Senin, 09 Desember 2019


Paru-Paru Dunia Terbakar, Paru-Paru Masyarakat Meradang

Editor:

Shella Rimang

    |     Pembaca: 261
Paru-Paru Dunia Terbakar, Paru-Paru Masyarakat Meradang

Ilustrasi

Oleh: Fithriyyah | Mahasiswi Program Profesi Dokter Universitas Tanjungpura

Selama beberapa hari ini, paru-paru masyarakat Kalimantan Barat terpaksa kembali terpapar dengan asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang di mana hal ini terus terjadi rutin setiap tahunnya.

Berdasarkan pantauan terakhir BMKG Supadio Pontianak pada 15 September 2019, terpantau ada 1.121 titik panas yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kalimantan Barat.

Hal ini memberi dampak pada kualitas udara di Kota Pontianak yang masuk dalam kategori “sangat tidak sehat”, selangkah lagi menuju kategori terburuk “berbahaya”. 

Karhutla dapat terjadi secara alami maupun akibat ulah aktivitas manusia. Pada karhutla alami, biasanya dipicu oleh petir, lelehan lahar gunung berapi, dan gesekan antarpepohonan.

Adanya sambaran petir dan gesekan pohon, bisa berubah menjadi kebakaran bila kondisi hutannya memungkinkan, seperti terjadinya musim kering yang panjang. Di hutan-hutan subtropis Amerika atau Kanada, sambaran petir dan gesekan ranting pepohonan sering menjadi pemicu utama kebakaran. 

Namun di Indonesia yang memiliki hutan hujan tropis yang besar, hal ini sedikit mustahil dikarenakan petir akan terjadi beriringan dengan hujan atau terjadi sepanjang hujan.

Pemicu alamiah lainnya adalah gesekan antara cabang dan ranting pepohonan. Hal ini pun biasanya hanya terjadi di hutan-hutan yang kering. Hutan hujan tropis memiliki kelembaban tinggi, sehingga kemungkinan gesekan antarpohon menyebabkan kebakaran sangat kecil.

Faktor jenis tanah juga berpengaruh dalam proses kebakaran ini. Seperti yang kita ketahui bahwa jenis tanah gambut merupakan tanah khas di Kalimantan, sehingga ketika musim kering tiba, maka tanah tersebut akan sangat kering dan berpotensi sebagai penyimpan api.

Hal ini disebabkan karena tanah gambut yang cukup dalam dan air yang digunakan untuk memadamkan api di permukaan, tidak cukup untuk mematikan api yang terdapat beberapa meter di dalam tanah. Sehingga kebakaran akan muncul kembali walau telah dipadamkan. Hal ini yang semakin mempersulit proses penanganan karhutla itu sendiri.

Selain itu, faktor terbesar dari terjadinya karhutla, yaitu 99 persen disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pada pembukaan lahan sawit dan hutan tanaman industri, yang sejak di atas tahun 1980 diduga menjadi penyebab utamanya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Selain bersikap tegas menolak pembakaran hutan dan lahan, masyarakat tentunya harus tetap mengutamakan keselamatan diri dengan menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini dikarenakan asap yang dihasilkan akibat karhutla itu sendiri dapat membahayakan kesehatan terutama anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru. 

Bayangkan saja asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang menggangu pernapasan, seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3).

Tidak heran jika orang akan merasakan dampak langsung akibat menghirup udara yang sangat tidak sehat ini, contohnya seperti batuk, sakit leher, demam, hingga asma, yang ujung-ujungnya mayoritas akan berakhir pada menurunnya imunitas tubuh dan terjadilah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). 

Oleh karena itu, menjaga kesehatan tubuh, pertama, kurangi aktivitas di luar rumah terutama bagi orang-orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan.

Kedua, jika terpaksa keluar rumah maka harus menggunakan masker. Ketiga, banyak minum air putih, mengonsumsi buah-buahan serta vitamin penambah daya tahan tubuh agar menjaga kondisi tubuh tetap fit. 

Keempat, lindungi penampungan air atau makanan dengan penutup atau cuci bersih buah-buahan/sayuran sebelum dimakan. Kelima, pastikan pintu dan jendela rumah tertutup rapat, atau tutup ventilasi/celah apa pun dengan kain basah untuk mencegah asap masuk.

Keenam, melakukan pola Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS), seperti tidak merokok, mencuci tangan, dan istirahat yang cukup.

Jika muncul gejala seperti demam, pusing, sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat/berair, sesak napas, dan badan terasa pegal atau nyeri, segera temui dokter untuk mendapatkan pengobatan awal untuk mencegah perkembangan gejala tersebut memunculkan penyakit yang lebih serius, yaitu gangguan pernapasan.