Selasa, 15 Oktober 2019


Mahasiswa Tewas, Enam Polisi Dibebastugaskan

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 16
Mahasiswa Tewas, Enam Polisi Dibebastugaskan

AKSI - Direktur Intelkam Polda Sulawesi Tenggara, Kombes Pol Hartoyo (kiri) menemui mahasiswa Fakultas Tehnik Universitas Haluoleo Kendari yang menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (2/10). Mahasisw

JAKARTA, SP - Kepolisian membebastugaskan enam aparat dari jabatannya karena diduga melakukan pelanggaran standar operasional pengamanan demonstrasi mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka membawa senjata api saat pengamanan aksi unjuk rasa menolak revisi RUU KUHP dan UU KPK di gedung DPRD Sultra, Kamis (26/9).

Aksi unjuk rasa ribuan massa gabungan dari sejumlah perguruan tinggi serta pelajar di Kota Kendari itu menyebabkan dua mahasiswa tewas. Pertama, Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak di dada sebelah kanan Kamis (26/9) sekitar pukul 15:30 Wita.

Sedangkan korban Muh Yusuf Kardawi (19) meninggal dunia setelah menjalani operasi akibat luka serius di bagian kepala di RSUD Bahteramas pada Jumat dini (27/9) sekitar 04:00 Wita.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan pembebasan tugas keenam anggotanya tersebut lantaran masih menjalani proses pemeriksaan. Pembebasan tugas juga akan dilakukan hingga proses persidangan.

"Dibebastugaskan dari Reskrim (Polres Kendari) dan intel karena sedang jalani proses riksa sampai persidangan pelanggaran disiplinnya," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (7/10).

Keenam orang personel yang berstatus terperiksa adalah DK, DM, MI, MA, H dan E.

Korban penembakan bukan hanya peserta unjuk rasa tetapi juga seorang ibu hamil enam bulan yang sedang tertidur lelap di rumahnya Jln Syeh Yusuf, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari Kamis (26/9) sekitar pukul 16:00 Wita. Identifikasi sementara disebutkan bahwa peluru yang diangkat dari betis ibu hamil berkaliber 9 milimeter.

Kepolisian telah menemukan proyektil peluru yang menewaskan mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Randi (21) saat demonstrasi mahasiswa di Kendari. Peluru itu akan dikirim ke Belanda dan Australia untuk melalui uji balistik. Uji balistik juga akan dilakukan terhadap peluru yang menembus paha kaki seorang ibu hamil di sekitar lokasi unjuk rasa.

"Proyektil yang menyebabkan Randi meninggal dunia dan yang menembus satu ibu hamil, untuk kepastian maka proyektil akan diuji ke Belanda dan Australia. Ini upaya kita untuk menguji secara profesional siapa pelakunya," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra.

Asep menyatakan uji balistik dilakukan hingga ke Belanda dan Australia karena alat laboratorium yang dimiliki dua negara tersebut sudah canggih.

"Proyektil urgensinya apa, tentunya kita berharap bahwa teknologi secara laboratoris akan mendapatkan hasil yang konkret dan nyata. Ini kan proyektil kita dapat di sekitaran korban, jadi ini yang kita masih harus terus dalami," tuturnya. (ant/cnn/bls)