Dermaga Penyeberangan Feri di Siantan, Kota Pontianak 'Makan' Korban Jiwa

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 3542

Dermaga Penyeberangan Feri di Siantan, Kota Pontianak 'Makan' Korban Jiwa
Tubuh Nur Hawi (56) yang tercebur ke Sungai Kapuas ditemukan tewas, Kamis (14/4) sore pukul 15.15 WIB. (SUARA PEMRED/ KRISTIAWAN BALASA)
Pontianak, SP – Nur Hawi (56) tercebur ke Sungai Kapuas bersama istrinya, saat hendak naik KM Saluang di dermaga penyeberangan feri di Siantan, Pontianak, Kamis (14/4), sekitar pukul 13.15 WIB.  

Begitu mendengar mayatnya ditemukan, puluhan warga berbondong-bondong menuju tepi dermaga penyeberangan fery Siantan, Pontianak. Nur Hawi, warga Gang Darma Putra 2, Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, ditemukan tepat pukul 15.15 WIB, Kamis (14/4).  

Hujan deras tak menghalangi langkah mereka yang sudah berada di sana, sejak hilangnya Hawi. Ia terjatuh saat hendak masuk ke KM Saluang. Hawi bersama istrinya ingin ke seberang, mengunjungi keluarganya dengan mengendarai becak.  

Wati (31), seorang saksi mata menjelaskan, saat kejadian aktivitas bongkar muat penumpang cukup lengang. Sejumlah mobil dan motor telah lebih dulu masuk. Hanya saja, hujan mengguyur Kota Pontianak sejak jam 12.30 siang.

Ketika kejadian berlangsung, gerimis masih turun.   Saat hendak masuk ke KM Saluang, Hawi berada tepat di belakangnya, sedang mendorong becak. Istrinya berjalan lebih dulu.     Hawi mendorong becak kesulitan untuk mengendalikan laju becaknya, saat hendak masuk ke KM Saluang yang posisinya menurun.

Hujan menyebabkan permukaan jembatan dermaga ke feri menjadi licin.   Hawi berjalan tersendat-sendat. Mencoba mengerem mengikuti laju becak yang didorongnya. Hawi berada di tengah dermaga.

Namun, karena kesulitan mengendalikan laju becak, perlahan Hawi turun semakin ke pinggir kiri.   Istrinya yang lebih dulu berjalan di depan, berusaha menahan laju becak dengan memegang sisi kiri becak. Namun nahas, posisi mereka saat itu sudah berada dekat dengan tepi kiri batas pintu masuk fery.  

Ketika becak ditahan oleh sang istri, becak justru oleng dan sedikit berputar hingga keduanya tercebur ke Sungai Kapuas, tepat di samping pintu masuk KM Saluang. “Becaknya lebih dulu jatuh, lalu diikuti suami, baru istrinya,” jelas Wati.  

Selepas terjatuh, para penumpang dan petugas berusaha menolong. Sang istri berhasil berpegangan di sisi kiri beton dermaga. Warga langsung menarik dan mengangatnya ke atas dermaga.

Hawi hilang bersama becaknya.   Kecelakaan itu membuat feri membatalkan penyeberangan. Penumpang yang sudah masuk ke dalam feri diminta keluar. Aktivitas penyeberangan dihentikan sementara.  

Kejadian itu pun langsung dilaporkan ke Polairud Polda Kalbar. Setelah 15 menit laporan, IPTU Demar Marbun, Kamarnit Kota Tanjung Pulau, segera merapat ke tempat kejadian. Ia membawa 11 personil dengan KP (Kapal Patroli) Maya dan KP Penata.  

Tak lupa, ia menggandeng pihak Basarnas melakukan pencarian. Sejumlah warga pun turun ikut melakukan pencarian. Mereka menyusur bawah dermaga penyeberangan Siantan.   Dua penyelam Basarnas diturunkan.

Pada pencarian tahap pertama, dengan kedalaman 5-8 meter di lokasi jatuhnya korban, hanya ditemukan becak korban yang sudah terkubur setengah. Pencarian pertama memakan waktu kurang lebih setengah jam, tetap dengan guyuran hujan.  

Pada tahap kedua, masih dengan dua penyelam yang sama, lokasi pencarian digeser ke sekitar jatuhnya korban. Berjarak 3-5 meter dari penemuan becak, tubuh Hawi ditemukan salah seorang penyelam dengan lebih dulu menyentuh pergelangan kakinya.  

“Setelah positif bahwa itu adalah korban karena tidak bergerak, segera kita angkat,” ujar Rudiansyah, salah seorang penyelam dari Basarnas.  

Tepat pukul 15.15 WIB, tubuh Nur Hawi diangkat ke permukaan. Pencarian selama kurang lebih dua jam pun menemukan hasil. Rudiansyah mengatakan, arus sungai yang kuat menjadi kendala pencarian, selain keadaan gelap yang menyulitkan jarak pandang.

Sementara faktor hujan tak begitu memberi kendala berarti.   Usai penemuan, IPTU Demar Marbun menjelaskan, kemungkinan penyebab jatuhnya korban, karena kesulitan mengendalikan becak yang didorong. Sang istri yang berusaha mempertahankan becak, justru membuat keduanya sama-sama tercebur ke sungai di tepi kiri pintu masuk KM Saluang.  

“AKB kapal segera membantu menarik istrinya. Karena jarak antara air dengan dermaga tidak begitu dalam. Anggota kita yang ada di lokasi langsung terjun mencari, tapi korban sudah tenggelam,” jelasnya.  

Sementara itu, pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Pontianak, pengelola penyeberangan yang ada di lokasi, enggan berkomentar ketika Suara Pemred meminta keterangan perihal kejadian ini.  

Pelayanan Buruk

Sejumlah penumpang kapal feri di Pelabuhan Bardan-Siantan, mengeluhkan buruknya fasilitas kapal yang dinilai kurang memperhatikan keselamatan pengguna jasa penyeberangan. Kondisi kapal yang melayani penyeberangan di Sungai Kapuas tersebut, dinilai tidak layak.

Zona, satu di antara penumpang, mengaku panik saat menumpangi KMP Gunung Palong milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero). Selain kapasitas kapal yang jauh lebih kecil, kapal tersebut dinilai tidak memperhatikan keselamatan penumpang.

“Saya dari Sambas dan ingin menyeberang menggunakan kapal feri, tahu-tahu kapal yang sekarang jauh lebih kecil dan tidak ditutup. Saya khawatir, kapal juga terbuka tanpa peralatan pengaman,” keluhnya.

Karena desain kapal yang tak memiliki atap pelindung, penumpang terpaksa harus menikmati hujan atau pun teriknya matahari. Kondisi kapal itu jauh lebih buruk dari kapal sebelumnya.

“Inikah layanan PT ASDP yang katanya akan memberikan layanan terbaik. Ini hujan kita harus kena hujan. Nah, jika panas kita kepanasan. Padahal tarif yang kita bayar, sama dengan tarif yang kemarin,” keluhnya.

Selain itu, dermaga yang dilewati penumpang juga licin dan berbahaya, bahkan sempat membuat seorang ibu-ibu bersama anaknya jatuh terpeleset. Hal itu sangat meresahkan para pengguna jasa penyeberangan. “Licinnya dermaga, ini kan juga bahaya,” jelasnya.

Dia berharap, PT ASDP dapat segera memberikan pelayanan sebaik yang dijanjikan, saat penandatangan kerjasama dengan Pemkot Pontianak, beberapa waktu lalu. “Ya semoga PT ASDP ini tidak hanya bicara, kita butuh kenyamanan dalam menggunakan jasa penyeberangan ini,” harapnya.

Tak Aman


Hal senada diungkapkan Sari, warga Pontianak Utara yang kerap menggunakan jasa penyeberangan kapal feri. Dia mengaku layanan yang diberikan oleh pengelola jasa angkutan ini jauh lebih buruk, dibanding sebelumnya.

“Ya Allah, saya pun heran kenapa ini kapal jadi semakin kecil dan tidak terjamin keamanannya. Biasanya kapal yang saya tumpangi sebelumnya lebih besar,” katanya.

Menurutnya, tidak terjaminnya keamanan bagi penumpang bisa terlihat, ketika penumpang berdiri di pintu masuk dan atau pintu keluar. Kapal tak memiliki pengaman apa pun. Jika penumpang terpeleset atau terjatuh, dapat langsung tercebur ke sungai.   


“Tidak safety, masa gerbang untuk naik dan turun tidak ada pengamannya atau pagar rantainya,” ujar Sari.

Jasa layanan angkutan penyeberangan, diakui Sari sangat membantunya untuk lebih cepat sampai di tempat tujuan.
Meski PT ASDP kini menggunakan dua kapal dalam operasional penyeberangan, namun dia sebagai pengguna jasa merasa tidak puas dengan layanan yang ada saat ini.  “Iya memang menggunakan dua kapal, tapi kapalnya kecil dan saya merasa tidak aman,” katanya. (bls/yoo/lis)