Terdakwa Penganiaya Veronica, mahasiswi STIE Widya Dharma Pontianak Akui Perbuatannya

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 2268

Terdakwa Penganiaya Veronica, mahasiswi STIE Widya Dharma Pontianak Akui Perbuatannya
Mahasiswi Widya Dharma, Veronica (22) ketika masih dirawat di RS Kharitas Bhakti Jumat (13/11) akibat dianiaya diduga oknum PNS Pemkot Pontianak. (DOK. SUARA PEMRED)
PONTIANAK, SP - Rinaldi Sijabat, terdakwa kasus penganiayaan terhadap Veronica (22), mahasiswi STIE Widya Dharma Pontianak, kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Kamis, (25/2).

Pada sidang ketiga ini, terdakwa mengakui perbuatannya di depan para hakim.
Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Rita Komalasari, didampingi dua hakim anggota, Jauras dan Retno, memberikan sejumlah pertanyaan kepada terdakwa.

Meski mengaku, terdakwa berdalih perbuatannya itu dilakukan lantaran kesal dengan korban yang saat itu mengeluarkan kata-kata tidak sopan kepadanya, hingga membuatnya emosi. Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rudi, usai persidangan mengatakan, sesuai dengan fakta yang ada dalam persidangan, terdakwa telah mengakui perbuatannya, dan menyesal telah melakukan itu kepada korban.
“Menurut terdakwa, perbuatan itu dilakukan kerena spontan akibat kelelahan lembur kerja,” kata Rudi.

Rudi menuturkan, sidang selanjutnya akan dilaksanakan pada 3 Maret 2016 mendatang dengan agenda pembacanaan tuntutan. 
Soal pasal yang dikenakan, Rudi mengatakan yang bersangkutan dikenakan pasal 351 ayat 1 dengan ancaman pidana penjara dua tahun delapan bulan dan ditambah dengan pasal penghinaan yakni pasal 310 dengan ancaman pidana penjara sembilan bulan.

Sementara itu, Kuasa Hukum Veronica, Stepanus Paiman mengatakan, ada yang aneh dalam persidangan kali ini, khususnya pada pengenaan ayat oleh JPU kepada terdakawa. Dimana, saat proses pemeriksaan di Polsek Pontianak Selatan, terdakwa saat itu yang masih berstatus sebagai tersangka dikenakan pasal 351 ayat 2 yang ancaman pidana penjaranya lima tahun.

Stepanus berharap hakim dapat melihat perkara tersebut secara adil dan dapat memutusakan vonis maksimal, yakni melebihi tuntutan jaksa. “Kalau memang putusanya sangat meringankan tentu kami tidak akan tinggal diam, biarkan jaksa banding tapi kami akan mengambil langkah melaporkan jaksa ke Jaksa Pengawas dan Hakim ke Komisi Yudisial dengan bukti-bukti yang ada,” ungkapnya.

“Minimal ada gerakan simpatik dari kampus entah memberi dukungan moril kepada korban atau apalah namanya sehingga korban merasa mendapat perhatian dari kampus tempat ia menuntut ilmu,” tutupnya.

Sebelumnya, jaksa dan hakim yang menangani kasus penganiayaan Veronica, juga didesak tidak melakukan Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN). Pasalnya, terdakwa yang merupakan PNS Pemkot Pontianak ini sempat mengaku mengenal penegak hukum yang memproses kasusnya.

Desakan ini dilakukan dengan menggelar aksi unjuk rasa di Pengadilan Negeri (PN) Pontianak oleh puluhan massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Pencari Keadilan, Kamis (18/2) lalu.    
Para pengunjuk rasa saat itu membawa atribut berupa kertas yang bertuliskan, penganiaya Veronica harus ditahan kembali dan diproses sesuai hukum berlaku. “Kami minta terdakwa ditahan. Kami minta Jaksa cabut penangguhan penahanan,” tegas

Bambang selaku Ketua Forum Masyarakat Mencari Keadilan. Unjuk rasa dilakukan setelah mendapat informasi bahwa Rinaldi Sijabat selaku terdakwa penahannya ditangguhkan kejaksaan.

Kasus ini naik meja hijau berawal dari penganiayaan yang dilakukan terdakwa terhadap korban Veronica pada Senin (9/11/2015) malam lalu.  (Kalbar) menjadi korban penghinaan dan tindak kekerasan dari seorang laki-laki pengemudi mobil KB 777 HX.

Ketika itu Veronica yang baru saja keluar dari area kampus STIE Widya Dharma, dicaci-maki, diludahi, dan dipukuli hingga hidungnya berlumuran darah.

Terdakwa yang saat itu mengendarai mobil KB 777 HX, marah dan emosi karena korban tak bisa dengan segera memberi jalan kepadanya yang telah berkali-kali membunyikan klakson. Akibat dari perlakuan ini, Veronica harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Kharitas Bakti Pontianak. (yrs/ind)