Penataan Kawasan Kampung Beting, Pontianak Timur Rp 16 Miliar

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 3172

Penataan Kawasan Kampung Beting, Pontianak Timur Rp 16 Miliar
Sejumlah jamaah mendatangi Masjid Jami Pontianak menggunakan transportasi angkutan laut untuk beribadah. Senin (28/7). (SUARA PEMRED/YODI RISMANA)
PONTIANAK, SP- Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membantu Pemerintah Kota Pontianak Rp 16 miliar untuk melakukan penataan kawasan Kampung Beting, Kecamatan Pontianak Timur, agar tidak tampak kumuh dan menjadi obyek wisata baru.

"Untuk tahun ini Kementerian PUPR membantu Pemkot sebesar Rp16 miliar untuk penataan depan Masjid Jami Pontianak dan sekitarnya," kata Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, seusai meluncurkan Program Kampung Keluarga Berencana di Pontianak, Rabu (13/4).

Ia menjelaskan, anggaran sebesar itu, juga untuk penataan bagian dalam Masjid Jami Pontianak dan penataan gertak atau jembatan di kawasan tersebut.

"Tahun ini, untuk penataan kawasan Kampung Beting tersebut sudah mulai dilakukan proses lelang," ungkapnya.

Edi menjelaskan, penataan kawasan Kampung Beting akan dilakukan oleh Pemkot Pontianak dan pemerintah pusat secara berkelanjutan, termasuk penataan pasar tradisional yang letaknya tidak jauh dari Keraton Kadriah Pontianak itu.

"Untuk tahap pertama penataan kawasan Kampung Beting ini dilakukan mulai 2016 dan dilakukan secara berkelanjutan," katanya.

Secara total dari Kemen PUPR menganggarkan bantuan untuk penataan Kampung Beting sebesar Rp 34 miliar dan akan dilakukan secara bertahap, kata Edi.

"Konsep penataannya, yakni tetap 'waterfront city' dengan kota air, yakni membangun jalan di sepanjang pinggir sungai, dengan konsep mengembalikan Sungai Kapuas sebagai bagian depan rumah, bukan belakang seperti sekarang," kata Edi.

Ia menjelaskan, dengan dikembangkannya kawasan Kampung Beting tersebut, maka ke depannya kawasan ini akan menjadi obyek wisata baru, terutama untuk wisata budaya dan air, yakni keindahan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia.

Gencarkan Program KB  
Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Pontianak Timur dicanangkan sebagai Kampung Keluarga Berencana (KB) pertama di Pontianak.

Disaksikan langsung penduduk sekitar, jajaran SKPD, dan Keluarga Keraton Istana Kadriah, di halaman Istana Kadriah, Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meresmikannya, Rabu (13/4) pagi.  

Tingkat kelahiran yang tinggi, kepadatan penduduk, kesejahteraan warga, masalah sosial yang kompleks serta stigma negatif yang lekat dengan Kampung Beting, disebut Edi Kamtono sebagai pertimbangan wilayah tersebut dicanangkan sebagai Kampung KB.  

Oleh karenanya, akan ada program-program pengendalian jumlah penduduk lewat kelahiran, peningkatan kesehatan dan pendidikan, peningkatakan kualitas hidup dengan pemberdayaan dan sejumlah program lain yang akan dilaksanakan secara bertahap di wilayah itu.  

“Masyarakat akan mendapatkan program langsung, juga diharapkan ada perubahan prilaku dan kualitas kehidupan di sana,” kata Edi Kamtono.  

Theodora Pandjaitan, Direktur Bina Hubungan Antar Lembaga BKKBN RI menjelaskan, peningkatan kesejahteraan lewat Kampung KB hanya akan tecapai bila timbul kesadaran pribadi masyarakat.  

Sekarang bukan hanya masalah menjangkau masyarakat yang belum terjangkau. Tidak cukup pula hanya dengan komitmen dari pemerintah daerah. Serta dukungan instansi terkait. Akhirnya partisipasi masyarakat yang mau dibangun untuk dirinya sendiri, menjadi hal pokok.

  “Targetnya adalah kampung keluarga berencana, agar keluarga-keluarga tidak hanya sekadar menikah karena lingkungan atau kebutuhan, tapi karena rencana,” jelasnya.  

Keluarga Berencana yang berkualitas bukan hanya tugas BKKBN dan pemerintah daerah yang menciptakan kesadaran manusia untuk sebuah keluarga sejahtera. Tapi juga didukung faktor lain seperti akses infrastruktur dan pendidikan.

Artinya, semua jajaran membentuk lingkaran yang sama dan berpusat untuk melahirkan keluarga yang berencana.   Secara nasional, peran serta masyarakat dengan mengikuti KB, disebut Theodora, baru 54 persen.

Dengan jumlah yang demikian, berarti kesadaran masyarakat juga dapat dilihat. Untuk wilayah Kalimantan Barat sendiri, rata-rata jumlah anak dalam sebuah keluarga sebanyak empat orang.   “Jangan sampai anak yang lahir tidak direncanakan, ini akan jadi beban, khususnya bagi kota Pontianak,” tambahnya.  

Memiliki anak harus dengan rencana matang. Misalkan, tidak melahirkan di bawah usia 21 tahun dan di atas 35 tahun. Selain itu juga harus memikirkan rentang jarak kelahiran, jika terlalu dekat, bisa berbahaya bagi organ reproduksi ibu.  

Sejauh ini, sudah ada beberapa kabupaten yang berhasil menerapkan Kampung KB, hanya saja untuk wilayah Kalimantan Barat, kata Theodora, perlu dipacu kuat. Sebab, angka menikah di usia dini di Kalbar masih tinggi.  

Keberhasilan Kampung KB sendiri bisa dilihat apabila penduduknya sejahtera dan masuk dalam penduduk tumbuh kembang. Yakni, jika setiap keluarga memiliki anak rata-rata dua orang, dengan rasio satu perempuan melahirkan satu anak perempuan. (bls/ant/loh)