta 2007, Gempa Sumbawa 2009, dan gempa Lombok 2018. Namun likuifaksi (fenomena tanah bergerak) di Kampung Petobo, Sigi, perbatasan kota Palu tampaknya yang paling besar karena terjadi di permukiman penduduk.  

Sedikitnya 900 orang warga Kampung  Petobo terkubur timbunan lumpur. Relawan Universitas Hasanuddin, dr Eka Erwansyah mengirimkan broadcast situasi di Kampung Petobo paca gempa dan likuifaksi.  

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Daru Prihatmoko menjelaskan likuifaksi terjadi karena struktur lapisan tanah berbeda-beda. Lapisan tanah paling atas kadang keras tapi lapisan bawahnya tidak solid.

Guncangan gempa merusak struktur lapisan permukaan tanah. Sehingga lapisan tanah yang keras hancur dan menyebabkan tanah yang bercampur air di bawahnya meluap.  

Kemungkinan besar daerah Palu yang terdampak likuifaksi, dulu adalah area rawa atau danau. “Lombok dan Sumbawa pun pernah terjadi seperti itu. Itu kejadiannya di pantai yang dulunya bekas rawa, dan akhirnya tenggelam,” kata Daru seperti dikutip dari Tirto.

Likuifaksi di Palu menurut Daru tergolong fenomena unik. Sebab lumpur yang membawa berbagai jenis bangunan besar turut bergerak. “Harus lihat di lapangan, ada kombinasi dengan keadaan tanah? Siapa tahu tanahnya miring. Ini akibat gravitasi,” ujarnya.  

Kemunculan likuifaksi tidak dapat diprediksi secara ilmiah. Yang harus dilakukan  ketika terjadi likuifaksi adalah menyelamatkan diri sejauh mungkin. "Jika ada dataran batuan keras, bisa naik ke sana. Ini berbahaya untuk yang berada di pemukiman padat penduduk," kata Daru.  

Gempa di Palu dan Donggala 28 September 20018 terjadi akibat pergeseran sesar gempa Palu Koro. Di Sulawesi sedikitnya terdapat 10 sesar gempa yang membentang dari Gorontalo hingga Tulu.  

Hingga saat ini, jumlah korban tewas yang sudah ditemukan sebanyak 844 orang. Jumlah tersebut belum termasuk perkiraan jumlah korban yang masih tertimbun lumpur di Balaroa dan Petobo. (*)