Rabu, 11 Desember 2019


Selamat Jalan Pahlawan Kemanusiaan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 86
Selamat Jalan Pahlawan Kemanusiaan

PAHLAWAN KEMANUSIAAN: Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Tidak banyak yang selalu berpikir dan berbuat untuk melayani publik dengan hati. Harus ada passion. Ada panggilan hati untuk melayani media dan publik. 

Penggalan kalimat itu diterima jurnalis dari Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, medio Januari 2019 lalu. 

Sutopo meski divonis menderita sakit kanker paru stadium 4b, tetap melayani jurnalis dan memberikan informasi terkini mengenai bencana. 

Nama Sutopo tidak bisa dilepaskan dari bencana dan BNPB. Sutopo Purwo Nugroho, Pahlawan Kemanusiaan.

Aparatur Sipil Negara (ASN) ini merupakan figur penting dalam tiap kejadian bencana alam di Tanah Air. Sutopo selalu berupaya memberikan informasi terupdate kepada jurnalis melalui grup Whatsapp yang dikelolanya sendiri. Jurnalis dari seluruh Tanah Air, merasakan betapa pentingnya informasi dari Sutopo.

Kegigihan Sutopo memberikan informasi bencana di tengah dera sakit yang amat serius itu, menarik perhatian media sekaliber New York Times. Media ini mengulas sisi kemanusiaan Sutopo, tetap bekerja dan mengabdi demi kemaslahatan, meski dirinya sendiri dirundung kanker.

Minggu dinhari (7/7) kemarin, kabar duka datang dari Guangzhou, Tiongkok. Istri Sutopo, Retno Utami Yulianingsih mengabarkan dari Rumah Sakit St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, Tiongkok, Kepala Pusdatinmas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho berpulang ke Rahmatullah setelah sempat berjuang melawan penyakit kanker paru-paru stadium 4B yang dideritanya sejak akhir 2017.
Rita Rosita. S, Kepala Bidang Humas BNPB menyebutkan, Sutopo wafat sekitar pukul 02.20 waktu Guangzhou atau sekitar pukul 01.20 WIB. 

“Informasi terakhir, kanker yang dideritanya telah menyebar ke otak, tulang dan beberapa organ vital tubuh lainnya,” kata Rita dalam siaran pers yang diterima wartawan, Minggu (7/7).

Sutopo meninggalkan Tanah Air menuju Guangzhou, Tiongkok, untuk menjalani pengobatan sejak 15 Juni 2019 lalu.
Sutopo anak dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari, meninggalkan seorang istri, dan dua orang putra; Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Rita mengatakan, sesuai rencana, jenazah akan dipulangkan ke Tanah Air dan dijadwalkan tiba pada hari Minggu 7 Juli pukul 20.30 WIB, di Bandara Soekarno Hatta untuk disemayamkan di rumah duka di Raffles Hill I-6 No 15 Cibubur. Kemudian jenazah akan diterbangkan ke Solo, Jawa Tengah, melalui Bandara Soetta pada hari Senin 8 Juli 2019, pukul 05.20 WIB, untuk selanjutnya dimakamkan di tempat kelahirannya di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Kepala BNPB, Doni Monardo memerintahkan kepada seluruh staf untuk menyiapkan segala sesuatunya terkait pemakaman. Doni juga meminta secara khusus agar penerimaan jenazah sang Pahlawan Kemanusiaan itu dapat diproses dengan pemakaman menggunakan tradisi kedinasan BNPB dan juga melibatkan unsur BPBD Boyolali dan Jawa Tengah.

“Pak Topo adalah Pahlawan Kemanusiaan yang telah ikut membesarkan nama BNPB sejak dibentuk tahun 2008. Pak Topo juga telah mengharumkan nama Indonesia dalam sejumlah karyanya antara lain Penghargaan Tertinggi yang diterima Pemerintah RI di Baku Azerbaijan dari PBB di Bidang Inovasi Kebencanaan melaui Petabencana,” ungkap Doni. 

Dalam menjalankan tugas sebagai Pahlawan Kemanusiaan dan informan andalan BNPB, Sutopo selalu tampil dengan penuh totalitas dalam memberikan informasi kebencanaan.

Sebagai contoh ketika Indonesia dilanda bencana bertubi-tubi pada tahun 2018, seperti gempa bumi beruntun di NTB, gempa bumi disusul tsunami dan likuifaksi yang dahsyat di Sulawesi Tengah, dan tsunami senyap di Selat Sunda. 

Selain berjuang melawan penyakit kanker stadium 4B, Sutopo tidak menyerah melawan berbagai berita yang simpang siur dan informasi bohong alias hoaks terkait bencana melalui media sosial yang ia kelola secara pribadi dan tentunya melalui siaran pers bersama para awak media semasa hidup. Selama proses pengobatan kemoterapi di Indonesia, Sutopo selalu langsung kembali ke kantor untuk memberikan konferensi pers.

Di rumah sakit ia membuat siaran pers dan menyebarkan ke ribuan wartawan yang dikelolanya dalam grup WhatsApp bernama Wapena dan Medkom BNPB 1-7. Di manapun dan kapanpun, Sutopo selalu hadir untuk mengabarkan informasi bencana di Tanah Air. 

Pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969, itu selalu mencintai pekerjaaannya sebagai juru bicara BNPB. Ia juga selalu bekerja dengan passion sehingga karirnya selalu meningkat dalam waktu yang singkat. Sutopo selalu berpesan dalam setiap kesempatan bahwa, “Kita jangan besar karena jabatan tapi di manapun kita ditempatkan besarkan jabatan itu”.

Dedikasi Sutopo sebagai Aparatur Sipil Negara yang berprestasi telah dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang ia raih sejak tahun 2012, baik untuk individu maupun untuk unit kerja yang dipimpinnya yaitu Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Dedikasi Sutopo diganjar dengan berbagai penghargaan. Sutopo sejak 2018 dan 2019 menerima beragam awards dari berbagai pihak.

“Kini, sang informan andalan BNPB telah berpulang. Pahlawan Kemanusiaan itu akan selalu dikenang. Selamat jalan, Pak Topo. Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya. Doa kami menyertaimu,” tulis Rita Rosita. (hasby)