Kota Pontianak Lahan Basah bagi 'Gepeng' Dulang Rupiah

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1831

Kota Pontianak Lahan Basah bagi 'Gepeng' Dulang Rupiah
Pengemis berada diruas Jalan Raya di Kota Pontianak, Kalbar. (SUARA PEMRED/ YODI RISMANA)
PONTIANAK, SP - Aktifitas anak jalanan, gelandangan dan pengemis (Anjal-Gepeng), marak di Kota Pontianak. Pontianak menjadi lahan basah bagi para pengemis untuk mendulang rupiah.

Meski telah ditertibkan dan dipulangkan ke daerah asal, para pengemis tak kapok dan kembali lagi ke kota ini. 
Kondisi ini membuat resah dan mengganggu ketertiban umum. Upaya penertiban pun kerap dilakukan oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Pontianak dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Mereka yang terjaring tak hanya berasal dari Kota Pontianak, namun juga dari luar provinsi. Dalam operasi razia pengemis yang digelar Minggu (27/3) malam misalnya, sedikitnya 14 orang pengemis diamankan petugas. Para pengemis tersebut tak hanya warga asli Pontianak, 13 di antaranya berasal dari Provinsi Madura.

Setelah didata, mereka ditampung sementara di Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT) Dinsosnaker, Jalan Ampera Pontianak untuk dibimbing dan dibina. Yulis Kurnia (41), satu di antara pengemis yang juga merupakan seorang difabel mengaku, sengaja datang ke Kota Pontianak untuk mengemis karena tergiur keuntungan memperoleh uang.

Ini merupakan kali kedua dirinya terjaring razia sejak kedatangannya pertama kali pada 2015 silam. Bersama tiga rekannya, dia berangkat dari kampung halaman menggunakan kapal laut. “Saya orang cacat, saya kerja bantu keluarga. Anak saya tiga di kampung, di Sumenep,” katanya sambil menangis, Selasa (29/3).

Yulis mengatakan, suaminya hanya seorang tukang jahit yang berpenghasilan Rp 15 ribu per hari. Itu pun jika ada yang memakai jasanya. Semua anaknya bersekolah, yang paling tua sudah SMA.

Di Kota Pontianak, dia mengontrak rumah bersama rekan-rekannya di daerah Siantan. Setiap hari, mulai dari subuh hingga pukul 10 malam, dia mengemis di kawasan Pasar Sungai Raya.

Hasil yang diperolehnya dari mengemis tak sedikit. Dalam sehari, Yulis mampu mengantongi uang Rp 70-90 ribu. Jika dikalkulasikan jumlah penghasilan terendahnya dengan jumlah hari dalam sebulan, paling tidak Yulis mengantongi Rp 2,1 Juta. “Sehari dapat Rp 70-90 ribu, tergantung orang yang kasi. Saya bukan penjahat, saya juga mau bebas,” ujarnya.

Uang hasil mengemis tersebut sebagian dia kirim ke kampung halaman di Sumenep. Setiap bulan dia rutin mengirim sebesar Rp 500 ribu. Yulis juga biasa menghubungi keluarganya di kampung dengan menggunakan ponsel.

Selain Yulis, ada pula Hanifah (35), pengemis asal Pamekasan, Madura. Hanifah sudah empat kali terjaring razia. Ia pertama kali mengemis di Kota Pontianak pada 2009. Dirinya tak kapok mesti pernah ditertibkan.

Setelah dipulangkan ke daerah asal, dia kembali lagi ke Kota Pontianak. Hanifah bisa dibilang memiliki cukup pengalaman menjadi seorang pengemis. Dia pernah mengemis di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Tapi, mengemis di Kota Pontianak menurutnya jauh lebih besar penghasilannya dari tempat lain.

Di Kota Pontianak, Hanifah biasa mengemis di Pasar Kemuning dan Pasar Jeruju. Sebagaimana Yulis, Hanifah biasa diantar tukang ojek menuju lokasi mengemis. Dia juga mengaku setiap bulan mengirimkan uang pada keluarganya di kampung halaman.

“Saya tinggalnya di Tanjung Hilir, Gang Perintis. Tinggal sama tuan rumah, biasa bayar sewa Rp 150 per bulan,” katanya.

Hanifah bersama rekannya yang sama-sama datang dari Pamekasan, kini sudah 11 hari menginap di PLAT Dinsosnaker Pontianak. Mereka mengeluh dan meminta untuk segera dibebaskan. Kepala Dinsosnaker Kota Pontianak, Aswin Djafar mengatakan, 14 pengemis tersebut diamankan dari sejumlah tempat.

Di antaranya, Pasar Mawar, Pasar Flamboyan, Pasar Nusa Indah, Pasar Dahlia, Pasar Kemuning dan di beberapa ruas jalan.

Dia menegaskan akan menjerat para pengemis asal luar Pontianak ini dengan Pasal 504 ayat 1 KUHP, dengan ancaman kurungan paling lama enam Minggu.

“Kita akan menjerat mereka dengan pasal 504 ayat 1 KUHP, dengan ancaman kurungan paling lama enam Minggu. Kita juga sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” kata Aswin.

 Dinsosnaker Pontianak sudah pernah memulangkan sejumlah pengemis ke daerah asalnya. Tapi ternyata mereka kembali datang ke Pontianak. Aswin menduga, ada oknum warga yang mengkoordinir para pengemis tersebut. “Ini sesuai arahan Pak Wali untuk menindaklanjutinya ke kepolisian,” singkatnya.

Pihaknya pun akan segera menelusuri oknum warga yang menampung dan mengkoordinir para pengemis asal luar daerah ini melalui kerjasama dengan pihak kepolisian. “Tidak hanya pengemis, sanksi juga akan diberikan pada mereka yang menderma rupiah pada para pengemis yang akan diatur dalam Perda,” katanya.

Menurut Aswin, sejauh ini pihaknya sudah berupaya membuat Pontianak bebas pengemis dengan menggelar patroli secara rutin. Dan dalam sebulan terakhir, sudah 37 pengemis yang dipulangkan ke daerah asalnya.

Untuk 13 pengemis asal Madura ini, rencananya akan dipulangkan ke daerah asal pada 2 April mendatang. “Sementara untuk pengemis asal Pontianak dengan bukti KTP, akan dibina dan diberi Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Program Keluarga Harapan dan Raskin. Tapi dengan syarat tertentu, sehingga mereka tidak lagi miskin,” jelasnya.  

Aswin mengimbau kepada masyarakat Kota Pontianak untuk tidak memberi sumbangan pada pengemis. Jika ingin bersedekah sebaiknya langsung di tempat yang membutuhkan, seperti rumah-rumah ibadah atau di yayasan anak-anak yatim piatu.

“Sesuai dengan aturan, pemerintah sudah melarang masyarakat memberi sumbangan kepada pengemis. Dan tentunya diharapkan masyarakat dapat memahaminya,” terangnya. (bls/yoo/ang/ind)