Kamis, 19 September 2019


Ramai Ketika Juara, Sepi Bantuan Riset Lanjutan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 65
Ramai Ketika Juara, Sepi Bantuan Riset Lanjutan

PRESTASI - Wimmy Safaati Utsani, mahasiswi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan permen jelly berbahan daun sirsak yang berkhasiat mencegah kanker. Ist

Viral temuan obat kanker dari kayu bajakah oleh siswa SMAN 2 Palangkaraya, hanyalah satu dari sekian banyak inovasi di bidang pengobatan kanker yang pernah dihasilkan peneliti muda di Indonesia.Namun ketiadaan dukungan membuat inovasi mereka terancam menguap begitu saja.

Sejumlah peneliti muda di Indonesia mengeluhkan tidak adanya bantuan bagi mereka untuk melanjutkan riset dan inovasi mereka untuk kemajuan pengobatan kanker di dalam negeri.

Hasil inovasi mereka, beberapa diantaranya bahkan pernah meraih penghargaan bergengsi di ajang kompetisi iptek internasional, terancam berakhir di laboratorium tanpa pernah menjadi produk yang bisa diakses masyarakat.

Keluhan ini misalnya disampaikan oleh peneliti muda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wimmy Safaati Utsani, yang menciptakan permen jelly anti kanker payudara dari daun sirsak (Annona muricata).

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UMS ini menuturkan gagasan membuat permen jelly anti kanker ini berawal ketika dirinya sebagai mahasiswa berprestasi di kampus, didorong untuk meningkatkan prestasi dengan mengikuti kejuaraan kompetisi iptek internasional. Pihak kampus pun bersedia memberikan dana untuk menyokong risetnya.

Prihatin dengan kerentanan perempuan terkena penyakit kanker, khususnya kanker payudara membuat Wimmy membuat obat untuk mencegah perempuan terkena kanker payudara dari herbal daun sirsak.

Wimmy mengaku dari berbagai jurnal diketahui tanaman ini mampu menghambat kanker karena mengandung senyawa annonaceous acetogenins, aasimisin dan squamosin yang berperan sebagai antikanker.

Ia mengklaim terapi dengan herbal daun sirsak jauh lebih aman dibandingkan dengan kemoterapi.

"Saya ingin meminimalisir risiko perempuan terkena kanker payudara dengan obat dari daun sirsak. Dari berbagai jurnal ilmiah terbukti daun sirsak itu 10 ribu kali lebih ampuh dari kemoterapi."

"Biasanya daun sirsak ini direbus dan kalau diminum rasanya sangat pahit. Saya pernah mencobanya, jadi saya berpikir bagaimana ramuan herbal ini bisa lebih enak, tahan lama dan mudah untuk dikonsumsi warga khususnya perempuan untuk mencegah mereka terkena kanker payudara."

Inovasi permen jelly anti kanker payudara ini pun kemudian diikutsertakan dalam ajang kompetisi Inovasi Teknologi Internasional (WINTEX) di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Barat pada 2018 lalu. Wimmy berhasil merebut medali perak mengalahkan peserta lain yang berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Malaysia, Rumania, Sri Lanka, Jepang dan sebagainya.

Namun pasca meraih prestasi ini, nasib permen jelly anti kanker ciptaannya menjadi tidak menentu. Sokongan dana dan dukungan teknis tidak lagi tersedia untuk meneruskan riset itu sehingga permen jelly anti kanker ciptaannya bisa menjadi produk jadi yang siap diedarkan di masyarakat.

"Inovasi saya masih harus diuji pra klinis pada hewan dan uji klinis pada manusia. Begitu uji dosisnya dan itu semua butuh dana yang tidak sedikit. Apalagi saya sekarang mahasiswa tingkat akhir, jadi sulit dapat dana hibah penelitiannya," paparnya.
"Bantuan dana hanya ada waktu mau ikut lomba saja, setelah itu tidak ada bantuan, ya begitulah," keluhnya.

Menanggapi keluhan peneliti muda ini, Dirjen Penguatan Inovasi dari Kemenristekdikti, Jumain Appe mengakui hingga saat ini mekanisme pemanduan bakat dari para peneliti muda ini masih banyak kekurangan. Salah satunya perihal birokrasi anggaran.

“Harus lewat aturan yang mencakup proses seleksi, pengajuan proposal. Jadi ini kendala kami tidak bisa bertindak cepat mewadahi inovasi di sekolah dan mahasiswa," katanya.

Namun Jumain Appe mengatakan mekanisme ini sedang dalam peninjauan untuk diperbaiki agar lebih mampu mendukung inovasi di sektor pendidikan dan juga pemanduan bakat.

"Mestinya kita secara institusi harus memanggil anak-anak berprestasi itu untuk melihat sampai mana tingkat teknologi yang sudah dicapai mereka. Kan itu ada tingkat kesiapan teknologi dari 1-9. Biasanya kalau ditingkat sekolah atau PT itu baru pada tingkat 5 dan untuk jadi produk yang bisa digunakan di pasar itu harus sampai pada level 9,” jelasnya.

Anak berprestasi tersebut semestinya juga dipandu masuk ke perguruan tinggi yang cocok untuk melanjutkan riset. Bila perlu, bebas tes. Skripsi mereka pun harus fokus ke riset.

“Terus lanjut sampai tingkat S-2, jadi inovasi harus seperti itu," katanya. (abc/bls)