Senin, 09 Desember 2019


Tantangan Kekinian Bahasa Indonesia

Editor:

Shella Rimang

    |     Pembaca: 215
Tantangan Kekinian Bahasa Indonesia

Ilustrasi

Oleh Y Priyono Pasti | Penulis,  Alumnus USD Yogya, Kepala  SMP /Guru SMA Asisi Pontianak


Dalam diskusi “Satu Dekade UU 24/2009 dan Lanskap Bahasa dan Kesastraan Kini” di Jakarta, pada Senin (21/10), ada dua hal menarik terkait kondisi kekinian bahasa Indonesia yang patut kita cermati bersama.

Pertama, bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional dengan penutur potensial dari Asia Tenggara, Suriname, dan keturunan Kelkmoon, etnis Melayu di Afrika Selatan. Bahkan, sebagaimana yang diungkapkan Profesor Riset Bahasa Indonesia LIPI, Dendy Sugono, bahasa Indonesia diajarkan di 70 negara, antara lain di Australia, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan.

Kedua, penggunaan bahasa Indonesia di ruang-ruang publik kian memprihatinkan. Dominasi bahasa Inggris di ruang-ruang publik kian menguat. Kondisi ini menegaskan bahwa tidak ada kepercayaan diri dari masyarakat Indonesia terhadap bahasanya.

Satu dekade Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan disahkan, bahasa Indonesia tetap nomor dua di ruang-ruang publik kita. Pemakaian bahasa asing, khususnya bahasa Inggris masih mendominasi sebagai petunjuk arah, bahkan slogan reklame.

Harian Kompas mencatat, di ruang-ruang publik di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, bahasa Inggris lebih mendominasi. Nama-nama gedung, kompleks perumahan, dan toko menggunakan bahasa Inggris. Slogan reklame hingga petunjuk arah di pusat-pusat perbelanjaan, umumnya menggunakan bahasa Inggris, termasuk metode cara penamaan lantai seperti ground, upper ground, dan lower ground walaupun ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di Jepang. Jepang, membangun bangsanya melalui politik identitas bahasanya. Di tengah kondisi negaranya yang hancur lebur akibat perang, Jepang membangun jati diri bangsanya melalui pengutamaan penggunaan bahasa Jepang dengan penerjemahan semua literatur asing ke dalam bahasa Jepang. 

Demikian juga halnya dengan Jerman dan Perancis, untuk menyebut beberapa contoh. Semangat dan sikap nasionalisme Jerman dan Perancis ditunjukkan dengan penghormatan, kecintaan, dan kebanggaan pada bahasanya.

Kekinian Bahasa Indonesia

Harus diakui, intensitas pemakaian, sikap hormat, kecintaan, dan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia masih harus kita perjuangkan melalui berbagai upaya. Perilaku berbahasa masyarakat kita belum sepenuhnya menempatkan bahasa Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Sikap hormat, rasa cinta dan bangga terhadap bahasa Indonesia sebagai simbol negara mengalami degradasi. Masyarakat lebih memilih penggunaan bahasa asing (Inggris) meski tidak pada tempatnya.

Kesadaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat kita, termasuk di kalangan generasi muda masih rendah. Fakta di lapangan menunjukkan, sikap hormat, kecintaan dan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan ungkapan persatuan bangsa kian tergerus. Bahasa Indonesia yang baik dan benar tersingkir dari percakapan (kehidupan) sehari-hari diganti bahasa prokem, bahasa gaul, dan bahasa asing.

Di kota-kota besar, sikap hormat, kecintaan, dan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia semakin menyedihkan. Ada kesan kuat, bahasa Indonesia semakin terpinggirkan, cenderung tidak dianggap, bahkan tidak masuk hitungan dan tak penting.

Di jagat pendidikan pun, pelajaran (ber-)bahasa kurang mendapat tempat. Penyebabnya   masyarakat kita, terlalu mengagung-agungkan pelajaran eksakta; matematika, fisika, kimia, dan biologi. Pelajaran Humaniora (bahasa, sastra, sejarah, dan teologia) - yang sesungguhnya selain mengembangkan intelektual juga mengembangkan perilaku, sikap, dan hati nurani-  kurang bahkan tidak mendapat tempat di hati masyarakat dan para siswa.

Pelajaran bahasa  kurang mendapat perhatian serius dari para siswa. Para siswa enggan mempelajari bahasa (Indonesia). Akhir-akhir ini, keengganan tersebut semakin terasakan. Menurunnya gairah siswa (juga masyarakat kita) terhadap bidang studi yang erat kaitannya dengan ‘dunia komunikasi’ ini serta rendahnya kemampuan berbahasa mereka, baik lisan maupun tulisan menegaskan hal itu.

Padahal, dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya, berharkat, bermartabat. Bangsa yang menjunjung tinggi identitas nasionalnya. Bangsa yang menghormati simbol negaranya.

Menyadari kondisi kekinian bahasa Indonesia yang demikian, semua pihak harus bekerja sama mengupayakan revitalisasi penggunaan bahasa Indonesia, menguatkan sikap hormat, rasa cinta, dan menjaga agar bahasa Indonesia tetap menjadi identitas, kebanggaan nasional, dan simbol negara.

Komitmen untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus ditumbuhsuburkan, dikembangkan, dimekar-wangikan, dan dipelihara di kalangan masyarakat dan siswa. Penulis berita, presenter, tayangan-tayangan berita televisi, dan rupa-rupa penggunaan bahasa untuk berbagai aktivitas dan kepentingan lainnya hendaknya menggunakan bahasa Indonesia yang santun, bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai wujud sikap hormat, kecintaan, dan kebanggaan  kita pada bahasa Indonesia.

Bertepatan dengan Bulan Bahasa pada bulan Oktober ini, serta peringatan Sumpah Pemuda yang kita lakukan pada 28 Oktober setiap bulannya, mari komitmen para tokoh pada gagasan Indonesia, salah satunya melalui pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu berbagai perbedaan kita teguhkan lagi.

Mari pengarusutamaan bahasa Indonesia  kita kuatkan  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sembari melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Mari kita menghormati, mencintai, menjaga, dan tetap komit menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, eksistensi jati diri bangsa, dan simbol negara.