Sri Mulyani dan Raja Lebah yang Bersedih Hati

Nasional

Editor Dede Dibaca : 105

Sri Mulyani dan Raja Lebah yang Bersedih Hati
Bagaimana caranya mengenalkan pajak ke anak-anak? Itu kira-kira yang ada di kepala Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebelum memutuskan untuk mendongeng tentang kerajaan lebah di hadapan ratusan bocah.

Bukan di atas panggung, Sri Mulyani duduk mengampar dan dikerubungi anak-anak. Biar akrab, Sri menyapa anak-anak tersebut sambil bercanda sebelum dimulai dan di sela-sela dongeng."Kamu kenapa pipinya merah? namanya siapa? Kelas berapa? Baju kamu keren banget, aku boleh pinjam tidak," tanya Sri kepada salah satu anak bernama Farid, saat acara Indonesia Negeri 1000 Dongeng di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Minggu (3/3).

Sri Mulyani mengatakan, dongeng itu masih berkaitan dengan pajak. Ini sekaligus untuk mengedukasi anak-anak soal pajak. "Saya mendongeng bersama anak-anak dan memperkenalkan soal pajak. Ini sebetulnya untuk meningkatkan literasi untuk anak-anak dan saya senang," ujar Sri Mulyani.

Dia menuturkan bahwa mengenalkan pajak sedari dini untuk anak-anak sangatlah penting. Sebab manfaat pajak itu adalah kembali untuk kemajuan negara juga. Cerita tersebut untuk menimbulkan kepekaan sosial. Serta melatih imajinasi agar memiliki kepedulian pada bangsa. Sementara isi dari dongeng Sri Mulyani sendiri adalah terkait tentang kerajaan lebah. Di mana sang raja meminta para rakyatnya untuk mengumpulkan satu sendok madu. Namun beberapa rakyat yang tak mengerti malah mengganti madu dengan air dan itu membuat raja bersedih.

Lalu, sang raja menjelaskan bahwa maksud dari pengumpulan madu tersebut adalah untuk persediaan. Persediaan itu akan kembali untuk rakyatnya, bila sewaktu-waktu krisis pangan dan bukan untuk pribadi raja. Sri pun menjelaskan bahwa cerita ini diartikan untuk rakyat yang harus rela dan taat membayar pajak. Sebab dari pajak tersebut akan kembali lagi untuk kemajuan bangsa.

Bak pendongeng ulung, Sri bercerita dengan penuh penghayatan sehingga membuat anak-anak begitu terkesima akan ceritanya. Tak jarang, Sri juga melakukan interaksi kepada anak-anak agar suasana lebih cair dan hangat.

Masalah ketaatan pajak memang masih terjadi di Indonesia. Salah satunya soal pelaporan Surat pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Tahunan yang diberi tenggat hingga 31 Maret. Pelaporan dini sejatinya bisa menekan emosi masyarakat yang terdesak oleh batas waktu pelaporan SPT.

Selain itu, pelaporan dini juga diperlukan untuk mempermudah tugas administrasi pegawai pajak. "Tahun lalu, saya ke kantor pajak dan hingga jam terakhir. Kasihan mereka harus mengisi. Kadang-kadang mereka panik hingga menyebabkan suasana wajib pajak menjadi tidak nyaman," katanya. Melaporkan SPT sekarang cukup meudah. Saat ini tugas pembayaran dan pelaporan pajak sudah dimudahkan melalui pembayaran secara daring lewat e-biling serta pelaporan elektronik lewat e-filing.Dua layanan tersebut,

wajib pajak bisa melakukan kewajiban pajak secara efisien, tepat waktu, serta mampu mengurangi beban administrasi dan emosional. Dengan pembenahan layanan tersebut, diharapkan tingkat kepatuhan pembayaran maupun pelaporan SPT dapat makin meningkat. "Dengan kemudahan ini, maka tingkat kepatuhan akan meningkat, karena tidak ada alasan dan kemudahan betul-betul diperbaiki," katanya. Selain itu, otoritas pajak akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat serta meningkatkan pelayanan yang disertai dengan tindakan guna menjaga integritas jajaran maupun sistem.

Direktorat Jenderal Pajak mencatat realisasi pelaporan SPT Wajib Pajak pada 2018 mencapai 12,5 juta SPT yang terdiri atas 9,87 juta OP karyawan, 1,82 juta OP non karyawan dan 854.300 OP Badan. Sementara itu, realisasi sementara pelaporan SPT PPh Tahunan hingga awal Maret 2019 sudah mencapai kisaran tiga juta SPT. (antara/cnb/balasa)