Sabtu, 19 Oktober 2019


Fenomena ‘Hamburan Mi’ di Langit Muaro Jambi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 35
Fenomena ‘Hamburan Mi’ di Langit Muaro Jambi

MERAH - Langit terlihat merah di kawasan Desa Puding Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi Provinsi Jambi, Sabtu (21/9) yang menandakan polutan di sana dominan berukuran 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi.

Langit di sejumlah daerah di Kecamatan Kumpeh Ilir, Muaro Jambi, Jambi memerah, Sabtu (21/9) kemarin. Padahal, saat itu masih pukul 11.00 siang. Video dan foto kejadian itu pun tersebar di grup-grup WhatsApp hingga di Kalbar.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo Soetarno menjelaskan fenomena langit merah di Muaro Jambi disebut dengan fenomena Mie Scattering atau Hamburan Mi.

Suasana siang hari di sana layaknya seperti pada malam hari. Kondisi ini diakibat kebakaran hutan dan lahan yang hingga kini masih terus terjadi di kecamatan tersebut. Kondisi ini baru pertama kali terjadi. Abu juga berterbangan, suasana gelap dan jarak pandang terbatas.

Agus mengakui bahwa langit merah tersebut berhubungan dengan titik api di Muaro Jambi yang sangat tinggi.

"Ini data tadi pagi di Muaro Jambi, terjadinya hotspot 430 yang validitasnya di atas 80 persen. Jadi memang di sana banyak sekali titik api," kata Agus, Minggu (22/9).

Hotspot tersebut menghasilkan asap dan debu yang berterbangan. Partikel itu terkena pantulan sinar matahari darn berubah menjadi berwarna merah. Disebutkan Agus, partikel dari debu tersebut menyerupai panjang gelombang warna merah dan oranye.

"Ukuran partikel polutan asap yang menyebabkan sinar matahari memancarkan warna oranye-merah. Ukuran partikel polutan sama dengan panjang gelombang oranye-merah, sekitar 0,7 micron," jelasnya.

"Sehingga sinar matahari dihamburkan jadi warna oranye-merah, kita sebut hamburan mi atau mie scattering," sambungnya.

Kejadian serupa, ujar Agus, juga pernah terjadi di Ogan Ilir, Sumatera Selatan pada tahun 2015. Langit oranye kemerahan itu pun disebabkan oleh hotspot yang tinggi saat itu. Menurut Agus, dampak negatif dalam fenomena ini ialah jarak pandang masyarakat yang terbatas. Kemudian asap dan debu yang berterbangan ini, kata dia, juga berbahaya bagi kesehatan warga.

"Karena asap dan debu. Pertama dia asap berbahaya, kedua dia juga jarak pandangnya 10 meter, 20 meter hingga 50 meter karena tertutup asap tersebut," ungkapnya.

Agus pun mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam berkendara. Dalam penanganannya dia meminta agar masyarakat dapat membunyikan suara kendaraan agar diketahui oleh pengendara lainnya.

"Harus dibunyikan suara begitu, supaya kedengaran kalau tidak kelihatan," tutupnya. (ant/cnn/bls)