Senin, 16 Desember 2019


Eksodus Lumpuhkan Ekonomi Wamena

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 8249
Eksodus Lumpuhkan Ekonomi Wamena

Grafis Koko

JAKARTA, SP – Eksodus besar-besaran pendatang dan warga asli Papua dari luar Wamena dikhawatirkan mengganggu perekonomian wilayah di pegunungan tengah tersebut. Pasalnya hingga kini, setidaknya 11 ribu warga telah pindah dari wilayah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, sejak peristiwa kerusuhan terjadi di daerah itu pada Senin (23/9) lalu.

Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto menyatakan, pemerintah telah berkoordinasi untuk menstabilkan kondisi Wamena, pascakerusuhan dan serangan kelompok bersenjata.

"Kami (pemerintah) berusaha agar kembali melakukan stabilisasi daerah Wamena dan sekitarnya, atau daerah daerah yang saat ini masyarakatnya trauma karena serangan dari OPM, dari KKB itu," terang Wiranto kepada wartawan di kantornya, Jumat (4/10).

Wiranto menyebut, hal yang terpenting yang perlu dilakukan pemerintah saat ini adalah menetralisir trauma masyarakat khususnya masyarakat pendatang. Saat kerusuhan, mereka jadi korban teror rasisme paling utama. Masyarakat dan tokoh setempat akan menjamin keamanan masyarakat pendatang agar bisa beraktivitas normal kembali sehingga masyarakat pendatang diminta tak pulang ke kampung.

Rata-rata, masyarakat pendatang berasal dari Sumatera Barat, Makassar, Sulawesi Selatan yang notabene berprofesi sebagai pedagang dan menggerakan kehidupan perekonomian masyarakat setempat.

"Bisa dibayangkan kalau mereka kemudian eksodus, maka roda perekonomian di daerah itu bisa mati, bisa macet. Jadi sebenarnya saling membutuhkan," terangnya.

Sehingga, Wiranto meminta kesadaran masyarakat Wamena dan daerah-daerah terdampak kerusuhan untuk saling mendukung dan memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat pendatang yang merupakan kunci roda kehidupan ekonomi.

Kementerian Sosial mencatat setidaknya 11.646 orang telah meninggalkan Wamena. Sementara, pengungsi di Wamena saat ini sebanyak 4.969 orang. Data Pangkalan TNI Angkatan Udara Silas Paparedi Sentani mencatat 8.051 warga mengungsi ke Jayapura.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat mengatakan jumlah pengungsi yang sudah keluar dari Jayapura tercatat 220 orang dengan tujuan Malang, Makassar, Timika, dan Padang.

Demonstrasi yang berujung kerusuhan di Wamena pada 23 September menyebabkan sedikitnya 33 orang meninggal dunia dan mengakibatkan kerusakan bangunan rumah warga, kantor, kios, dan fasilitas umum. Kerusuhan itu disebut bermula dari kesalahpahaman terkait ucapan rasialis dari seorang guru di lokasi itu. Saksi mata menyatakan, kebanyakan perusuh bukan warga asli Wamena.

Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengungkapkan, kondisi keamanan di Wamena berangsur pulih. Dia mengatakan, seluruh aktivitas warganya mulai mendekati sediakala termasuk roda ekonomi yang berputar kembali.

"Aparat keamanan akan terus menjaga situasi sekaligus terus mengembangkan penyidikan untuk melakukan pengejaran terhadap para pelaku kerusuhan," kata Irjen Paulus Waterpauw.

Dia mengatakan, kepolisian juga sudah menahan tujuh tersangka kerusuhan. Dia menjanjikan aparat keamanan akan terus mengejar pelaku lainnya demi menegakkan hukum di Indonesia.

Irjen Paulus mengatakan, berangsur kondusifnya situasi di Wamena diharapkan akan percepatan pemulihan baik dalam hal ekonomi maupun sosial. Dia mengklaim, pasar yang menjadi pusat kegiatan masyarakat di Jalan Irian, Wamena, sudah diramaikan pedagang yang menjajakan aneka kebutuhan pokok.

Di tengah kota, dia mengatakan, terutama di Jalan Trikora sudah mulai ramai dilalui kendaraan para pegawai dan pekerja menuju tempat mereka bekerja. Meski, diakuinya, masih ada pengungsi yang bertahan di sejumlah tempat, termasuk di kantor Polres Jayawijaya dan fasilitas milik TNI di Wamena.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta juga berharap pemulihan perekonomian di Wamena, Papua, bisa berjalan dengan cepat. Dia mengatakan, perdagangan bahan kebutuhan pokok di wilayah tersebut memberikan kontribusi kedua terbesar sekitar 16,5 persen bagi perekonomian Wamena setelah sektor transportasi dan pergudangan yang menyumbang 18,7 persen.

"Saya berharap hal-hal positif yang sudah terjadi di Papua, baik itu pertumbuhan ekonomi maupun situasi politik serta sosial yang kondusif tetap terjaga agar sama majunya dengan wilayah Indonesia lainnya," kata Arif dalam keterangan resmi.

Gubernur Papua Lukas Enembe juga mengakui krusialnya peran pendatang dalam perekonomian Papua. Terkait persoalan tersebut, dia meminta warga Minang dan pendatang dari daerah lain tidak perlu keluar dari Papua.

"Jangan tinggalkan Papua. Semua orang asal Sumbar di tanah Papua tidak boleh pergi. Bangun kembali toko agar ekonomi di Papua bisa tumbuh kembali,” kata Enembe kepada wartawan, Selasa (1/10) malam.

Ketua Jaringan Damai Papua sekaligus peneliti LIPI, Adriana Elisabeth, menuturkan, warga pendatang memang menggerakkan perekonomian di Wamena. Kendati demikian, seperti kebanyakan daerah lain di Papua, pemberdayaan ekonomi untuk penduduk asli Papua masih terbatas.

Persepsi ketimpangan itu, kata Adriana, justru jadi salah satu yang bisa dipicu untuk memunculkan kerusuhan. “Ternyata ada yang melihat ini (ketimpangan), sepertinya potensi konflik nih, dan dibuat yang paling memicu ternyata masalah identitas rasial itu,” kata Adriana.

Sudah Kondusif

Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kondisi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, makin kondusif. Warga diharapkan tidak eksodus.

"Laporan Wamena yang tadi pagi saya terima pada dasarnya suasana semakin baik, semakin kondusif, sudah tenang. Memang masih ada beberapa warga yang masih khawatir, masih merasa takut itu saya kira manusiawi," kata Agus, Jumat (4/10).

Meski kondusif, masih ada warga yang tetap ingin eksodus dari Wamena. Mensos berharap warga tetap bertahan di Wamena.

"Juga diketahui ada beberapa warga sejumlah warga yang memang berupaya untuk keluar dari Papua untuk mengungsi dari Papua. Saya mengimbau bahwa itu sebenernya sudah tidak perlu, karena memang keamanan sudah semakin baik, sudah semakin kondusif," ujar Agus.

Agus menyarankan agar warga tidak eksodus bila tidak ada keperluan yang mendesak. Sebab, kondisi Wamena sudah pulih, termasuk aktivitas perekonomiannya.

"Jadi, menurut pandangan saya, kalau tidak terlalu urgen, kalau tidak terlalu penting, walaupun sekali lagi rasa takut khawatir itu manusiawi, tapi ya saya kira tidak perlu meninggalkan tanah Papua. Karena tanah Papua memerlukan sumber daya manusia, membutuhkan kegiatan ekonomi pada ujungnya tentu memberikan kesejahteraan warga Papua itu sendiri," sambungnya.

Selain itu, Agus berharap semua pihak berkomitmen menjaga keamanan di Wamena. Pemerintah setempat juga memberikan pendampingan terhadap warga.

"Mari kita bersama-sama latar belakang apa pun berkomitmen membangun tanah Papua yang memang secara intensif pun sudah dilakukan pemerintah. Imbauan untuk warga Papua menetap saja di Papua. Pemerintah pusat akan selalu mendampingi seluruh warga dan pemerintah pusat memberikan keamanan agar keselamatan," imbuh Agus.

Sedangkan Kemensos disebut Agus memperkuat program layanan sosial di Wamena bersama sejumlah kampus. Kemensos menyiapkan layanan trauma healing untuk warga.

Selain itu, dia mengatakan korban tewas dalam kerusuhan di Wamena bakal mendapat santunan Rp15 juta per orang. Santunan itu diserahkan kepada para ahli warisnya masing-masing.

"Jadi berapa pun itu yang menjadi korban meninggal, akan kami berikan santunan ahli waris sebesar Rp15 juta per jiwa, yang akan kami salurkan pada keluarga," kata Agus.

Diketahui setidaknya 32 orang tewas dalam kerusuhan di Wamena, Senin 23 September lalu. Selain santunan untuk korban tewas, kata Agus, pemerintah pusat akan menyalurkan bantuan dana lewat program usaha ekonomi produktif (UEP). Menurutnya, bantuan ini diberikan kepada para pemilik warung atau tempat usaha yang terkena dampak kerusuhan beberapa waktu lalu.

"Toko-toko, warung-warung yang terdampak kerusuhan akan kami bantu, berupa dana stimulan," ujarnya tanpa merinci berapa besaran dana bantuan dari UEP ini.

Agus menjelaskan bantuan dana dalam program UEP ini sepenuhnya tergantung usulan dari pemerintah provinsi setempat. Menurutnya, pemprov sana akan melakukan verifikasi masyarakat yang berhak menerima bantuan ini.

Agus mengatakan mekanisme penyaluran bantuan dilakukan lewat transfer bank. Penyaluran bantuan program UEP ini bisa dilaksanakan setelah pemprov menyampaikan data hasil verifikasi masyarakat yang usahanya terdampak kerusuhan.

"Dana stimulan kan untuk membantu, membantu percepatan agar toko dan warung segera pulih, ekonomi di tingkat lokal bisa berjalan normal kembali," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga telah mengirimkan bantuan kepada masyarakat korban kerusuhan Wamena, kemarin. Jokowi memberikan bantuan sekitar 5.000 paket sembako yang dikirimkan secara bertahap. Paket bantuan tersebut terdiri dari 5 kg beras, 1 kg gula pasir, 1 liter minyak goreng, 1 kotak teh celup, 1 kotak biskuit, dan 1 botol air mineral. (ant/cnn/gat/mer/bls)