Presiden: Politik Bukan untuk Menakut-nakuti

Nasional

Editor Angga Haksoro Dibaca : 420

Presiden: Politik Bukan untuk Menakut-nakuti
Tegal, SP - Politik dan pesta demokrasi sudah semestinya disambut rasa gembira oleh masyarakat. Dengan kegembiraan itu, masyarakat dapat memberikan suaranya secara jernih dan memilih pemimpin yang dirasa tepat.  

Hal itu adalah pandangan sekaligus harapan Presiden Joko Widodo terkait pesta demokrasi.  

Kegembiraan demokrasi ini tentu hanya dapat dicapai dengan cara-cara yang sesuai dengan kesantunan yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Politik yang dibiarkan berjalan dengan menihilkan etika sudah sewajarnya kita hindari.  

“Kita harus mengarahkan kematangan dan kedewasaan berpolitik dengan cara-cara seperti itu (santun). Oleh sebab itu, sering saya sampaikan: hijrah dari ujaran kebencian kepada ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme kepada optimisme, hijrah dari kegaduhan ke kerukunan dan persatuan,” ujar Presiden.  

Pernyataan Presiden tersebut disampaikan selepas meresmikan jalan tol Pejagan-Pemalang dan Pemalang-Batang di Kabupaten Tegal, Jumat (9/11). Dalam acara sebelumnya di Gelanggang Olahraga Tri Sanja, Presiden sempat menyinggung soal kesantunan yang dirasa menghilang dari perilaku berpolitik.  

Joko Widodo melihat bahwa sekarang banyak politikus yang pandai memengaruhi masyarakat. Namun amat disayangkan para pelaku politik cenderung tidak memandang etika berpolitik dan keberadaban.  

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan. Membuat ketakutan dan kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat ketidakpastian. Masyarakat memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, masyarakat akan menjadi ragu-ragu,” ucapnya.  

Presiden memiliki istilah khusus untuk menggambarkan perilaku berpolitik tak beretika yang menebar ketakutan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Berangkat dari mitos Jawa mengenai makhluk halus, dirinya menyebut hal itu sebagai "politik genderuwo", politik yang menakut-nakuti.  

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan. Itu namanya ‘politik genderuwo’, menakut-nakuti,” tuturnya.  

Presiden berharap agar cara-cara berpolitik serupa itu segera ditanggalkan. Sudah selayaknya bagi masyarakat kita untuk memperoleh contoh politik yang baik dan menghadirkan kegembiraan pesta demokrasi di negara kita. (*)