Senin, 09 Desember 2019


Kabut Asap: Karhutla vs Ladang Masyarakat

Editor:

Shella Rimang

    |     Pembaca: 168
Kabut Asap: Karhutla vs Ladang Masyarakat

Ilustrasi

Oleh: Dr. Yulianus, S.Hut., M.Si. | Pegawai Bappeda Bengkayang

Beberapa minggu ini, sebagian besar daerah di Indonesia “terserang” oleh kabut asap, yang kian hari semakin mengganggu bahkan sampai pada tahap yang membahayakan.

Ancaman pada kesehatan terutama yang berkaitan dengan pernapasan dan terganggunya aktivitas masyarakat pada seluruh sektor, tentunya akan memberikan implikasi yang merugikan pada semua pihak. 

Fenomena tersebut merupakan efek dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di beberapa tempat, terutama pada dua pulau terbesar di Indonesia, yaitu Kalimantan dan Sumatera.

Alam mempunyai caranya sendiri untuk merespons ketidakseimbangan yang terjadi akibat ulah manusia. Ketika terjadi kebakaran yang sangat luas, lama, dan terjadi secara bersamaan, tentunya hutan dan penutup lahan lainnya yang bertugas sebagai penetralisir kondisi tersebut memiliki keterbatasan dalam mereduksinya. 

Secara umum, hutan dianggap sebagai sumber daya alam yang besar manfaatnya bagi kehidupan manusia jika dilihat dari ketersediaan potensi yang terkandung di dalamnya, seperti kayu, sumber pangan, sumber obat-obatan dan lainnya. Namun secara spesifik, banyak yang kurang menyadari bahwa fungsi hutan yang justru lebih besar nilainya meski tidak memberikan manfaat secara langsung, yaitu fungsi ekologi.

Hutan berperan utama dalam menyeimbang alam sehingga dapat menjadi pencegah banjir dan longsor, penyedia air baku bagi kehidupan, menjaga iklim mikro yang menghambat terjadinya peristiwa badai dan angin puting beliung, serta angin bersuhu tinggi (angin Fohn).

Hutan juga menjadi penyuplai oksigen yang merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia, dan menghambat percepatan pemanasan global, serta banyak lagi fungsi ekologi lainnya termasuk mereduksi kabut asap dari akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Pentingnya peran hutan tersebut, bukan berarti kita tidak boleh memanfaatkan hutan untuk kehidupan. Namun jika eksploitasi yang berlebihan dan tanpa ada manajemen serta pembaruan yang konkret, dapat dipastikan fungsi ekologi hutan tadi akan terganggu, yang pada akhirnya menyebabkan bencana. Dan salah satu yang sedang dialami saat ini adalah kabut asap yang semakin parah dan membahayakan.

Dan hal ini yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, mengapa begitu banyak dan luasnya titik api yang terjadi di hutan dan lahan kita, yang sampai mengakibatkan kabut asap yang parah seperti saat ini?

Beberapa opini yang tersebar saat ini dari berbagai sumber, secara jelas menyatakan bahwa kabut asap saat ini merupakan hasil dari aktivitas masyarakat berladang. Tentunya opini tersebut perlu dipertimbangkan terlebih dahulu untuk dipublis, mengingat dalam membuat suatu penyataan yang menyudutkan suatu pihak, memerlukan hasil kajian yang mendalam dan komprehensif pada data yang valid dan fakta-fakta di lapangan.

Aktivitas berladang masyarakat di Pulau Kalimantan, khususnya daerah Kalimantan Barat secara umum adalah kegiatan tahunan yang telah dilakukan sejak lama dan turun-temurun sehingga dapat dikatakan tradisi.

Hal ini dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan primer, yaitu ketahanan pangan suatu keluarga atau masyarakat selama setahun yang pada prosesnya dilakukan secara gotong royong dan bergantian. 

Untuk membuat suatu ladang yang produktif, secara umum masyarakat melakukan Land Clearing (LC) dengan membakar lahan yang sebelumnya telah dilakukan penebangan dan penebasan pada areal ladang tersebut. Proses pembakaran, dilakukan pada saat musim kemarau dengan harapan pohon dan semak yang telah ditebang dan dibersihkan telah kering dan mudah untuk dibakar.

Pembakaran dilakukan tidak hanya untuk LC, tetapi juga untuk menyuburkan lahan-ladang tersebut. Karena dengan dibakar, akan banyak pupuk organik yang tersedia dari hasil pembakaran tersebut serta jamur-jamur yang berpotensi mengganggu tanaman ladang juga akan ikut terbakar.

Pada proses pembakaran, masyarakat selalu bergotong royong untuk menjaga agar proses pembakaran tetap terkontrol dan tidak merambah ke areal selain ladang yang dipersiapkan. Karena material yang dibakar sangat kering dan lahan yang dipersiapkan untuk ladang juga tidak terlalu luas, tentunya proses pembakaran tidak berlangsung lama dan asap yang dihasilkan juga tidak terlalu banyak, karena pembakaran pada material yang kering akan sempurna dan cepat.

Demikian tertatanya proses dan tahapan aktivitas berladang masyarakat, mengingat hal ini sudah terjadi sejak lama sehingga dengan pengalaman tersebut, tanpa disadari aktivitas berladang yang dilakukan masyarakat sangat terkontrol dengan baik, terutama mencegah terjadinya kebakaran hutan.

Permasalahan karhutla dan aktivitas berladang masyarakat yang terdapat di regional Kalimantan Barat dimungkinkan ada hubungannya, namun perlu dicermati lebih mendalam apakah aktivitas berladang adalah variabel utama penyebab bencana kabut asap yang sedang terjadi saat ini. 

Diketahui bahwa regional Kalimantan Barat yang paling bermasalah dengan karhutla pada tahun ini (2019) adalah Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya. Dua wilayah tersebut memiliki areal gambut yang cukup dominan dengan karakter mudah terbakar dan sulit untuk dipadamkan karena kebakaran yang terjadi berada di bawah lantai hutan.

Material gambut jika terbakar akan menyebabkan asap yang sangat banyak karena kebakaran yang terjadi tidak sempurna. Dalam kondisi normal, gambut adalah material pembentuk tanah mineral yang belum terdekomposisi secara sempurna karena keberadaannya selalu terdapat di daerah rawa atau genangan.

Dengan kondisi yang demikian, hanya jenis tanaman tertentu yang bisa tumbuh pada lahan gambut karena material ini bersifat asam dan sangat tidak cocok untuk tanaman palawija dan pertanian jika tidak ada perlakuan yang diaplikasikan.

Masyarakat berladang, tentu berharap mendapatkan produksi pangan yang optimal. Untuk itu, dalam memilih lokasi berladang, tentunya mempertimbangkan kesuburan dan kesesuaian lahan dengan jenis komoditas yang ingin ditanam.

Masyarakat tidak mungkin memilih lahan gambut yang tidak sesuai dengan tanaman pertanian dan sulit untuk dilakukan land clearing dengan cara dibakar. Jika karhutla yang terjadi di regional Kalimantan Barat sebagian besar adalah mineral gambut, maka dapat dipastikan kebakaran yang terjadi tentu bukan akibat aktivitas masyarakat yang berladang.

Berkaitan dengan proses persiapan lahan ladang masyarakat, juga memperkuat pernyataan bahwa kabut asap yang sedang terjadi saat ini bukan ulah dari aktivitas pembakaran ladng. Karena, saat kabut asap semakin parah justru jadwal proses pembakaran ladang masyarakat sudah terlewati dan memasuki masa tanam.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada penyebab kasus karhutla selain berladang, yang justru lebih besar dan parah sehingga bencana kabut asap terjadi.

Bencana kabut asap yang sedang terjadi saat ini merupakan hal yang harus segera ditangani oleh semua pihak terutama pihak pemerintah. Tidak hanya berupa ancaman spesifik terhadap kesehatan bahkan nyawa manusia saja, tetapi juga menghambat proses pembangunan secara makro yang pada akhirnya mengarah pada terganggunya kondisi perekonomian baik secara regional maupun nasional.

Sebagai warga negara, mungkin dapat menawarkan beberapa alternatif rekomendasi terkait pencegahan dan penanganan karhutla yang menyebabkan bencana kabut asap ini.

Keterbatasan sumber daya merupakan alasan utama bagi setiap daerah untuk mengatasi masalah karhutla yang terjadi, baik itu dari jumlah tenaga maupun anggaran.

Memperhatikan hal tersebut, mungkin ada baiknya untuk beberapa daerah yang tertidentifikasi rawan dan selalu terjadi karhutla, diperlakukan secara khusus dengan mengalokasikan anggaran khusus serta menjadikan karhutla sebagai urusan wajib pemerintahan bagi wilayah tersebut.

Hal lain yang dapat direkomendasikan adalah terkait dengan tindakan pencegahan dan penanganan tahap dini terjadinya karhutla. Karhutla akan lebih mudah ditangani ketika titik api masih sedikit dan belum menyebar.

Dengan mempersiapkan sarana yang memadai, petugas yang cukup dan adanya kerja sama yang baik dari semua pihak, tentunya ketika karhutla mulai terjadi pada musim kemarau, dapat dengan cepat ditangani sehingga tidak terjadi karhutla yang lebih besar dan sulit untuk ditangani.