Gambut Kritis

Nasional

Editor elgiants Dibaca : 118

Gambut Kritis
ilustrasi
 INDONESIA memiliki lahan gambut sekitar 21 juta hektare (ha) dan 90 persen terdapat di kawasan pesisir. Dari lahan itu, sebanyak 7,5 juta ha digunakan untuk sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Direktur Wetlands International Indonesia I Nyoman N. Suyadiputra mengatakan, ada bahaya penggunaan lahan gambut untuk menanam kelapa sawit.

"Penanaman itu akan membuat lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar. Daerah di sekitar lahan gambut pun akan terkena banjir," ujarnya.

Sesungguhnya gambut adalah sampah organik (bahan bakar) yang berumur ribuan tahun. Kelapa sawit bukanlah tanaman asli gambut dan akan menjadi busuk bila terlalu banyak air. Maka, air di lahan gambut di drainase atau dibuang ke sungai.

Jika air di lahan gambut didrainase melalui pembangunan kanal-kanal atau saluran, akan membuat gambut menjadi kering, mudah terbakar, teroksidasi dan mengalami subsiden/ambelas serta melepaskan emisi gas rumah kaca dalam jumlah sangat besar.

"Akibatnya, area gambut berubah menjadi cekungan yang rawan genangan banjir," ujar dia. Penyusutan gambut yang berlangsung terus-menerus sekitar dua sampai 12 cm per tahun, ditambah terbakar sekitar 30 cm per tahun akan membuat lahan gambut yang berada di pesisir pada suatu saat akan mengalami genangan secara permanen.

Kondisi demikian akan diperparah oleh akibat adanya kenaikan muka air laut sekitar 3 mm per tahun. Tidak hanya lahan gambut saja yang mengalami efek buruknya, tanaman sawit yang ditanam pun juga ikut terkena.

Kondisi ambelasnya gambut akan menyebabkan tanaman sawit menjadi doyong/miring serta tergenang. Hal itu sudah terlihat di berbagai lokasi perkebunan sawit di lahan gambut seperti di Provinsi Riau (Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Palalawan), Provinsi Sumatera Barat (Kab. Pasaman), Provinsi Jambi, Provinsi Kalimantan Barat di Ketapang, Provinsi Kalimantan Tengah (Kota Waringin Timur). (ber/bls)