Minggu, 22 September 2019


Saksi Prabowo Banyak Jawab ‘Tak Tahu’

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 119
Saksi Prabowo Banyak Jawab ‘Tak Tahu’

AMBIL SUMPAH - Dua saksi ahli dari pihak pemohon diambil sumpahnya saat sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6).

JAKARTA, SP – Saksi pemohon gugatan sengketa Pilres 2019 dari Prabowo-Sandi banyak menjawab ‘tak tahu’ dalam sidang lanjutan di Mahkamah Konstitusi (MK), Rabu (19/6). Sidang ini memang dalam agenda mendengarkan keterangan saksi. 

Misalnya saksi bernama, Agus Maksum, sempat memberi contoh data KTP invalid atas nama Udung, warga Pangalengan, Bandung. Agus awalnya meyakini tak ada sosok bernama Udung sehingga perlu mengecek ke lapangan. Namun keterangan itu diubah.

Agus meyakini tak ada sosok Udung saat ditanyai hakim konstitusi Aswanto. Lalu, tiba giliran Agus ditanyai Komisioner KPU Hasyim Asyari.

Hasyim bertanya soal bagaimana Agus meyakini Udung tidak ada jika tak mengecek ke lapangan, disambung pertanyaan apakah bisa diyakini data atas nama Udung itu digunakan untuk pencoblosan. Agus menjawab tidak tahu.

Hakim I Gede Dewa Palguna menyela. Palguna menanyakan konsistensi jawaban Agus. Palguna mengingatkan awalnya Agus meyakini sosok Udung tak ada di dunia ini tapi berubah jadi tidak tahu.

"Jadi keterangan mana yang akan Anda gunakan yang harus dipegang oleh Mahkamah?" kata Palguna mengacu pada dua jawaban, yaitu tidak ada Udung di dunia ini atau tidak tahu.

Agus menjawab dia menggunakan jawaban tidak tahu untuk menjawab pertanyaan apakah data atas nama Udung digunakan di hari pencoblosan. Palguna mencecar mengembalikan pertanyaan soal keyakinan Agus tentang sosok Udung, tak ada di dunia ini atau tidak tahu. Agus menjawab tidak tahu.
"Tidak tahu," ujar Agus.

Tidak hanya satu, saksi lain, Idham Amiruddin mengungkapkan adanya Data Pemilih Tetap (DPT) siluman yang digunakan saat Pemilihan Presiden 2019 di beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Namun, dirinya tidak mengetahui kalau suara Prabowo - Sandiaga unggul di daerah yang disebutnya memiliki DPT siluman.

Ketua Tim Kuasa Hukum dari pihak termohon Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ali Nurdin sempat melemparkan pertanyaan kepada Idham. Dalam persidangan itu Idham sempat menjelaskan asal daerahnya yakni Makassar. Dirinya mengamini apabila hanya enam TPS yang menggunakan DPT valid.

"Wilayah bapak di Makassar apakah di situ ada NIK rekayasa?," tanya Ali kepada Idham.
"Hanya enam TPS yang benar," jawab Idham.

Ali kemudian menanyakan soal pengecekan yang dilakukan oleh Idham untuk melakukan verifikasi. Idham menjelaskan bahwa dirinya melakukan uji sample saat hari pemungutan suara. Ia mencocokan data yang dimilikinya dengan data DPT yang tertempel di setiap TPS.

Lebih lanjut, Ali kembali melemparkan pertanyaan.

Dia bertanya apakah adanya NIK rekayasa itu juga terjadi di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan. Ali memastikan kepada Idham apakah dirinya mengetahui kalau Prabowo - Sandiaga unggul di daerah-daerah yang disebutkannya menggunakan DPT dengan NIK rekayasa.

"Bapak tahu enggak di Enrekang itu 02 mendapatkan suara 75 persen?," tanya Ali.
"Saya tidak tahu," jawab Idham.

Idham berusaha kembali meyakini apakah Idham mengetahui kalau Prabowo-Sandiaga juga unggul di daerah Kabupaten Pinrang, Sulsel. Dari data yang dimiliki KPU, Prabowo-Sandiaga unggul 61 persen suara dari Capres - Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Maruf Amin.

"Bapak tahu di Pinrang itu 02 mendapatkan 61 persen?," tanya Ali kembali.
"Saya tidak tahu," jawab Idham.

Hingga berita ini diturunkan, sidang masih berlanjut. (ber/sua/bls)