Kisah Nestapa Mahasisiwi IKIP PGRI Pontianak

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 2493

Kisah Nestapa Mahasisiwi IKIP PGRI Pontianak
TERANCAM DROP OUT - Nia Mariana (22) bekerja keras demi bisa bertahan kuliah di IKIP PGRI Pontianak. Gadis asal Bengkayang ini berinisiatif mencuci pakaian teman-temannya karena tinggal gratis di rumah sewaan mereka. Selain itu, tiap pagi Nia menjual sin

Cuci Baju Sesama Mahasiswi dan Jual Singkong


Keberadaan Forum  Relawan Kemanusiaan Provinsi Kalimantan Barat sudah sangat terasa kiprahnya di kalangan rakyat jelata di Bumi Khatulistiwa.  Bekerja ikhlas selalu tertanam di lubuk hati kalangan pengurus dan anggota forum ini. "...kasihilah sesama manusia, seperti kamu mengasihi dirimu sendiri," demikian tertulis dalam Matius 22:39.
 

Adapun  tugas-tugas kemanusiaan yang dilakukan oleh Forum Relawan Kemanusiaan Provinsi Kalimantan Barat ini, selalu menggoreskan kisah nestapa dari kalangan wong cilik. Sebutlah kisah memilukan yang dialami oleh Nia Mariana (22), mahasiswi Semester IV Jurusan Bahasa Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Repulbik Indonesia (IKIP PGRI) Kota Pontianak.


Perempuan muda nan ayu ini terancam putus kuliah lantaran tidak ada biaya. Pekan lalu, pasca meninggalnya sang ayah, Yakobus Japen di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soedarso, Kota Pontianak, pekan lalu, Nia sempat putus asa.

Bukan hanya kuliahnya yang terancam drop out. Melainkan juga tentang biaya perawatan di rumah sakit itu serta biaya pemulangan jenazah sang ayah ke kampung halamannya di Desa Muhi Riam, Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang.   Sang ayah adalah tulang punggung keluarga. Keluarga hanya mengandalkan nafkah dari lelaki pekerja keras yang akhirnya dipanggil oleh Tuhan untuk selama-lamanya itu. Di tengah suasana sedih,

Nia melalui pesan singkat kepada Suara Pemred, Sabtu (12/3), mengucapkan banyak terimakasih kepada Forum Relawan Kemanusiaan Provinsi Kalimantan Barat termasuk ketuanya, Bruder Stephanus Paiman OFM Cap yang sudah membiayai pemulangan jenazah ayahnya dari Pontianak.   Nia mengaku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi andai tidak dibantu oleh Forum Relawan Kemanusiaan Provinsi Kalimantan Barat. Memang, selama di rumah sakit, biaya perawatan Yakobus ditanggung oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS).   

 Tapi saat dinyatakan sudah meninggal dunia, masalah pun muncul terkait biaya formalin dan memandikan jenazah sebesar Rp2,5 juta. Belum lagi dengan ongkos ambulans untuk memulangkan jenazah ayahnya ke kampung halaman.   "Dalam keadaan kalut karena tidak punya apa-apa lagi, puji Tuhan,  ada uluran tangan dari para dermawan melalui Forum Relawan Kemanusiaan Provinsi Kalimantan Barat," ujar Nia terisak haru. 

 Hanya saja, masalah kemanusiaan yang dialami Nia tentu saja tak hanya menjadi tugas forum tersebut. Pemerintah setempat, yakni Pemkab Bengkayang seyogytanya ikut peduli akan nasib warganya.   Bruder Paiman ketika dikonfirmasi menjelaskan,  butuh uluran tangan kalangan dermawan lain untuk membantu Nia termasuk dari Pemkab Bengkayang dan Pemprov Kalimantan Barat.
"Paling tidak untuk membantu Nia supaya bisa melanjutkan kuliahnya  di IKIP PGRI Pontianak," katanya ketika ditemui menjelang keberangkatan jenazah ayah Nia ke Desa Muhi Riam, pehuluan Sungai Ledo, Kecamatan Ledo.
 

Menurut Bruder Paiman, Nia terbilang nekat  supaya tetap kuliah. Nia selama ini ternyata nekat menumpang di sebuah rumah yang disewa oleh rekan-rekannya sesama mahasiswi di Jalan Purnama II, Gang Nurul Hasanah, Pontianak.   Nia sadar betul dirinya berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Karena itu, selama dua tahun tinggal di situ, Nia juga berinisiatif mencuci pakaian rekan-rekannya sesama mahasiswi agar bisa makan dan minum. Bahkan saban senggang kuliah, Nia menanam sayur-mayur di lahan sekitar rumah tersebut. Ini dilakukannya supaya bisa menghemat biaya membeli sayur-mayur.

Demikian pula, sebelum berangkat kuliah, Nia selalu menggoreng singkong yang kemudian dijual di kampus.     Nia lahir dari pasangan Yakobus dan Septiana Kutik di Desa Muhi Riam, Kecamatan Suti Semarang, 6 Agustus 1994. Nia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar negeri di Kendaik, sekolah menengah pertama negeri di Suti Semarang, dan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 di tempat yang sama.   

 Saat duduk semester I di SMA Negeri 1 Suti Semarang, Nia meraih juara I, dan meraih juara II  di semester II. Di kelas II, Nia selalu meraih juara III. “Waktu kuliah, prestasi akademiknya di  semester IV Jurusan Bahasa Inggris IKIP PGRI, Nia mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,23.  Tiap semester Nia membutuhkan biaya mendaftar ulang Rp 2.9 juta, di luar biaya kos, makan, minum, buku, pakaian dan transportasi,” ungkap Paiman.  

Bruder Paiman mengakui, Nia merupakan representatif profil masyarakat  pedalaman yang ingin maju. Kalau memang ada dermawan yang terketuk hatinya membantu, Nia bertekat pulang kampung untuk mengabdikan ilmunya usai menamatkan kuliah.
  Keinginan Nia pulang kampung, menurut Bruder Paiman, karena banyak anak setempat berusia sekolah yang tidak mengenyam pendidikan. 

"Di kampungnya tidak ada huru. Makanya Nia ingin mengajar di sana," ujar Bruder Paiman.
  Minim tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan atau bertugas di kampung halaman Nia. Sebab  dari pusat Kecamatan Suti Semarang untuk  memudiki Sungai Ledo hingga ke Desa Muhi Riam, perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam.

Bahkan jika musim kemarau, lama perjalanan bisa enam-tujuh jam.
  “Ini pula yang sebaiknya menjadi perhatian serius pihak Pemerintah Kabupaten Bengkayang. Pemerintah  setempat harus  berlandaskan rasa keadilan dalam menerapkan program pembangunan di sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan," ujar Bruder Paiman.(aju/pat)