Presiden Dorong Desa Kembangkan Produk Andalan

Nasional

Editor Angga Haksoro Dibaca : 346

Presiden Dorong Desa Kembangkan Produk  Andalan
Semarang, SP - Presiden Joko Widodo menghadiri Sarasehan Pengelolaan Dana Desa se-Jawa Tengah tahun 2018 di Gedung Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP), Kota Semarang, Kamis (22/11).  

Pada acara tersebut, Presiden mengungkapkan data-data hasil pemanfaatan dana desa. Menurut Joko Widodo dari program tersebut, setidaknya telah terbangun 123 ribu kilometer jalan di pedesaan di seluruh Indonesia.  

Sebanyak 11.500 posyandu juga telah dibangun melalui pemanfaatan dana desa. “Ada 18 ribu PAUD yang telah dibangun dari dana desa. Ada 6.500 pasar desa yang telah dibangun. Kemudian jembatan 791 ribu meter, 28 ribu unit irigasi, 1.900 embung, dan 26.700 kegiatan di BUMDes,” kata Presiden.  

Presiden mengatakan, sejumlah infrastruktur desa yang terbangun tersebut mengindikasikan bahwa program dana desa yang digaungkan pemerintah selama 4 tahun terakhir memiliki hasil konkret dalam pembangunan infrastruktur atau kebutuhan desa.  

Kini setelah 4 tahun berjalan, dana desa diharapkan mulai menyentuh kepada pemberdayaan ekonomi dan inovasi desa. Salah satu contohnya ialah transformasi suatu desa menjadi desa wisata yang memanfaatkan potensi yang ada.  

“Saya melihat banyak sekali sekarang desa-desa yang menjadi desa wisata. Ada yang income per tahunnya sudah Rp 14 miliar. Ada yang income per tahun sudah Rp 4 miliar. Hal-hal seperti ini yang harus dicontoh oleh desa yang lain dengan format mungkin yang berbeda,” kata Presiden.  

Selain itu, implementasi program inovasi desa juga diharapkan meliputi pengembangan ekonomi lokal melalui kewirausahaan dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah ada.  

Presiden berharap agar desa-desa dapat mulai berpikir untuk meningkatkan nilai tambah bagi suatu produk andalan desa dengan mengubahnya kepada barang jadi yang dikemas dengan baik.  

“Misalnya di desa ada banyak kebun kopi yang dulunya dijual berupa barang mentah, sekarang dijual dalam bentuk barang jadi dengan kemasan yang baik, diberi nama yang baik. Kalau tidak bisa barang jadi ya ke barang setengah jadi,” tuturnya.  

Dengan cara itu, masyarakat di pedesaan akan memperoleh nilai tambah dan keuntungan yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan menjual barang mentah atau setengah jadi.  

“Karena kalau kita bisa membuat produknya barang jadi, itu bisa 10 sampai 30 kali lipat nilai tambah yang kita dapatkan,” ucapnya. (*)