Rabu, 19 Februari 2020


Menyikapi Kecanduan Internet pada Remaja

Editor:

Shella Rimang

    |     Pembaca: 220
Menyikapi Kecanduan Internet pada Remaja

Ilustrasi

Oleh Y Priyono Pasti | Penulis,  Alumnus USD Yogya, Kepala  SMP /Guru SMA Asisi Pontianak

 DALAM disertasinya yang berjudul “Pengembangan Kuisioner Diagnostik Adiksi Internet (KDAI) bagi Remaja: Studi Konektivitas Fungsional Otak melalui FMRI Bold, Prevalansi, Penelusuran Faktor Risiko, dan Proteksi”, Kristiana Siste mengungkapkan tingkat ketergantungan internet pada remaja di Indonesia termasuk tinggi.

Di Jakarta, misalnya, prevalansi kecanduan atau adiksi internet di kalangan remaja mencapai 31,4 persen. Durasi remaja Indonesia menggunakan internet, antara lain untuk permainan daring dan media sosial, mencapai lebih dari 20 jam per minggu. Sekitar 96 persen penggunaan internet dilakukan di rumah yang disediakan orang tua (Kompas, 20/11/2019). Bagaimana kita menyikapi fenomena ini?

Belakangan ini, media sosial (medsos) telah menyatu dengan denyut kehidupan  mayoritas keluarga dan bahkan masyarakat Indonesia. Irama hidup sebagian besar keluarga disibukkan dengan bermain HP (Smartphone Android), bermedsos, dan berselancar di dumay (dunia maya).  

Dalam Digital in 2018 yang dirilis We Are Social,  Indonesia menempati peringkat ketiga untuk jumlah waktu yang dihabiskan di medsos setiap hari. Rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan 3 jam 23 menit per hari untuk pelbagai aktivitas di medsos (Angga Indraswara, Kompas, 25/3/2019).

Realitas empirik yang terjadi belakangan ini, di tengah kesibukan orang tua memenuhi tuntutan kehidupan zaman now, tak banyak orang tua yang memiliki waktu luang berkualitas untuk menyentuh hati anak-anaknya. Komunikasi kultural orang tua-anak terabaikan. Sebagai ganti kehadiran dan sentuhannya, banyak orang tua membelikan dan memberikan Smartphone Android dengan berbagai aplikasinya untuk anak-anaknya.

Di tengah kondisi yang demikian, anak memang menjadi anteng dan penurut karena sibuk dengan gadget. Akan tetapi, ada nilai-nilai kehidupan dan kebersamaan yang hilang di antara anggota keluarga. Fakta yang terjadi di tengah keluarga kita saat ini, gara-gara adiksi gadget itu banyak anak dan orang tua kehilangan keakraban, anak kehilangan daya berpikir kritis, dan meminjam istilah Ketua Rumah Amalia, Muhammad Agus Syafii, banyak anak kehilangan kampus kehidupan dan kehilangan ‘dosen sejatinya’, yaitu ayah atau ibu.

Kebiasaan orang tua menenangkan anak dengan gadget akan membuat anak semakin bergantung dan mengalami adiksi (ketergantungan) pada gadget. Hasil riset, anak usia 2 tahun sudah lima persen kenal gadget ketika menyusui dengan ditunjukkan video. Bahkan anak 4 tahun tak mau makan kalau tak dibukakan YouTube.

Kondisi ini semakin parah ketika banyak orang tua dan juga anak-anaknya sibuk ber-Whatsapp ria meskipun sedang makan bersama. Kita sungguh hidup di dunia maya. Kita kehilangan sisi kemanusiaan kita yang paling mendasar, kasih sayang satu sama lain. Gadget telah menggantikannya.

Fenomena sosial lainnya yang kini kian memprihatinkan terkait gadget ini, banyak anak kita yang mengalami adiksi (ketergantungan) gim daring. Memang bermain gim daring bisa menjadi sarana rekreasi, pelipur lara, melepas segala kesuntukan dan kepenatan. Namun, ternyata bermain gim daring (apalagi berlebihan) bisa membuat orang kecanduan yang berdampak buruk pada perkembangan psikologis, pendidikan, kehidupan personal dan sosialnya.

Menyadari dampak buruk bermain gim daring tersebut, belum lama ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan kecanduan gim ke dalam kategori adiksi perilaku dalam International Classification of Disease (ICD) edisi ke-11. ICD merupakan klasifikasi diagnosis penyakit, gangguan, dan luka yang standar dipakai secara global, baik untuk keperluan klinis maupun riset.

WHO mendefinisikan kecanduan gim sebagai pola perilaku bermain gim (gim daring atau gim video) yang ditandai dengan ketidakmampuan pemainnya mengontrol hasrat bermain gim dan menjadikan main gim sebagai prioritas utama dibandingkan aktivitas lain.

Meski bermain gim memberikan dampak negatif perilaku, itu terus dilakukan secara berulang. Pola perilaku itu berdampak buruk pada kehidupan personal, sosial, pendidikan, dan pekerjaan (Kompas, 23/6/2018).

Gim daring ini, umumnya dikembangkan dalam tingkat kesulitan tertentu agar tetap menarik, menantang, membuat penasaran, dan akhirnya memberikan kesenangan. Ini akan mencekram otak semakin dalam pada adiksi.

Kecanduan bermain gim merupakan kecanduan perilaku (behavioral addiction). Meski bersifat menyenangkan, dalam jangka panjang bermain gim yang membuat kecanduan akan menyebabkan kerusakan di otak, bahkan menimbulkan kecemasan dan depresi.

Iman mengingatkan (20/6/2018), bermain gim, terutama gim daring atau gim video, akan memengaruhi ventral tegmental area (VTA) pada otak yang berperan mengeluarkan dopamine, hormon yang membuat kita merasa senang dan nyaman.

Sensasi menyenangkan bermain gim ini kemudian akan direkam dalam pusat memori pada otak. Begitu terekam dalam memori, kesan menyenangkan bermain gim ini akan sulit dihilangkan. Pusat memori di otak tidak bisa lagi menikmati kesenangan yang lain. Otak akan terus menagih untuk terus bermain gim karena aktivitas itu memberikan kesenangan tersendiri. Jika demikian kondisinya, saraf otaknya telah mengalami kerusakan.

Komitmen Bersama

Adiksi gadget, di antaranya gim daring yang dapat memicu kerusakan otak anak-anak kita tentu harus disikapi secara serius, diwaspadai, dan dihindari. Di keluarga, peran orang tua dalam mengantisipasi bahaya gim daring ini adalah kemutlakan.

Orang tua, melalui komunikasi kultural yang intensif dan sehat harus menaruh perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan anak-anak agar mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan  yang cendekia, berohani, dan memiliki integritas pribadi yang unggul.

Salah satu hal penting dan mendasar yang bisa dilakukan orang tua untuk menciptakan kebersamaan keluarga tanpa gadget adalah membuat komitmen (kesepakatan bersama) bahwa ketika di rumah pada jam-jam tertentu lupakan dan simpan gadget.

Ciptakan kesempatan dan kebersamaan yang berkualitas agar orang tua dan anak bisa ngobrol santai berkualitas edukatif. Sesibuk apa pun pekerjaan orang tua, sediakan waktu untuk  bermain, rekreasi bersama, makan bersama antara orang tua dan anak.

Jika ruang-ruang ini bisa diciptakan, keakraban orang tua dan anak sebagai faktor paling penting dalam kehidupan berkeluarga bisa diwujudkan. Jika hal ini bisa diwujudkan, adiksi gadget di kalangan anak-anak kita  bisa dieliminasi.

Hal lain yang mesti disepakati antara orang tua dan anak adalah menentukan jam wajib belajar bagi anak-anaknya. Dalam rentang jam wajib belajar itu, TV dimatikan, gadget disimpan, suasana tenang diciptakan.

Dengan demikian, anak akan serius dan fokus dalam belajar karena orangtua ikut memotivasi dan mendukung. Orang tua memberikan teladan pada anak-anaknya.

Anak (remaja) adalah masa depan suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia, di pundak merekalah masa depan bangsa ini dititipkan. Karena itu,  semua pihak (lebih-lebih orang tua/keluarga) harus menaruh perhatian serius terhadap berbagai aspek kehidupan anak remaja ini agar mereka mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan yang berguna bagi bangsa dan negaranya.

Di masa mendatang, anak (remaja) yang cerdas, berkepribadian mantap, mandiri, disiplin, jujur, bertanggung jawab, memiliki etos kerja adalah tuntutan agar mereka memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di tengah arus deras globalisasi yang begitu dahsyat saat ini. Tugas mulia ini idealnya dimulai dari keluarga melalui edukasi-komunikasi kultural yang sehat dan intensif.