Senin, 16 Desember 2019


Eks Gafatar, Warga Kelurahan Batulayang Diamankan di Kodim 1207 Pontianak

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1464
Eks Gafatar, Warga Kelurahan Batulayang  Diamankan di Kodim 1207 Pontianak

Kantor Walikota Pontianak. (humas.pontianakkota.go.id)

 

PONTIANAK, SP - Walikota Pontianak, Sutarmidji membenarkan adanya warga Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara, yang tidak diterima masyarakat karena pernah menjadi anggota Gafatar.

Saat ini, yang bersangkutan berada di Kodim Pontianak. Ia mengatakan, jumlahnya hanya satu orang saja.
“Akan kita bina, supaya kembali ke jalan yang benar. Jumlahnya hanya satu orang saja. Karena anak dan istrinya tidak mau ikut,” ujarnya, Senin (1/2).

Dikatakannya pula, Kota Pontianak tidak bersih dari anggota eks Gafatar. Bahkan tak hanya anggota, pengurus dan pembesarnya pun ada. Ia meminta agar semuanya sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Sebab mereka sudah jelas salah. “Jangan lagi ada cerita masalah lain. Kembali ke jalan yang benar, tobat, kalau memang mau diterima oleh masyarakat. Tinggalkan itu semua,” tegasnya.

Sutarmidji juga meminta agar masyarakat tidak berbuat anarkis dan memilih untuk bersama mengajak para anggota eks Gafatar kembali ke jalan yang benar. Mengajak orang kembali ke jalan yang benar, pahalanya besar, katanya.

Sementara terkait pembinaan, ia menyebut Dandim dan Polresta sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Dihubungi secara terpisah, Hendra Fellani, Lurah Batu Layang, Pontianak Utara, membenarkan salah seorang warganya yang merupakan mantan anggota Gafatar, saat ini tengah diamankan demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Hendra menambahkan, dari penuturan yang bersangkutan, dirinya sudah tidak aktif lagi sejak 2012. “Dia ini warga Gang Famili, sebenarnya yang bersangkutan pindahkan dari Jawa Tengah, sejak tahun 1998. Mereka di sini kegiatannya tidak ada yang mencurigakan,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Keseharian mantan anggota Gafatar itu pun tidak seperti yang dikoarkan selama ini. Layaknya mereka yang hidup di barak dan berkelompok. Ia hidup membaur bersama warga, anaknya juga bersekolah di sekolah umum.

Bahkan, istrinya merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang berprofesi sebagai guru. Sementara pekerjaannya memang tak jauh dari bidang pertanian. Menjual buku tanaman dan pupuk. 

Menurut pengakuan, yang bersangkutan, sebagaimana cerita Hendra Fellani, memilih keluar dari Gafatar setelah sadar ada susupan keagamaan yang menyesatkan dalam organisasi berbasis sosial itu.

Semua buku dan atribut Gafatar yang dimiliki juga sudah dibakar sesaat setelah keluar.
Sayangnya, di tahun 2011, Gafatar pernah mengadakan kegiatan sosial berupa gotong-royong dan pemeriksaan kesehatan, lengkap dengan atribut Gafatar di wilayah tersebut.

 Saat itu, belum ada gejolak dan semuanya berjalan normal. Hingga adanya kehebohan seperti sekarang, sejumlah warga teringat pada aksi sosial Gafatar tahun 2011 tersebut.   "Terbayang bahwa yang bersangkutan pernah mengajak dan memakai atribut Gafatar. Tapi menurut pengakuan yang bersangkutan, 2012, ia sudah keluar dan membakar semua buku serta atribut yang dimiliki,” jelasnya.

Bisa dikatakan, yang bersangkutan adalah korban dari ketidaktahuan. Namun kepalang tanggung, ratusan warga sempat mendatangi kediaman mantan anggota Gafatar tersebut. Dan memintanya pindah.

 Akhirnya, oleh pihak kelurahan dibantu sejumlah aparat berwenang, ia pun diamankan.  “Yang bersangkutan lalu kita amankan ke kelurahan, lalu ke Polsek Pontianak Utara dan sekarang sudah di Kodim,” singkatnya.

Hendra Fellani menyayangkan hal tersebut. Ia berharap warga mau menerima mantan anggota Gafatar itu. Sebab menurutnya selain karena merupakan warganya, sesungguhnya orang tersebut adalah korban. Yang pada mulanya tidak tahu perihal kesesatan Gafatar.

Namun, karena warga sepakat untuk melakukan evakuasi, ia menuruti. Alasan warga cukup kuat, mereka takut anak cucunya terpengaruh ajaran sesat, dan ditakutkan ada pihak ketiga yang memanfaatkan momen ini. 

"Misalnya ada pihak ketiga yang punya dendam pribadi dengan dia, lalu memprovokasi hal tidak diinginkan seperti pembakaran, dengan lantas mengatasnamakan warga. Kita tidak ingin itu,” tuturnya.


Kekhawatiran tersebut mendasar. Apalagi perihal Gafatar sudah menjadi isu nasional. Karenanya Hendra menerima aspirasi masyarakat untuk mengamankan mantan anggota Gafatar tersebut. Demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Diakuinya, selama ini, yang bersangkutan bersikap kooperatif. Di saat adanya penolakan dari warga pun, ia tidak berusaha mempertahankan diri tetap tinggal. Bahkan, ia sudah membuat pernyataan di Polsek Pontianak Utara bersedia untuk pindah, asalkan semua harta yang dimilikinya turut diamankan.

Dikatakannya, meski diamankan, apa yang dilakukan bukan untuk menciptakan musuh. Tapi tetap menjaga silaturahmi dan dilakukan secara kekeluargaan. Agar tidak ada yang dirugikan.

“Yang bersangkutan kan masih punya rumah, masih ada harta bendanya. Nanti kalau yang bersangkutan datang ke rumah untuk membawa harta bendanya, masyarakat ikut bantu. Artinya ini semua dilakukan secara kekeluargaan, damai dan kooperatif,” sebutnya.

Masyarakat sendiri meminta mantan anggota Gafatar itu untuk pindah dari wilayah tersebut. Namun, Hendra menambahkan, pihaknya akan berupaya melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, agar yang bersangkutan bisa diterima dan dibina. Juga meminta bantuan memberi pemahaman pada warga, karena sebenarnya yang bersangkutan adalah korban.

Jika pun nantinya kembali diterima warga, mantan anggota Gafatar itu diminta membuat pernyataan keluar dari Gafatar. Walaupun memang sudah keluar dan tidak aktif lagi. Kedua, diminta untuk bertobat, meski sudah tidak melakukan kegiatan keorganisasian. Dan bersedia dibina, dibawah pihak terkait, seperti kementerian agama.  

Ke depan, Hendra mengaku akan lebih selektif lagi, salah satunya dalam pengurusan izin pindah. Setiap orang yang ingin melakukan urusan tersebut harus datang langsung ke kelurahan. Dengan membawa kelengkapan identitas sesungguhnya.  

"Tidak boleh ada lagi calo pengurusan surat-surat, harus yang bersangkutan datang langsung. Kita akan melakukan pengecekan untuk membuktikan keaslian warga itu. Terutama mereka yang datang. Kalau warga yang pindah ke luar, tidak masalah,” tegasnya.


Selain itu pihaknya juga sudah melaksanakan sosialisasi, pembinaan dan pengayoman kepada RT/RW agar lebih mengawasi masyarakatnya. Termasuk melakukan pendataan ulang terhadap rumah kost, kontrakan dan warga pendatang baru.

Masyarakat Jangan Apatis


Sementara itu, Komandan Kodim 1207 Pontianak Letkol Inf Jacky Ariestanto mengimbau seluruh masyarakat Kota Pontianak  untuk menjadi masyarakat yang perduli terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab telah ada seorang warga Pontianak Utara yang tidak diterima lantaran pernah ikut dalam aliran sesat Gafatar.

“Ini yang ikut warga Kota Pontianak loh, jika penduduk luar bisa kita selesaikan dengan mengembalikannya ke tempat asalnya. Nah untuk ini kan tidak mungkin diusir,” ujarnya dalam silaturahmi bersama Ketua RT, RW dan tokoh masyarakat Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara di Jalan Madyosari 2, Minggu (31/1) malam.

Dalam silaturahmi tersebut dia menyampaikan bahwa warga Kota Pontianak tersebut telah diusir. Walikota Pontianak menyerahkan hal itu pada pihaknya. “Saat ini yang bersangkutan berada di Kodim,” jelasnya.

Dikatakan Jacky, yang bersangkutan merupakan lulusan Sekolah Tinggi Islam. Untuk itu diminta warga Kota Pontianak terlebih RT/RW serta tokoh masyarakat untuk perduli terhadap lingkungan sekitar, sebab lanjut dia banyak ditemukannya anak hilang kemudian kembali dengan ideologi yang berbeda.

“Jangan menjadi masyarakat yang autis atau apatis tidak perduli dengan aktivitas anaknya. Terus anaknya hilang ternyata mengikuti aliran sesat,” jelasnya.

Selain itu dia juga mengimbau untuk masyarakat muslim menghidupkan kembali pengajian, sedangkan bagi penganut Nasrani sebaiknya mengadakan kumpul rohani dan itu semua harus dikoordinasi dari pihak RT/RW setempat. “Untuk RT-RT yang merupakan garda terdepan terus pantau dan memelihara pembangunan sekitar,” ujarnya.

Sementara, anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi yang menginisiasi kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan silaturahmi antar RT/RW, tokoh masyarakat sengaja digelar guna menyampaikan secara langsung kepada masyarakat, khususnya garda terdepan yakni RT/RW serta tokoh masyarakat.

“Akhir-akhir ini informasi terkait teroris, radikalisme serta gonjang ganjing aliran sesat menyebar luas di masyarakat, dan mereka membutuhkan informasi yang betul-betul akurat dan ini langsung disampaikan oleh Dandim dan Kapolresta Pontianak, agar mereka paham apa yang harus dilakukan,” ujar Herman.

Dandim serta Kapolresta Pontianak menyampaikan secara langsung pada para RT/RW serta tokoh masyarakat terkait pentingnya mencermati memahami apa yang terjadi disekitar. Sebagai garda terdepan peran RT/RW yakni memahamai para pendatang yang menghampiri kawasannya.
“Bagaimana orang-orang yang kos, atau ngontrak rumah, cek  memiliki KTP atau tidak. Itu semua untuk mencegah radikalisme dan lainnya,” jelasnya.


Aparat TNI maupun Polri bertugas dalam mengamankan situasi kondisi masyarakat setempat. Dan hal itu akan mudah jika semua pihak, stakeholder dan masyarakat secara bersama mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan. “Semua masyarakat menolak beragam bentuk ajaran sesat. Mari tingkatkan komunikasi, silaturahmi , semua itu demi mudahnya kita mendeteksi jika ada yang tidak sesuai dengan ajaran agama,” ajaknya. (bls/yoo/ind)