Rabu, 20 November 2019


Polisi Sebut Kivlan Zen Perintahkan Pembunuhan Tokoh Nasional

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 75
Polisi Sebut Kivlan Zen Perintahkan Pembunuhan Tokoh Nasional

TUNJUKKAN - Wadir Reskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary (kanan) menunjukkan video tersangka di sela-sela memberikan keterangan pada wartawan terkait perkembangan kericuhan 21-22 Mei 2019 di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6).

JAKARTA, SP – Polisi menyebut mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn), Kivlan Zen sebagai orang yang memberi perintah rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei, dalam rusuh 22 Mei lalu. Kivlan meminta pria berinisial HK alias Iwan untuk mencari eksekutor pembunuhan.

Keempat tokoh nasional itu adalah Wiranto, Budi Gunawan, Luhut Binsar Pandjaitan, dan Gories Mere. Sementara pimpinan lembaga survei yang dimaksud adalah Yunarto Wijaya, bos Charta Politika.

"Peran Kivlan memberi perintah kepada tersangka HK untuk mencari eksekutor pembunuh," kata Wadireskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam Indradi saat menyampaikan keterangan pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6). 

Kivlan juga memberi uang Rp150 juta kepada tersangka HK untuk membeli senjata api yang akan digunakan saat eksekusi. Dia turut menyerahkan uang Rp5 juta kepada tersangka lainnya, yakni IT, untuk mengintai Yunarto Wijaya.

Ade menegaskan semua pernyataan dalam keterangan pers sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para tersangka yang tengah disidik oleh aparat kepolisian. 

"Keterangan para tersangka yang tadi itu adalah sesuai dengan BAP para tersangka yang sedang kami sidik, kemudian dikuatkan video testinomoni dan tersangka sudah diambil sumpah," katanya. 

Uang itu didapat Kivlan dari Habil Marati (HM). Habil memberi uang 15.000 SGD atau setara Rp150 juta ke Kivlan Zen untuk pembelian senjata api. 

"Sehingga kepada dua tersangka KZ dan HM patut disangka melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 1 UU darurat 12/1951 dengan ancaman seumur hidup." ?

Dalam jumpa pers itu, polisi juga memutar video pernyataan dari tersangka HK alias Iwan, dan TJ alias Tajudin terkait kejadian pada 21 dan 22 Mei. Iwan mengaku diperintahkan oleh Kivlan untuk membeli senpi pada Maret di sekitar Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

"Saya diamankan pada 21 Mei terkait ujaran kebencian, kepemilikan senpi, dan ada kaitan dengan Mayjend Kivlan Zen. Sekitar Maret dipanggil ke Kelapa Gading. Saya diberi uang Rp150 juta untuk beli senjata laras pendek dua pucuk," katanya. 

Hal sama turut diungkapkan tersangka Tajudin. 

"Saya dapat perintah dari Kivlan Zen untuk menjadi eksekutor penembakan Wiranto, Luhut, Budi Gunawan, dan Goris Mere. Senjata api saya dapat dari Iwan (HR)," kata Tajudin.

HK mengaku saat dirinya ditangkap, dia tengah membawa senjata api jenis revolver yang sempat dibawa ke lokasi aksi di depan Bawaslu RI, Jakarta Pusat. Tokoh-tokoh yang menjadi target operasi penembakan serupa yang diungkap Tajudin. Selain diberi untuk mendapatkan senjata, kelompoknya diberi uang operasional untuk survei ke alamat yang disertai foto target operasi.

"Pak Kivlan menunjukkan alamat dan foto. Coba kamu cek alamat ini. Beliau bilang saya kasih uang operasional Rp5 juta," tutur HK.
Sebelumnya, Kivlan Zen sudah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal.

Hingga kini, kasus masih dikembangkan. Termasuk asal uang yang diberikan Habil Marati pada Kivlan.
"Ya itu sedang kita dalami, yang jelas penyidik sudah menyita alat komunikasi, sudah menyita aliran dana dan lain-lain," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Muhammad Iqbal.

Selain memberi ke Kivlan, Habil Marati juga memberikan uang Rp60 juta kepada H Kurniawan alias Iwan. Meski demikian, polisi masih mendalami peran Habil Marati lebih dalam. Peran lengkapnya dan siapa saja dalang kerusuhan akan makin terang.

"Itulah teknis taktik strategi penyidik, kita belum bisa sampaikan di sini, tunggu saja ini akan semakin terang," kata Iqbal.

Habil Marati sudah ditangkap di rumahnya pada Rabu (29/5) lalu dan ditetapkan sebagai tersangka. Saat menangkap, polisi menyita HP yang digunakannya berkomunikasi. Ada pula print out rekening bank yang disita. (cnn/det/bls)