Sabtu, 21 September 2019


Risma: Saya Diangkat Warga Papua Jadi Mama Papua

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 1135
Risma: Saya Diangkat Warga Papua Jadi Mama Papua

DAMAI - Warga Papua menyalakan lilin saat aksi damai di Bundaran Tugu Perdamaian Timika Indah, Mimika, Papua, Senin (19/8). Aksi tersebut untuk menyikapi peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya, Malang dan Semarang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oesman Sapta menyerukan warga tenang dan menahan diri. Kepolisian menyatakan kondisi di Papua dan Papua Barat, mulai pulih pasca insiden kerusahan.

Presiden meminta masyarakat saling memaafkan terkait demonstrasi berujung rusuh di Manokwari dan Sorong, Papua Barat. Kerusuhan terjadi buntut insiden pengamanan mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur. 

“Saudara-saudaraku, Pace, Mace, Mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan se-Tanah Air yang paling baik adalah memaafkan. Emosi itu boleh tetapi memaafkan lebih baik. Sabar itu lebih baik," kata Jokowi di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/8). 

Pemerintah ditegaskan Jokowi tetap menjaga kehormatan warga Indonesia, termasuk di wilayah Papua dan Papua Barat. 

“Yakinlah pemerintah terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan Pace, Mace, Mama-mama yang ada di Papua dan Papua Barat," tuturnya.

Ketua DPD Oesman Sapta Odang (OSO) meminta semua pihak untuk menahan diri menyikapi kerusuhan yang terjadi di Manokwari. Hal itu dilakukan agar tidak semakin mempertajam kericuhan yang terjadi.

“Saya mengimbau baik yang terjadi di Malang maupun di Jawa Timur dan di Papua Barat, Manokwari agar semua menahan diri. Kita adalah satu anak-anak bangsa yang harus memahami dan tidak mencoba justru mempertajam kericuhan-kericuhan,” kata OSO di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/8).

Menurut OSO, kasus ini harus ditangani secara utuh dan bijaksana. Ia juga mengapresiasi sikap aparat dalam menangani kerusuhan yang terjadi.

“Saya kira aparat sudah sangat sabar untuk bisa melakukan suatu pendekatan-pendekatan pada semua pihak. Dan ini yang perlu kita dukung bersama,” ujarnya.

Situasi di Manokwari berangsur kondusif pascakerusuhan. OSO pun meminta permasalahan ini diselesaikan dengan kepala dingin.

“Sama-sama harus kita selesaikan dengan kepala dingin, sejuk, dan menyejukkan. Karena ini bangsa Indonesia, bangsa Indonesia ini bangsa seluruhnya sama," tutur OSO.

Kondisi Manokwari dan Sorong, Papua Barat, kondusif pascarusuh. Tim gabungan TNI-Polri berpatroli mengantisipasi rusuh susulan.

“Dari aparat juga melaksanakan patroli gabungan TNI, Polri di titik-titik konsentrasi massa," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Senin (19/8). 

Tim gabungan bersama tokoh masyarakat berhasil mengendalikan situasi.

“Komunikasi terus dijalin bersama tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda untuk mengantisipasi terjadinya keributan lanjutan. Kami juga bersama tokoh-tokoh menyerukan agar masyarakat tidak terprovokasi isu tidak benar," imbuhnya.

Dedy menyebutkan, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri sudah mengidentifikasi akun media sosial yang diduga mem-posting video provokatif terkait mahasiswa Papua. 

"Sementara dua, di YouTube dan Facebook. Itu lagi di-profiling," katanya. 

Dijelaskannya, konten video di akun YouTube yang dipantau sudah dihapus. Namun Dedi meyakini jejak digital video tersebut masih dapat dilacak. “Meskipun di YouTube sudah dihapus, video tersebut, jejak digital akan didalami Direktorat Siber," ujar Dedi.

Dedi menuturkan hasil penyelidikan sementara, kedua akun tersebut dimiliki orang yang berbeda. 
“Beda (pemilik). Sementara itu dulu,” imbuh dia.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menepis isu mahasiswa Papua diusir dari Surabaya, Jawa Timur. Risma menyebut masyarakat Papua sangat diterima di Surabaya. 

“Kalau disampaikan ada anak Papua diusir di Surabaya itu tidak betul, Kabag Humas saya dari Papua, dia ada di bawah, jadi itu dari Papua dan beberapa camat dan pejabat saya juga dari Papua, jadi itu tidak betul,” kata Risma di kantor DPP PDIP, Jalan  Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (19/8). 

Risma kembali menegaskan tidak benar ada isu pengusiran mahasiswa Papua. 

“Bahwa saya juga diangkat oleh warga Papua jadi Mama Papua. Jadi karena itu, sekali lagi, saya berharap saudara-saudara saya, keluarga-keluarga saya, Mama Papa saya, para pendeta di Papua, sekali lagi tidak ada kejadian apa pun di Surabaya,” kata Risma. 

Sebagai pihak yang mendapat gelar 'Mama Papua', Risma memastikan tidak ada kejadian pengusiran bagi mahasiswa Papua di Surabaya. Dia mengatakan kejadian itu awalnya ada penurunan bendera merah putih di asrama tersebut, kemudian ada organisasi masyarakat yang meminta kepolisian untuk melakukan tindakan tersebut.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sempat melakukan pelambatan akses internet di beberapa wilayah Papua untuk mencegah hoax yang beredar terkait aksi massa di Papua. Pelambatan akses dilakukan secara bertahap.

Pelambatan akses (bandwidth) sudah dilakukan sejak pukul 13.00 WIT. Mulai malam ini waktu setempat, akses telekomunikasi sudah dinormalkan.

“Sehubungan dengan situasi di wilayah Papua sudah kondusif, maka mulai malam ini, pukul 20.30 WIT, akses telekomunikasi sudah dinormalkan kembali. Dapat kami sampaikan bahwa tujuan dilakukan throttling adalah untuk mencegah luasnya penyebaran hoaks yang memicu aksi," ujar Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemkominfo RI Ferdinandus Setu, Senin (19/8).

Kominfo sudah mendeteksi 2 hoax terkait aksi massa yang terjadi, yaitu hoax foto warga Papua tewas dipukul aparat di Surabaya dan hoax Polres Surabaya menculik 2 pengantar makanan untuk mahasiswa Papua. Kominfo mengimbau masyarakat tidak sembarangan menyebar hoax.

“Kemkominfo imbau masyarakat untuk tidak sebarkan hoaks, disinformasi, ujaran kebencian berbasis SARA yang dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kita," ujar Ferdinandus. (det/has)